Sabtu, 05 Agustus 2017

Memaknai Kemerdekaan

Dahulu para pejuang kemerdekaan dengan tanpa lelah berjuang memerdekakan bangsa dari cengkraman penjajah. Sekian ratus tahun turun temurun mereka terus saja mengobarkan semangat jihad serta menancapkan keyakinan bahwa Indonesia pada saatnya akan merdeka. Sehingga atas berkat Rahmat Allah, Indonesia meraih kemerdekaannya.

Atas berkat Rahmat Allah, kita bisa menarik nafas dengan lega. Tanpa perasaan takut berkecamuk. Atas berkat Rahmat Allah, kita bisa berusaha bekerja dan meraih hasilnya, tanpa takut ada yang mengambil alihnya. Atas berkat Rahmat Allah, kita bisa menjalankan aktivitas dan ibadah dengan tenang, tanpa mendengar suara desingan pistol atom bom dan rudal.

Maka mensyukurinya adalah hal yang semestinya sebagai Muslim kita usahakan. Yakni dengan tidak menggunakan nikmat tersebut sebagai media bermaksiat kepada Allah. Akan tetapi justru memakainya sebagai alat untuk bertaqarrab kepada Allah.

Sebab kita tidak pernah tahu, bisa saja Allah tiba-tiba mencabut nikmat tenang dan tentramnya hidup di bumi pertiwi ini, menggantinya dengan tangis dan air mata, rasa berdebar dan ketakutan, desingan peluru atau bom rudal, jika kita terus saja menggunakan nikmat besar ini sebagai alat bermaksiat kepada-Nya.

Dimana-mana kita melihat para remaja dan orang tua menyambut Hari kemerdekaan dengan hal-hal mungkar. Campur baur lelaki wanita. Aurat terbuka dan menjadi tontonan. Atas nama kemerdekaan mereka rela berlomba melebihi batas toleransi syariat. Atas nama nasionalisme mereka adakan lomba yang justru menyimbol penjajah dan kolonial. Atau seperti lomba makan krupuk yang menyimbol tamak dan kerakusan.

Para pejuang akan menangis melihat Sang penerus mengisi kemerdekaan dengan ragam hal mungkar. Padahal jiwa, raga, dan harta mereka korbankan demi meraih kemerdekaan. Namun para penerusnya justru menggunakannya untuk hal-hal yang memalukan.

Marilah mari, mengisi kemerdekaan dengan menumbuhkan sikap rela berkorban. Ayolah ayo kita berlomba menjadi insan Indonesia yang berprestasi dan membanggakan, menjadi manusia Indonesia yang penuh keberanian dalam menegakkan kebenaran sebagai representasi dari merahmu dan berusaha menjadi manusia yang penuh dengan amal saleh dan berhati suci sebagai representasi dari putihmu. Sehingga para pejuang akan menangis bangga melihat putra putrinya penuh dengan ilmu dan amal, menjadi putra bangsa yang cerdas, saleh dan berakhlaq mulia.

Kita bisa melihat disana di wilayah timur tengah. Anak-anak dan orang tua tak pernah merasa sentosa. Setiap hari perasaan was-was menghinggapi. Setiap saat ketakutan menghantui. Makan tak enak tidur pun tak nyenyak. Apa kita menginginkannya? Atau kita akan berusaha terus bersyukur atas segala nikmat dan Rahmat-Nya?

6 Agustus 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar