Kamis, 03 Agustus 2017

Lihatlah Apa Bukan Siapa

Tak mengapa di anggap goblok hanya karena memakai gamis dan jenggotan dari pada merasa cerdas dan pintar menjadi orang yang dipentingkan. Lidah tak bertulang representasi dari hati yang tak kelihatan. Jaga hatimu dengan menjaga lisanmu. 

Jika tak suka memakainya secara pribadi maka itu adalah pilihan, namun jika tidak suka sebab hal itu adalah pakaian identik dengan sebuah kelompok yang kau benci, padahal Sang Kinasih begitu menyukai, maka itu disebut sebagai fanatisme yang berlebihan.

Tidak malukah sama Nabi yang suka memakainya justru kita menghinanya hanya sebab kelompok yang tidak kita suka kemana-mana memakainya.

Kini kita hidup pada zaman yang banyak orang menilai siapa yang berbicara dan mengekspresikan, tanpa memahami substansi apa yang diungkapkan. Sehingga fanatisme buta merajalela. Menilai Sang Idola sebagai sosok yang selalu benar tanpa cela. Dan menilai sosok yang dibenci dengan selalu salah tanpa kebenaran.

Tawasuth itu moderat, moderat itu menghindari fanatisme kelompok. Menilai semuanya dengan miqyas syar'i. Apapun kelompoknya meskipun kelompoknya sendiri, jika berseberangan dengan syariat maka tiada boleh di ikuti. Dan apapun kelompoknya meski bukan kelompoknya sendiri, jika sesuai dengan syariat maka wajib kita ikuti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar