Sobat fillah...
Bahagia didunia itu sederhana. Di kala di suatu pagi kita dapati diri kita dalam kondisi sehat wal afiyat, aman sentosa berada dalam rumah, dan memiliki makanan pokok yang cukup di konsumsi pada hari itu. Maka pada saat itulah kita seolah telah meraih dunia seisinya.
Hidup ini selalu saja silih berganti. Allah ta'ala menciptakan kehidupan yang dijalani seseorang tidak di format dalam satu kondisi saja. Akan tetapi seseorang akan merasakan kondisi-kondisi yang bermacam dikala menjalani kehidupan.
Kadang kala seseorang dalam kondisi tak banyak memiliki uang. Tapi ia tak kehilangan kebahagiaan. Meski makan hanya dengan berlaukan sambal. Meski tidur hanya beralaskan tikar. Meski rumah tak semegah milik orang-orang. Sebab ia tahu bahwa kesehatan dan kesentosaan adalah dua hal pokok untuk meraih kebahagiaan duniawi.
Hidup ini kadang terlihat aneh. Seseorang dikala mengejar sebuah nikmat baru, dikala ia mendapatkannya justru pada saat itulah ia akan kehilangan nikmat lain yang dulu telah ia miliki.
Dikala muda, kita tak begitu punya uang, fasilitas hidup masih serba terbatas, kemana-mana mesti berpanas-panas, akan tetapi fisik sehat dan bugar, melakukan ragam aktivitas begitu semangat dan trengginas, waktu luang begitu banyak terbentang.
Selepas kita memiliki kehidupan mapan, uang banyak gaji besar, justru disaat itulah kita mulai kehilangan waktu luang. Waktu seperti habis hanya untuk mengejar dunia, tanpa pernah perhatian dengan yang namanya bahagia. Pada akhirnya ia sering sumpek, stress nan galau.
Kemudian ia menjadi orang tua yang memiliki anak-anak. Uang dan segenap perangkat duniawi yang katanya membahagiakan seperti pamor, status sosial dan kedudukan, karir dan bisnis sempurna, rumah mewah mobil megah, fasilitas hidup serba lengkap yang semuanya berada dalam genggaman. Disaat itu justru fisik tak lagi trengginas seperti dulu kala muda, badan mulai sering sakit-sakitan, seringkali mengalami galau, stress dan kekhawatiran tingkat akut sebab mengurusi dunianya dan segenap bisnisnya yang bertebaran dimana-mana. Ia mulai sempurna kehilangan sebuah hal yang bernama bahagia.
Maka, apa sebenarnya yang kita cari dalam hidup? Jika bukan beroleh ridlo dari-Nya kelak di surga? Kita tak pernah meminta Allah dilahirkan di dunia, maka sebenarnya kita terlahir adalah untuk sebuah misi demi membahagiakan-Nya. Melalui sekian macam ibadah yang disuguhkan-Nya.
Terkait dunia, seharusnya adalah seperti kata Abuya, Dikala kau tak membedakan antara emas dan batu maka kau adalah sejatinya manusia.
Artinya dikala kita tak peduli apakah kita sedang banyak uang atau justru sedang banyak utang kita terus selalu berusaha menjaga iman, maka kitalah manusia sebenarnya.
Kala kita sedang sehat atau sedang sakit, kita terus berusaha meraih ridlo-Nya, maka kitalah insan yang sebenarnya.
Kala kita sedang bahagia atau malah sedang galau nan nestapa, kita selalu mencoba istiqomah ibadah kepada-Nya.
Terlalu mudah untuk diucapkan, tapi semoga kita mendapatkan taufiq dan dimudahkan untuk melakukan.
Robbana taqobbal minna, ya Allah terimalah dari kami (amalan kami).
Salam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar