Sabtu, 06 Januari 2018

*Sayyidina Safinah Rodliyallohu Anhu*

Safinah adalah salah seorang pelayan Rasulullah. Ia terkenal dengan nama Mihran. Adapun Safinah adalah julukan baginya.

Menurut suatu pendapat, bahwa julukan Safinah adalah julukan yang disematkan Rasulullah kepadanya -Seperti yang diriwayatkan oleh al Imam Ahmad dengan sanad Hasan- ketika membawa barang-barang, para sahabat Radliyallahu 'anhu melemparkan barang-barang milik mereka di selendangnya. Seolah selendang itu membawa beban lebih dari semestinya.

Nabi alaihis sholatu wassalam bersabda: "Kau bagai Safinah (Kapal)." Sebuah kiasan sebab ia membawa sesuatu yang berat.

Safinah menyatakan "Sungguh jika saja aku membawa beban dua onta, tiga, empat, lima, enam, atau tujuh, maka aku akan tetap membawanya, sebab sabda Baginda."

Sahabat Safinah ini suatu ketika menaiki kapal menyusuri samudera, lantas kapal tersebut pecah. Ia akhirnya bersandar dengan sebuah papan dari pecahan kapal itu hingga terdampar di sebuah hutan.

Ketika ia terdampar di sebuah hutan, ia tersesat, lalu ia melihat seekor Singa. -Orang Arab menyebutnya Abul Harits-. Maka ia memperhatikan Singa itu, dan ia katakan kepadanya:

"Hai Abul Harits, Aku Safinah Pelayan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."

Singa itupun menundukkan kepalanya, menghadap Sahabat Safinah dan membawanya di atas bahu. Ia keluar dengan Singa dari hutan sampai Singa tersebut menunjukkan jalan untuknya.

Selepas itu Singa berbalik sebentar, mengibaskan ekornya, lalu menderum seolah berpamitan dengannya.

Ini adalah seekor binatang buas dan pemangsa, ketika tahu bahwa yang ada dihadapannya adalah pelayan Rasulullah, watak dan karakternya seketika berubah.

ومن تكن برسول الله نصــــــــــرته
إن تلقه الأسد فى آجامها تجــــــمِ
Barangsiapa Meraih Kemenangan Sebab Rasulullah Nabi Pilihan
Bila Singa Di Rimba Menjumpainya Maka Akan Diam Tunduk Padanya

Jumat, 05 Januari 2018

*RAIH ILMU DENGAN BERLELAH-LELAH*

Kita perlu merenungkan, betapa Baginda dalam kurun waktu sepuluh tahun perjuangan, apakah Ia shallallahu 'alaihi wasallam pernah istirahat dan bersantai ria? Jawabannya adalah tidak. Nabi melalui sepuluh tahun itu dengan pertempuran-pertempuran dan pengiriman pasukan tanpa kenal lelah.

_Hadzaddin la yunshoru illa bitta'ab_, Agama ini tiada bisa di tolong kecuali dengan lelah dan penat. Dan kalian para Santri takkan pernah meraih ilmu kecuali dengan berlelah-lelah dan perjuangan. _Hadzal ilm la yunalu illa bitta'ab wal jihad._

Seperti kata Para Bijak, _Al Ihtiraq fil bidayah alamatul isyraq finnihayah_. Semangat menyala dikala permulaan adalah tanda terang benderang tatkala di akhir.

Seharusnya kalian yang tinggal di Mesir dalam waktu setahun sampai empat tahun disini tak mengenal yang namanya tidur, tak mengenal namanya main-main, apalagi kalian yang dari penjuru negeri yang lain.

Tahun-tahun disini adalah tahun-tahun yang semuanya harus kalian isi dengan berlelah-lelah dan berjuang sampai kalian kembali ke Negeri kalian menjadi sebenarnya orang.

Lalu _Faidza Nazdarallah ta'abana rohimana._ Ketika Allah melihat lelah kita, Allah akan turunkan Rahmat-Nya.

Derajat kemuliaan takkan pernah kita gapai kecuali dengan berlelah-lelah. Madad juga takkan kita raih kecuali dengan berlelah-lelah. Madad itu ada dan lestari di Umat ini. Tetapi terkadang kita sendiri yang memutusnya. Kita tidak perlu sibuk dengan layar ponsel dan tv, tetapi kita harus sibuk dengan berlelah-lelah lalu Allah turunkan madad-Nya.

Tak usah memikirkan rizqi. Allah ta'ala yang akan menanggung rizqi bagi Tholibul ilm dengan tertutup tanpa di duga. Hanya saja syaratnya adalah istiqamah.

_Faidah Dars bersama Maulana Syeikh Abdullah Izzuddin_

*_Ya Robbana, teguhkan langkah kami menyusuri jalan ini tuk raih Ridlo dan Nazhroh dari-Mu_*

Madyafah Syeikh Al Adawy, 10 Desember 2017

Kesederhanaan Seorang Syeikh

Suatu saat selepas Talaqqi, seperti biasa aku segera bergegas berjalan menuju Mahattah. Disana telah menunggu dengan gagah bis merah favorit Masisir /80. Akupun menaikinya. Mencari tempat duduk kosong di suatu sudut. Tak lama kemudian aku dikejutkan dengan sebuah pemandangan. Bahwa Syeikhku yang tadi aku pertama kali belajar kepadanya turut menaiki bis tua renta itu bersama istri dan anaknya yang masih balita. Aku bergegas menghampirinya bersalaman dengannya.

Di sepanjang jalan kenyataan itu membuatku terus saja membathin. Bagaimana seorang Syeikh di sebuah institusi bergengsi dunia dengan keilmuannya yang teramat tinggi, terlebih dalam spesialisasi bidang yang digeluti, melewatkan hidup dengan begitu sederhana. Menjalani kehidupan dengan apa adanya. Ia tak merasa gengsi kemana-mana membaur dengan orang-orang pada umumnya dengan naik bis dengan tempat duduk terbatas yang seringkali mengharuskan seseorang agar rela berdiri di sepanjang perjalanan.

Ternyata masih banyak ditemui kehidupan bersahaja di luar sana. Ternyata masih banyak orang-orang dengan hidup apa adanya. Ternyata masih banyak orang-orang yang tak menuruti gengsi untuk menjadi seperti apa. Ternyata benar, ilmu teramat cukup membuat seseorang mendapatkan kemuliaan hakiki di dunia sebelum akhirat.

Barangkali sudah mulai sulit ditemui orang-orang sederhana dan apa adanya dizaman ini. Kau lihat terkadang seseorang selepas menamatkan pendidikannya dan menjadi orang yang ditokohkan, seringkali harus malu dan gengsi jika kemana-mana memakai angkutan umum. Tak jarang ada saja yang sampai memaksakan diri untuk kredit dan mencicil mobil agar mendapatkan anggapan di masyarakat. Agar mendapatkan label sebagai santri sukses. Oh disini masyarakat tahu bahwa ilmu yang membuat mulia bukan harta.

Syeikhku pernah menyampaikan, bahwa seringkali Allah ta'ala mendesain kehidupan seorang guru sebagai sebuah pelajaran nyata untuk santri. Jika barangkali santri di hadapkan dengan sebuah masalah dalam kehidupan dan hendak mengadukannya kepada guru. Ia akan urung kala tahu bahwa kehidupan yang ia jalani lebih mudah ketimbang apa yang dilalui oleh gurunya.

Ia pernah bercerita bahwa gurunya ada yang hingga usia 90 tahun masih istiqamah mengajar kemana-mana hanya dengan menaiki angkutan umum.

Suatu kesempatan beliau ia juga pernah bercerita, ia bertamu ke rumah gurunya. Disana ia di hadapkan dengan sebuah kenyataan bahwa Istri Sang Guru adalah seorang yang tak bisa di sebut sebagai Shalihah. Sampai ia mengatakan pada gurunya: "Kenapa njenengan memasukkan seekor sapi di rumah ini, kenapa njenengan tidak ceraikan saja dia?" Maka gurunya menjawab: "Ya Akhi, kalau saya ceraikan bagaimana nanti nasibnya, sementara dia sudah tua renta. Cukuplah Allah menjadikan hatiku lapang dan sabar. Sehingga hal ini adalah sebuah rezeki baginya."

Maka benar sekali pesan Gus Yasin waktu beliau berkunjung ke Mesir. Seorang santri harus mampu mempelajari kehidupan seorang guru dan meneladaninya. Jangan hanya mengambil ilmunya saja.

_Ya Rabb, bukakan hatiku untuk melihat hikmah-hikmah-Mu_

Ziarah Orang Sholih

Ketika kita berziarah, maka kita harus yakin bahwa orang yang kita ziarahi itu hidup. Ketika berziarah ke Sayyidina Husein, ke Sayyidah Nafisah, ke Sayyidah Zainab, atau yang lainnya. Anta tazuru al Ahya'. Kau berkunjung kepada orang-orang yang hidup. Kita benar-benar bertamu kepada mereka. Hum ya'rifunak. Mereka mengenal kita. Wa yad'una lak. Mendoakan kebaikan bagi kita. Wa yasfa'una lak. Juga memohonkan syafaat untuk kita. Mereka adalah salah satu penyebab Allah ta'ala menurunkan madad-Nya. Man dakhola bihadzal i'tiqod, A'thohullohu ta'ala dzalik. Barang siapa masuk dengan keyakinan semacam ini, maka Allah ta'ala akan memberikan (madad)-Nya.

نحن في ساحة سيدنا الحسين نزلنا
في رحاب الله لمن أتى لحسين
مدد يا مولانا يا سيدنا الحسين...

Faidah dari Maulana Syeikh Abdullah Izzudin hafizhohulloh.

Madyafah Al-Adawy, 12 Des 2017

*RAIH MADAD DENGAN PATUH TERHADAP GURU*


Suatu saat Sayyidina Ali karromallohu wajhah yang saat itu masih muda hendak di tugaskan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ke Yaman. Rasulullah sendiri yang mengikatkan panji untuknya. Juga memakaikan imamah dengan tangan mulianya.

Sayyidina Ali berkata: "Aku di utus Baginda ke Yaman, Aku berkata pada beliau: "Ya Rasulallah, Engkau mengutusku untuk kaum yang lebih tua dan senior dariku. Aku masih sangat belia. Aku belum mampu untuk memutuskan sebuah hukum."

Maka beliau menaruh tangannya yang mulia di dadaku, lalu berdoa: "Ya Allah teguhkan lisannya dan beri hatinya petunjuk." Beliau pun berpesan: "Jika ada dua orang yang berseteru, jangan sekali-kali kau memutuskan sebuah hukum sampai kau mendengarkan yang lain." Ia pun berangkat dengan 300 pasukan berkuda, membagi para sahabat dan berhasil membawa pulang ghanimah yang banyak dsb.

Cerita ini memberikan pelajaran berharga dimana seorang santri dituntut untuk tunduk dan patuh terhadap titah dari Sang Guru, meski titah tersebut diluar kemampuannya. Sebab dengan berkah taat kepada Guru, madad dari-Nya akan datang menyambut.

Jika seorang santri diminta Sang Guru untuk duduk menggantikannya di majlis semisal, maka tiada jawaban yang pas melainkan kata hadlir. Sami'na wa atho'na. Tidak perlu beralasan ini dan itu. Meski tidak siap, Allah yang akan mengaturnya.

Guruku bercerita "Hal ini sudah seringkali saya buktikan, Suatu hari aku merasa sangat letih sekali, letih pada tingkat dimana mengharuskanku istirahat. Tetapi tiba-tiba Guruku menghubungiku. Ia memerintahkanku untuk Khutbah Jum'ah di sebuah Masjid. Maka saat itu tak ada jawaban lain kecuali jawaban mengiyakan. Dengan kondisi fisik yang sangat letih aku berangkat menuju Masjid yang dimaksud. Tanpa persiapan apapun. Maka tiba-tiba takmir Masjid menyampaikan permohonan maaf, sebab ada orang di desa disana yang memaksa hendak ingin berkhutbah. Maka dengan senang hati aku mempersilahkan. Aku katakan kepadanya inilah justru Madad dari Allah. Karena aku sekarang amat letih sekali. Aku kesini tiada lain hanya kepatuhan terhadap Guruku."

Yakinlah bahwa dengan tunduk dan patuh kepada Guru, Allah ta'ala akan datangkan Madad-Nya.

_Faidah Dars bersama Fadlilatu Maulana As-Syeikh Abdullah Izzudin Hafizhohulloh._

*Madyafah Al-Adawy, 17 Desember 2017*



Sekilas Biografi Sayyidah Nafisah

Sayyidah Nafisah Radliyallohu 'anha dilahirkan di Makkah 11 Rabi'ul Awwal 145 H. Beliau besar di Madinah al Munawwarah dalam ketekunan beribadah dan zuhud dalam agama. Hafal al-Qur'an dan menguasai ilmu Agama. Di didik dalam kesalihan dan ketaqwaan.

Beliau dinikahi oleh Sepupunya yang bernama Ishaq al Mu'taman bin Jakfar as-Shodiq bin Muhammad al-Baqir bin Al-Imam Husain. Darinya beliau di karuniai dua orang anak yang bernama al Qasim dan Ummi Kaltsum.

Nama beliau "Sayyidah Nafisah" di ambil dari kata al Nafasah yang berarti keelokan, sesuatu yang berharga, mulia dan sempurna. Sebab miripnya karakteristik beliau dengan Bibinya yang bernama Sayyidah Nafisah al-Kubro bintu Zaid.

Beliau datang ke Mesir bersama suaminya. Ditemani pula oleh sepupu perempuannya yakni Sayyidah Sukainah. Hingga akhirnya Sayyidah Nafisah menjadi orang yang dikenal dan diterima oleh penduduk setempat.

Sayyidah Nafisah menunaikan ibadah haji sebanyak 20 kali, kebanyakan beliau tunaikan dengan berjalan kaki. Suatu saat beliau bergelayut di kiswah ka'bah,  beliau thawaf dan menangis:

"Oh Tuhan..Kau telah menyenangkan dan membahagiakanku dengan ridlo-Mu kepadaku. Maka jangan Engkau menimbulkan kepadaku sebab yang menghalangiku dari-Mu. Ya Allah, mudahkanlah kepadaku ziarah makam Sayyidina Ibrahim al Khalil Alaihissalam."

Maka beliau sampai untuk berziarah kubur Sayyidina Ibrahim al Khalil, beliau seketika menangis gembira.

Diantara karomah beliau adalah bahwa suatu saat kapasitas air di Sungai Nil surut. Padahal Sungai Nil adalah satu-satunya sumber air utama Mesir. Maka Penduduk mengadukan hal itu kepada Sayyidah Nafisah. Dengan mudah Sayyidah Nafisah memberikan solusi untuk mereka. Beliau memberikan kain kerudungnya dan berpesan: "Lemparkan kerudungku ini ke Sungai Nil." Tidak lama kemudian aliran air Sungai itu menjadi deras dan banyak kembali.

Pada tanggal 15 Ramadlan 208 H. Beliau merasakan sakit yang amat sangat, waktu itu beliau dalam kondisi berpuasa dan istiqamah qiyamulail. Maka Dokter menyarankan untuk membatalkan puasa. Beliau berkata: "30 tahun lamanya aku berdoa agar supaya Allah ta'ala mewafatkanku dalam kondisi aku sedang berpuasa, lantas sekarang aku kau suruh membatalkan puasaku?".

Ketika itu, beliau sedang membaca Al-Qur'an pada sebuah ayat:

لَهُمْ دَارُ السَّلامِ عِنْد َرَبِّهِم ْوَهُوَ وَلِيُّهُم ْبِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal shalih yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 127)

Orang-orang mengisyaratkan seorang Dokter untuk beliau, beliau melantunkan sebuah bait:

"Palingkanlah Dokter dariku, biarkan aku bersama kekasihku. Kerinduanku bertambah pada-Nya, pun cintaku dan kobar rinduku."

Maka beliau berpisah dengan ruhnya. Suaminya ingin memindahkan beliau untuk di makamkan di Pemakaman Baqi'. Namun penduduk Mesir memohon agar beliau di makamkan di Mesir saja, agar penduduk bisa bertabarruk dengannya.

Sang Suami akhirnya bermimpi bertemu Rasulullah, beliau bersabda: " Ishaq, kau jangan menentang penduduk Mesir dalam masalah Nafisah, karena Rahmat turun kepada mereka dengan berkahnya."

Maka beliau dimakamkan di kuburan yang beliau gali sendiri dengan kedua tangannya. Beliau menghabiskan waktu di lubang kubur tersebut untuk beribadah, shalat sunnah, dan membaca al-Quran, ada yang mengatakan bahwa beliau menghatamkan al-Quran dikuburan itu ribuan kali. Itulah makam yang penuh cahaya Rabbany

Pemakaman beliau adalah hari yang disaksikan. Sempurna beliau di shalatkan dan lalu dimakamkan oleh banyak sekali orang yang belum pernah ada sebelumnya.

Sesiapa yang berziarah dimakamnya dikala sedang susah dan hajat mendesak sebaiknya  membaca al Fatihah, surat al-A'la, surat al-Ikhlas, surat al Falaq dan An-Nas  disisi kuburnya. Lantas menghadiahkan pahalanya kepada beliau. InsyaAllah hajatnya dikabulkan Allah.

اللهم انشر نفحات الرضوان عليها و أمدنا بالأسرار التي أودعتها لديها...

Nasr City, 2 Januari 2018

Sekilas Biografi Sayyidah Nafisah

Sayyidah Nafisah Radliyallohu 'anha dilahirkan di Makkah 11 Rabi'ul Awwal 145 H. Beliau besar di Madinah al Munawwarah dalam ketekunan beribadah dan zuhud dalam agama. Hafal al-Qur'an dan menguasai ilmu Agama. Di didik dalam kesalihan dan ketaqwaan.

Beliau dinikahi oleh Sepupunya yang bernama Ishaq al Mu'taman bin Jakfar as-Shodiq bin Muhammad al-Baqir bin Al-Imam Husain. Darinya beliau di karuniai dua orang anak yang bernama al Qasim dan Ummi Kaltsum.

Nama beliau "Sayyidah Nafisah" di ambil dari kata al Nafasah yang berarti keelokan, sesuatu yang berharga, mulia dan sempurna. Sebab miripnya karakteristik beliau dengan Bibinya yang bernama Sayyidah Nafisah al-Kubro bintu Zaid.

Beliau datang ke Mesir bersama suaminya. Ditemani pula oleh sepupu perempuannya yakni Sayyidah Sukainah. Hingga akhirnya Sayyidah Nafisah menjadi orang yang dikenal dan diterima oleh penduduk setempat.

Sayyidah Nafisah menunaikan ibadah haji sebanyak 20 kali, kebanyakan beliau tunaikan dengan berjalan kaki. Suatu saat beliau bergelayut di kiswah ka'bah,  beliau thawaf dan menangis:

"Oh Tuhan..Kau telah menyenangkan dan membahagiakanku dengan ridlo-Mu kepadaku. Maka jangan Engkau menimbulkan kepadaku sebab yang menghalangiku dari-Mu. Ya Allah, mudahkanlah kepadaku ziarah makam Sayyidina Ibrahim al Khalil Alaihissalam."

Maka beliau sampai untuk berziarah kubur Sayyidina Ibrahim al Khalil, beliau seketika menangis gembira.

Diantara karomah beliau adalah bahwa suatu saat kapasitas air di Sungai Nil surut. Padahal Sungai Nil adalah satu-satunya sumber air utama Mesir. Maka Penduduk mengadukan hal itu kepada Sayyidah Nafisah. Dengan mudah Sayyidah Nafisah memberikan solusi untuk mereka. Beliau memberikan kain kerudungnya dan berpesan: "Lemparkan kerudungku ini ke Sungai Nil." Tidak lama kemudian aliran air Sungai itu menjadi deras dan banyak kembali.

Pada tanggal 15 Ramadlan 208 H. Beliau merasakan sakit yang amat sangat, waktu itu beliau dalam kondisi berpuasa dan istiqamah qiyamulail. Maka Dokter menyarankan untuk membatalkan puasa. Beliau berkata: "30 tahun lamanya aku berdoa agar supaya Allah ta'ala mewafatkanku dalam kondisi aku sedang berpuasa, lantas sekarang aku kau suruh membatalkan puasaku?".

Ketika itu, beliau sedang membaca Al-Qur'an pada sebuah ayat:

لَهُمْ دَارُ السَّلامِ عِنْد َرَبِّهِم ْوَهُوَ وَلِيُّهُم ْبِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal shalih yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 127)

Orang-orang mengisyaratkan seorang Dokter untuk beliau, beliau melantunkan sebuah bait:

"Palingkanlah Dokter dariku, biarkan aku bersama kekasihku. Kerinduanku bertambah pada-Nya, pun cintaku dan kobar rinduku."

Maka beliau berpisah dengan ruhnya. Suaminya ingin memindahkan beliau untuk di makamkan di Pemakaman Baqi'. Namun penduduk Mesir memohon agar beliau di makamkan di Mesir saja, agar penduduk bisa bertabarruk dengannya.

Sang Suami akhirnya bermimpi bertemu Rasulullah, beliau bersabda: " Ishaq, kau jangan menentang penduduk Mesir dalam masalah Nafisah, karena Rahmat turun kepada mereka dengan berkahnya."

Maka beliau dimakamkan di kuburan yang beliau gali sendiri dengan kedua tangannya. Beliau menghabiskan waktu di lubang kubur tersebut untuk beribadah, shalat sunnah, dan membaca al-Quran, ada yang mengatakan bahwa beliau menghatamkan al-Quran dikuburan itu ribuan kali. Itulah makam yang penuh cahaya Rabbany

Pemakaman beliau adalah hari yang disaksikan. Sempurna beliau di shalatkan dan lalu dimakamkan oleh banyak sekali orang yang belum pernah ada sebelumnya.

Sesiapa yang berziarah dimakamnya dikala sedang susah dan hajat mendesak sebaiknya  membaca al Fatihah, surat al-A'la, surat al-Ikhlas, surat al Falaq dan An-Nas  disisi kuburnya. Lantas menghadiahkan pahalanya kepada beliau. InsyaAllah hajatnya dikabulkan Allah.

اللهم انشر نفحات الرضوان عليها و أمدنا بالأسرار التي أودعتها لديها...

Nasr City, 2 Januari 2018

*MEMBACA SHALAWAT MENGABULKAN HAJAT*

_As-Sholatu Ala Rosulillah mujarrobatun li qodloil hawaij._ Sholawat atas Rasulullah terbukti memiliki faidah untuk mengabulkan segala hajat.

Suatu saat ada seseorang hendak belanja ke sebuah supermarket. Ia menaiki angkutan umum. Sesampainya di supermarket yang ia tuju. Ia amat kaget sebab uang di dalam tas yang ia tenteng ternyata raib. Ia bingung dan sedih sekali. Di tengah kesedihannya, ia teringat gurunya. Ia pun bergegas sowan kepada beliau. Menceritakan kejadian yang ia alami. Ia sampaikan: "Guru uangku sebesar 100.000 pound (kira-kira 75 juta) raib di ambil haromi."

Maka oleh sang Guru ia di perintah untuk membaca shalawat. "Kau baca sholawat sebanyak uangmu yang hilang. 100.000 kali. Kau baca dengan hati yang khusyu dan ikhlas. Mudah-mudahan dengan berkahnya Allah kembalikan uangmu dengan cara-Nya."

Maka ia pun melaksanakan nasehat Sang Guru. Ia membaca sholawat itu dengan berusaha khusyu dan ikhlas. Selepas itu, tak lama kemudian ada orang yang menelepon menjelaskan keberadaan uangnya. Dan singkat cerita, ia pun mengambil uang itu dalam keadaan masih utuh.

Ittafaqna ala qiroatiha kulla yaum alal aqoll mi'ah marroh. Kita sepakat untuk membacanya tiap hari minimal 100 kali. Wa alfa marroh kulla lailatil jum'ah. Dan 1000 kali tiap malam jum'at. Man yattafiq fal yarfa' yadahu. Sesiapa yang sepakat harap angkat tangan.

اللهم صل أفضل الصلاة على أسعد مخلوقاتك سيدنا محمد وعلى آله و صحبه و سلم عدد معلوماتك و مداد كلماتك كلما ذكرك الذاكرون و غفل عن ذكره الغافلون...

Semoga bermanfaat
FaidahDars, 19 Desember 2017
Di tengah dinginnya Kota Cairo
*Madyafah Al-Adawy*
_Syeikhuna Abdullah Izzudin Hafizhohulloh_

*MEMBACA SHALAWAT MENGABULKAN HAJAT*

_As-Sholatu Ala Rosulillah mujarrobatun li qodloil hawaij._ Sholawat atas Rasulullah terbukti memiliki faidah untuk mengabulkan segala hajat.

Suatu saat ada seseorang hendak belanja ke sebuah supermarket. Ia menaiki angkutan umum. Sesampainya di supermarket yang ia tuju. Ia amat kaget sebab uang di dalam tas yang ia tenteng ternyata raib. Ia bingung dan sedih sekali. Di tengah kesedihannya, ia teringat gurunya. Ia pun bergegas sowan kepada beliau. Menceritakan kejadian yang ia alami. Ia sampaikan: "Guru uangku sebesar 100.000 pound (kira-kira 75 juta) raib di ambil haromi."

Maka oleh sang Guru ia di perintah untuk membaca shalawat. "Kau baca sholawat sebanyak uangmu yang hilang. 100.000 kali. Kau baca dengan hati yang khusyu dan ikhlas. Mudah-mudahan dengan berkahnya Allah kembalikan uangmu dengan cara-Nya."

Maka ia pun melaksanakan nasehat Sang Guru. Ia membaca sholawat itu dengan berusaha khusyu dan ikhlas. Selepas itu, tak lama kemudian ada orang yang menelepon menjelaskan keberadaan uangnya. Dan singkat cerita, ia pun mengambil uang itu dalam keadaan masih utuh.

Ittafaqna ala qiroatiha kulla yaum alal aqoll mi'ah marroh. Kita sepakat untuk membacanya tiap hari minimal 100 kali. Wa alfa marroh kulla lailatil jum'ah. Dan 1000 kali tiap malam jum'at. Man yattafiq fal yarfa' yadahu. Sesiapa yang sepakat harap angkat tangan.

اللهم صل أفضل الصلاة على أسعد مخلوقاتك سيدنا محمد وعلى آله و صحبه و سلم عدد معلوماتك و مداد كلماتك كلما ذكرك الذاكرون و غفل عن ذكره الغافلون...

Semoga bermanfaat
FaidahDars, 19 Desember 2017
Di tengah dinginnya Kota Cairo
*Madyafah Al-Adawy*
_Syeikhuna Abdullah Izzudin Hafizhohulloh_