Seseorang akan senantiasa menemukan alasan untuk membenarkan apa yang dilakukannya. Maka, apapun itu, tidak perlu banyak beralasan. Banyak orang yang punya kondisi semacammu yang sangat bisa melakukan sebuah hal yang kau cari alasan untuk tidak mengerjakannya.
Bahkan Allah sudah memiliki argumentasi kuat untuk mematahkan sekian alasanmu. Semisal jika ada orang beralasan bahwa ia super sibuk mencari dunia sampai tak sempat menjalankan shalat. Bahwa Nabi Sulaiman Sang Raja yang super sibuk dengan ummat dan pundi-pundi dunianya adalah orang paling bertaqwa dijamannya. Dan sekian contoh Nabi dan orang-orang dulu yang akan menjadi hujjah atas apapun kondisi yang kau jadikan alasan untuk tidak melakukan kebaikan.
Bahwa kita sebagai anak di tuntut untuk berbuat baik kepada orang tua adalah sangat maklum di ketahui oleh orang paling bodoh sekalipun. Bahwa segala hal yang berkait dengan orang tua bagi kita levelnya adalah penting dan genting. Lebih dari sekedar aktivitas harian, organisasi, urusan duniawi, kuliah, pekerjaan, atau bahkan urusan anak dan istri. Meskipun hal yang menurutmu remeh sekalipun.
Iya urusan anak dan istri. Sebab istrimu adalah milikmu, sementara kau adalah milik orang tuamu. Bahwa Anta wa Maaluka li Abika, kau dan kekayaanmu adalah milik ayahmu.
Apapun itu, jika itu muncul dari mereka dan tidak bertentangan dengan syariat, kita mesti menomor wahidkan mengalahkan sekian pernak-pernik kehidupan lainnya.
Jika kita sedang bekerja, lalu ibu kita butuh pendamping untuk menemani belanja atau sekedar jalan-jalan, apa salahnya jika memang memungkinkan, kita ambil cuti demi menyenangkan hati keduanya. Terlebih jika untuk menemaninya periksa.
Jika kita sedang sekolah, sementara orang tua butuh pendamping untuk menemaninya ke luar kota. Apa susahnya jika memungkinkan, ijin ke sekolah demi membahagiakannya. Tidak usah beralasan nanti ketinggalan pelajaran atau tidak dapat rangking, dls.
Jika kita sibuk mengurus rumah tangga dan sudah punya rumah sendiri, sementara dibanding saudara kita yang lain, rumah kita paling dekat dengan orang tua. Dan kita tahu bahwa orang tua sangat dan sangat senang jika setiap hari kita berkunjung ke rumahnya. Bukankah berkunjung setiap hari kesana adalah sebuah hal yang masih bisa di usahakan?
Jika suatu saat, kita punya mobil, orang tua kita hendak berkebutuhan dengan mobil kita. Apa susahnya untuk mengiyakannya. Meskipun dengan itu kita barangkali harus menyewa mobil, atau naik angkutan umum untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri.
Apa susahnya sebagai anak, berusaha untuk selalu ada untuk orang tua. Apapun itu, jika tidak bertentangan dengan syariat, usahakan tidak berkata tidak atau berkelit, mangkir dengan sejuta alasan yang diada-adakan. Terlebih dalam urusan-urusan yang mendesak. Meskipun dengan itu kita mesti korban apa saja. Korban waktu, tenaga, uang, kesempatan, atau apapun. Meskipun dengan itu, kita perlu mengatur schedule ulang, meng-cancel sekian acara.
Bahkan seharusnya, dalam kapasitas sebagai anak, antar saudara berlomba menyuguhkan perhatian yang besar kepadanya. Bukan malah saling lempar, atau berkelit dengan mengeluarkan sekian alasan sebagai pembenaran. Sama Si Adik saja, pakai punya Kakak saja, dls.
Ya, sebuah ilmu yang berat untuk diamalkan. Tapi tidak jika untuk diusahakan. Mengusahakan untuk menggembirakannya. Berat bahkan sangat berat, terlebih untuk ABG yang ketika jalan-jalan di Mall, pasar atau keramaian merasa malu jika bersama orangtuanya, apalagi jika orangtuanya sampai menggandeng tangannya.
Akhir catatan, Al Jannah Mahi Balasy. Surga itu tak gratis, bung. Kejar surgamu melalui tangan orangtuamu.
8 April 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar