Sobat fillah...
Seseorang boleh-boleh saja dilahirkan dari keluarga ningrat, berdarah biru, atau dilahirkan dari keluarga kaya raya, atau memiliki orang tua yang pintar nan cerdas. Sebab semua itu ada, bukan karena pilihan, bukan. Tetapi ingatlah bahwa tak ada satupun bayi yang terlahir mewarisi keilmuan yang dikuasai oleh orang tuanya.
Lantas apa lagi yang mau ia banggakan jika apa yang ada dalam otaknya tak seperti apa yang ada dalam otak orang tuanya? Apa lagi yang mau ia unggulkan jika kualitasnya sama sekali tak mirip-mirip dengan kualitas orang tuanya. Disinilah bagaimana seseorang mesti berikhtiar, kerja keras belajar meraih seperti apa yang diraih oleh orang tuanya. Sebab, faman yusyabih Abahu fama zholam, bukan?
Coba renungkan dalam-dalam wejangan elok dari Sesepuh Lirboyo Simbah Kyai Manab berikut: “Yang penting ngaji! Walaupun anaknya seorang tukang ngarit tapi mau ngaji, ya akan pinter. Anaknya orang alim tapi tidak mau ngaji, ya tidak akan pinter. Yang penting ngaji sing tenanan.”
Maka seseorang siapapun itu, jika ingin memperoleh suatu ilmu tak ada jalan lain kecuali ia harus melakukan ikhtiar ngaji dengan sungguh-sungguh. Atau boleh saja menunggu ilmu turun dari langit, akan tetapi ia perlu masuk terlebih dahulu ke dunia Doraemon. Mau?
Memang jika direnungkan, ada banyak ragam generasi. Ada generasi perintis, ada generasi pembangun, ada generasi pengembang, ada generasi penikmat, dan terakhir ada generasi perusak. Maka jangan sampai kita termasuk dua generasi yang disebut terakhir itu.
Ma kana lillahi dama wattashol
Wa ma kana lighoirillahi fana wanfashol.
Robbana taqobbal minna, ya Allah terimalah dari kami (amalan kami).
Salam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar