Memang tidak mudah "ngestoake" dawuh Kanjeng Nabi untuk tidak membangkang dan melawan sama sekali hal yang di inginkan orang tua. Ada saja mulut yang tiba-tiba komentar terhadap apa yang diperintahkannya.
Padahal perintah itu bukan sebuah dosa. Sementara kita tahu bahwa jika orang tua memerintah kita untuk melakukan sebuah hal yang bukan dosa, maka semestinya kita berupaya untuk melakukannya sebisa mungkin. Inilah trik setan untuk menjerumuskan seseorang kepada perilaku durhaka terhadap orang tua.
Kita semua tahu bahwa prinsip yang berlaku adalah anak perempuan milik suaminya, sementara suami adalah milik ibunya. Maka sebagai anak lelaki sudah semestinya mendudukkan ibu sebagai sosok terpenting dalam hidupnya melebihi apapun.
Bahkan dalam kitab-kitab sampai disebutkan, jika seorang ibu memerintah kita untuk menceraikan istri, maka itu menjadi sebuah hal yang semestinya kita laksanakan.
Namun hal ini tidak berlaku bagi wanita. Bahwa jika saja keinginan ibunya dan suaminya tidak bisa di kompromikan maka ia lebih berkewajiban untuk menurut dengan perintah sang suami. Bukan kepada ibunya.
Sebab wanita itu dimiliki bukan memiliki. Dan lelaki itu memiliki bukan dimiliki. Maka wahai wanita, sadarlah bahwa dirimu milik suamimu, bukan suamimu milikmu. Suamimu milik ibunya.
Tapi kini kita hidup di zaman dimana para suami takut kepada istri. Bahkan para suami dengan suka rela menjadi sosok budak bagi istrinya. Padahal Rasulullah memperingatkan dalam sebuah kesempatan: Ta'isa Abduzzaujah, Celakalah suami yang menjadi budak istrinya.
Cukuplah menjadi pelajaran kisah seorang sahabat yang ketika hendak meninggal, ia sulit ditalqin untuk membaca kalimat tauhid. Hal itu bukan karena ia penjahat, akan tetapi hanya karena ia selalu memenangkan kepentingan istri ketimbang orang tuanya. Sehingga membuat orang tuanya merasa sakit hati.
Padahal ia dikenal sebagai lelaki yang rajin beribadah. Tapi beruntung ia mendapatkan pertolongan dari Rasulullah. Seketika Rasul mendesak orang tuanya untuk memaafkannya, sehingga pada akhirnya orang tuanyapun tak sampai hati untuk tidak memaafkannya. Dan iapun akhirnya bisa mengucapkan kalimat tauhid di akhir hayatnya.
Maka berbakti itu adalah dengan tanpa melayangkan protes sama sekali terhadap kepentingannya. Kecuali bertentangan dengan agama atau sebab ada kemaslahatan bagi orang tua. Seperti tidak menuruti kemauannya sebab tidak baik untuk kesehatannya.
Adapun jika sebab sedikit merepotkan semisal, maka tidak ada baiknya melayangkan protes kepadanya. Seperti jika orang tua ingin ke suatu tempat melalui jalan A, maka bersikeras melewatkannya ke jalan B adalah sebuah protes yang seharusnya tidak dilakukan. Meski mungkin jalan B lebih halus dan nyaman.
Surga itu mahal, maka jangan pernah berharap mendapatkannya gratis tanpa pengorbanan. Dan surga ada di bawah telapak kaki ibu. Kau tahu itu. Maka mengejarnya adalah dengan terus berusaha berbakti dengannya. Meskipun ia sudah meninggal dunia. Kau tahu bahwa berbakti tidak selalu mudah. Maka bersulit-sulitlah dan berpayah-payahlah mengejar keridloanya demi keridloan-Nya.
Semoga kita di beri taufiq untuk menjalankannya.
Kaliwungu, 31 Agustus 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar