Sobat fillah...
Tak henti-hentinya zaman semakin terasa membingungkan. Seseorang semakin hari semakin termakan fitnah yang kini dengan gencar digelar. Manusia yang masih mau berpegang teguh dengan Salafuna sholeh bahkan dituduh sebagai pihak yang kaku dan keras. Kini yang jadi primadona adalah mereka yang begitu enteng merubah hal yang ilegal menjadi legal atas nama toleransi dan kemanusiaan.
Apa lagi penyebab semua itu selain karena faktor dunia. Agaknya pesona kehidupan dunia telah berhasil dengan sempurna meruntuhkan sekian idealisme yang semestinya di pegangi kuat-kuat. Manusia telah kehilangan kesadarannya sehingga tanpa rasa sungkan berani menggadaikan agama demi segepok harta benda.
Al kisah, tatkala dinar dan dirham dicipta, Iblis datang mengambilnya lalu menaruh keduanya di pelupuk mata. Kemudian ia sesumbar, "Engkaulah buah hatiku, mutiara hatiku, melaluimu aku sulut kekejian, dengan bantuanmu aku berhasil mengkafirkan banyak orang, denganmu aku masukkan banyak orang ke neraka. Kiranya cukup membuatku puas kala Ibnu Adam berhasil ku buat cinta denganmu meski tak sampai menghamba padaku."
Oh uang pesonamu memang begitu menyihir. Banyak orang yang akhirnya menghamba padamu. Kiranya Iblis kini begitu senang dan bangga atas jasa besar yang kau berikan. Kau berhasil membuat manusia mengidap virus wahn yang amat berbahaya, mencintaimu dan enggan merasakan mati.
Kini banyak orang yang berani memposisikan diri digarda terdepan sebagai pembela kemungkaran, dan acuh tak acuh kala ada didepannya terhampar kesempatan melakukan kebaikan. Seseorang yang tanpa tedeng aling-aling berbuat sebuah hal yang menyalahi pakem yang semestinya justru ramai mendapatkan dukungan. Sementara kala mereka lihat banyak pihak yang sudah nyata terzalimi mereka justru bungkam tak bersuara untuk membela sama sekali.
Sobat, hidup didunia takkan berlangsung lama. Ada saat dimana kita kembali pada-Nya. Maka apa gunanya memperjuangkan mati-matian sebuah hal yang sebentar lagi akan sirna dengan mengorbankan sekian keindahan-keindahan yang abadi di surga.
Ah kenapa kelihatannya pesona surga sudah tak lagi menggairahkan. Pesonanya memudar luntur waktu demi waktu termakan zaman. Pesona surga dan pahala kiranya telah berhasil digantikan dengan pundi-pundi dunia.
Sepertinya berangkat jamaah tak lebih menarik ketimbang menyelesaikan perkara duniawi yang entah apa. Sepertinya berangkat jum'atan tak lebih menarik ketimbang sepiring nasi rawon yang disuguhkan ketika tahlilan. Kiranya shalat malam tak lebih memesona tinimbang uang tiga ratus ribu upah menjaga gereja.
Saatnya kita bangkit merapatkan shaf untuk menghalau sekian iming-iming yang disuguhkan Iblis sebagai sebuah bentuk tipuan. Hajar nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan.
Robbana taqobbal minna, ya Allah terimalah dari kami (amalan kami).
Salam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar