Sabtu, 26 Desember 2020

RENUNGAN AKHIR TAHUN


Waktu terus saja bergulir. Kita tidak akan bisa menghentikannya. Sementara sisa usia yang Allah ta'ala berikan untuk hidup di dunia ini semakin berkurang, semakin menipis. Entah tinggal berapa lama lagi jatah kita untuk menikmati hidup di dunia ini.

Dunia adalah tempat untuk menanam. Siapa yang menanam ia suatu saat akan memanen. Maka kita harus berusaha mengisi waktu di dunia ini untuk menanam benih-benih kebaikan. Menyirami dan merawatnya hingga suatu saat kita bisa memanen buahnya kelak di akhirat.

Tak terasa. Kita sudah berada di ujung tahun 2020. Tahun dimana kita banyak belajar arti dari kesabaran. Kesabaran dalam menghadapi ujian pandemi yang hingga kini belum juga usai entah sampai kapan. Ada yang banyak kehilangan pekerjaan, kehilangan orang-orang terdekat. Kehilangan guru, kyai dan ulama. Dan lain-lain.

Sebuah tahun yang mengajarkan kita keikhlasan. Mengajarkan kita tentang kepasrahan. Menyadarkan kita akan kelemahan diri. Mengajarkan kita untuk selalu berusaha bangkit meski dalam kondisi sulit. Tahun yang mendidik kita menjadi pribadi yang kuat dan dewasa. Pribadi yang tahan banting, tidak rapuh diterjang badai kehidupan.

Waktu cepat sekali berlalu. Sepertinya baru saja kemarin kita mengikuti berita-berita seputar pandemi covid-19. Kini kita sudah tiba di sisa-sisa hari. Sudah hampir setahun tak terasa hidup dengan kebiasaan baru.

Kita perlu merenung dan berkontemplasi di sisa-sisa hari ini. Apa yang sudah kita lakukan di setahun yang lalu. Berapa buku yang sudah berhasil kita baca. Ilmu apa saja yang sudah kita pelajari. Apa yang berbeda dari diri kita sekarang dan setahun kemarin. Apakah kita semakin dekat dengan Allah? Atau justru semakin kesini kita semakin kehilangan arah. Jauh dari Tuhan. Dan hanya membuang-buang waktu dengan kegiatan yang tak jelas dan tak produktif. Apakah ilmu yang kita pelajari benar-benar membuat kita semakin takut kepada Allah. Atau justru kita semakin jumawa dengan ilmu kita. Semakin membuat kita besar kepala. Lupa siapa yang memintarkannya.

الوقت إن لم تقطعه قطعك
نفسك إن لم تشغلها بالحق شغلتك بالباطل
Waktu jika kau tidak memenggalnya, ia yang akan memenggalmu.
Dirimu, jika kau tak sibukkan ia dengan perkara hak, ia akan membuatmu sibuk dengan perkara batil.

Dua pesan yang amat penting ini, perlu bersama kita renungkan. Waktu akan habis begitu saja, padahal tugas dan kewajiban terkadang tak terbatas. Maka kita harus menentukan arah berlari. Kemana titik akhir dari semua yang kita usahakan. Jangan-jangan kita ingin berlari ke sebuah tempat ternyata karena satu dan lain hal kita oleng tersesat hilang arah. Dengan mempertimbangkan waktu yang ada yang sangat terbatas. Apa yang bisa kita lakukan dan usahakan?

Dan pesan kedua, tentang pentingnya membuat sibuk diri kita dengan melakukan kegiatan-kegiatan positif yang beragam. Sehingga tidak ada waktu kosong yang membuat kita mengisinya dengan hal-hal tak berguna bahkan negatif. Orang-orang sufi teramat memperhatikan hal ini. Sehingga tiada waktu melainkan disana terdapat wirid yang harus dibaca. Demi menghindari waktu kosong yang membuat kita melakukan hal-hal negatif.

Hari-hari ini juga penting untuk memikirkan apa yang hendak ingin kita capai di tahun mendatang. Buku apa saja yang harus selesai kita baca. Ilmu baru apa lagi yang ingin kita pelajari. Kegiatan-kegiatan apa yang ingin kita lakukan. Target-target kedepan. Harapan-harapan. Ambisi-ambisi. Rencana-rencana. Mimpi-mimpi.

Bukan berarti panjang angan-angan akan tetapi tentang ikhtiar mengisi waktu dengan sebaik mungkin. Ketika kita lengah, ketika kita terjatuh, ketika kita menjadi malas, lalu kita buka lagi rencana-rencana itu, merenungkannya, kita kembali bangkit melawan diri yang malas, melawan hawa nafsu yang mengajak kepada kejelekan. Mengusahakannya agar terlaksana dan terwujud. Sehingga kita tidak menyesal dengan waktu yang bergulir. Karena kita sudah berhasil mengisinya dengan sebaik mungkin. Menanam benih-benih kebaikan untuk dinikmati di hari esok di surga-Nya bersama para Nabi, Siddiqin, Syuhada' dan orang-orang shalih. Ya Robb aamiin.

Semoga hal-hal yang membuat menyesal dan segala bentuk khilaf dan alpa yang kita lakukan di sepanjang tahun 2020, tak lagi kita ulangi di tahun baru mendatang. Semoga Allah ampunkan segala macam dosa yang kita tumpuk dan lakukan sepanjang tahun ini. Dan kita di beri taufiq untuk tidak mengulanginya lagi.

Kita sambut tahun baru dengan semangat berapi-api. Harapan baru. Mimpi-mimpi segar. Menjadi tahun yang penuh berkah. Penuh dengan kebaikan dan ridlo Tuhan. Semoga pandemi segera berakhir.

Cairo, 26 Desember 2020



Memilih Untuk Tidak Memilih


"لا تختر من الأمر شيئاً واختر أن لا تختار وفر من ذلك المختار فرارك من كل شيء إلى الله تعالى وربك يخلق ما يشاء ويختار ما كان لهم الخيرة وكل مختارات الشرع وترتيباته فهي مختار الله تعالى ليس لك منه شيء ولا بد منه"

"Tidak perlu memilih apapun, pilihlah untuk tidak memilih dan larilah dari semua pilihan itu kepada Allah. Tuhanmu yang menciptakan apa yang Ia kehendaki dan yang memilih. Mereka semua sejatinya tak punya pilihan. Semua pilihan-pilihan syara' dan urutan-urutannya semua itu adalah pilihan Allah. Kau tak punya pilihan sama sekali dan mesti begitu."

سيدي أبو الحسن الشاذلي رحمه الله تعالى

Banyak hal di kehidupan ini yang kita sama sekali tidak pernah memilih. Semua adalah pilihan-pilihan Allah. Robb sekalian alam. Yang Maha mengatur dan menentukan. Yang rahmat-Nya lebih luas ketimbang apa saja. Maka pilihan-Nya tentu adalah yang terbaik bagi kita.

Kita tidak pernah memilih di lahirkan dari perut siapa. Apakah orang kaya ataupun orang miskin. Apakah orang berpendidikan atau orang awam. Kita tak pernah memilih di lahirkan menjadi orang Jawa ataupun Sunda. Namun yakinlah bahwa pilihan Allah untuk kita adalah pilihan yang terbaik dan terindah.

Kita tak pernah memilih, terlahir dengan kulit putih ataupun hitam, rambut lurus atau ikal, tak pernah memilih terlahir jelek ataupun tampan. Semuanya adalah pilihan Allah. Dan tentu pilihan-Nya adalah yang terbaik bagi kita.

Maka memilihlah untuk tidak memilih. Berlari menuju Allah dengan pilihan yang telah disiapkan-Nya. Tak ada yang lebih sayang kepada kita melainkan Dia. Tak ada yang lebih bijaksana selain Dia. Tentu pilihan-Nya akan menjadi sebuah hal yang terbaik untuk kita. 

Sebab sejatinya kita tak pernah tahu, sesuatu yang kelihatannya baik menurut kita, ternyata tidak begitu menurut Allah. Dan sebaliknya sesuatu yang jelek menurut kita , ternyata menurut-Nya baik. 

Maka yakinlah bahwa apapun yang sudah dan akan dipilihkan oleh Allah untukmu adalah yang terbaik bagimu. Ridlolah dengan pembagian Allah, kau akan jadi orang terkaya.

Ridlo, ikhlas, pasrah, yakin, husnuzhon. semoga menghiasi hari-hari kita. Menatap masa depan dengan lebih optimis dan bersemangat.

Cairo, 26 Desember 2020

Jumat, 25 Desember 2020

RAHMAT ALLAH




Ada seseorang yang memiliki kecerdasan yang amat hebat. Sekali baca teks ia langsung hafal. Hingga titik komanya dia hafal. Hal itu membuatnya merasa hebat. Muncul sifat bangga diri pada hatinya. 

Sampai suatu hari ia kehilangan penglihatannya. Hal itu membuatnya memerlukan bantuan orang lain ketika ingin mendengar dan memahami suatu ilmu. Dan seketika menyadarkannya. Penyakit bangga diri dan sombong yang dulu muncul pada saat itu langsung lenyap begitu saja. Ia bersyukur diingatkan oleh Allah dan ridlo terhadap ketentuan-Nya yang membuatnya rendah hati tanpa penyakit hati.

Maka wujud rahmat Allah itu beragam. Terkadang Allah memberikan rahmat dengan bentuk yang kelihatannya tidak mengenakkan. 

Seseorang yang di beri sakit, hal itu juga merupakan rahmat Allah sehingga ia bisa menyadari kelemahan diri. Kembali mengingat kebesaran Allah. Beristighfar dan bertaubat, kembali pada-Nya.

Allah adalah Robb sekalian alam. Ia bebas melakukan apa saja yang Ia kehendaki. Ada kaya miskin, sakit sehat, bahagia sedih, pintar bodoh, tampan jelek, galau atau ceria, dicintai atau di benci, dirindukan atau dilupakan, sukses ataupun gagal, dan lain-lain semuanya adalah urusan Allah. Ia berhak mengatur alam ini dengan kehendak-Nya. Dan semua itu merupakan bentuk implementasi dari rahmat Allah

Rahmat Allah didapatkan tidak hanya oleh orang mukmin saja. Allah adalah Rabb sekalian alam. Maka jangan beranggapan bahwa orang kafir tidak mendapatkan rahmat-Nya. 

Jika ada orang kafir sukses dan hidup enak, kemudian di sisi lain ada orang mukmin yang hidupnya sengsara, sulit ekonomi. Maka pada hakikatnya kedua orang tadi dalam curahan rahmat Allah. Buktinya banyak keadaan terjepit, terjatuh, sengsara, yang justru memudahkan seseorang menjadi hamba yang dekat dengan Allah

Bahkan rahmat Allah masih di berikan kepada orang kafir nanti ketika di akhirat. Mereka tidak akan dizalimi sama sekali. Sebab Allah punya rahmat yang berupa keadilan. Dan bentuk keadilan Allah pada orang-orang kafir adalah dengan masuknya mereka ke neraka. 

Maka pada dasarnya tidak mengapa mendoakan orang kafir ketika ia meninggal dunia agar ia mendapat rahmat. Sebab salah satu bentuk rahmat adalah keadilan Allah yaitu memasukkan orang kafir ke neraka.

Cairo, 25 Desember 2020

Kamis, 17 Desember 2020

AYAH, IBU, DAN SAUDARA


Kita tak pernah bisa memilih akan dilahirkan dari perut siapa. Dan aku beruntung dilahirkan di tengah keluarga ini. 

Ayah dan Ibu dengan cinta yang tiada batas. Membesarkan kami dengan penuh kasih sayang dan perhatian. 

Sosok ayah yang sabar dalam mendidik putra-putrinya. Sosok yang lebih suka mengalah berkaitan dengan urusan dunia. Tidak pernah menggunakan kekerasan dalam mendidik. Sosok pengayom yang bersahaja. 

Ibu dulu pernah bercerita, terkadang ayah tak punya uang sama sekali, tapi ia tak pernah sama sekali kehilangan cinta. Uang yang ia miliki hanyalah apa yang ada di saku baju yang ayah taruh di belakang pintu. Terkadang ibu perlu membeli sesuatu, lalu merogohnya dan tak menemukan apa-apa. Terkadang ayah harus meminta bisyaroh madrasah untuk di bayarkan duluan sebab kebutuhan mendesak. Atau tak jarang pada akhirnya ayah harus berhutang. Ibu pernah sampai menjual perhiasan miliknya saat ayah tak punya uang sementara ada anaknya yang jatuh sakit.

Maka dengan cinta sesuatu yang sederhana akan terasa luar biasa, sesuatu yang sulit bisa dirasakan bahagia. Sebab hati yang penuh dengan syukur, ridlo dengan pemberian Tuhan.

Ibuku adalah sosok ibu yang tegar, kuat dan pantang putus asa. Ia adalah sosok pekerja keras. Istri yang amat patuh dengan suaminya. Istri yang ridlo dengan pemberian suami walau sedikit. Sosok ibu yang mau membantu meringankan beban ayah dengan berjualan jajan dan makanan, atau apa saja.

Sosok ibu yang selalu menjaga lisannya dari menyumpahi anaknya. Jika melihat anaknya bandel, yang ia lakukan hanyalah  mendekatkan diri dengan Tuhan, memohon agar hati anaknya di bukakan, memohon agar anaknya terus dalam penjagaan. 

Ibu yang selalu tanpa bosan mendoakan kebaikan bagi seluruh anaknya di setiap shalat. Ibu yang selalu husnuzhon dan positif thinking. Ibu yang selalu bersikap adil kepada anak-anaknya. Mencintai kami dengan kadar yang sama tanpa pilih kasih. Selalu menghendaki kedamaian dan kerukunan. Sosok yang lebih suka mengalah. Menyambung tali yang putus.

Ibuku bukan anak dari kyai. Ia hanya santri desa biasa. Ia tidak hafal al-Qur'an juga tidak bisa membaca kitab arab. Tapi ia adalah ibu yang hebat, pendidik yang luar biasa. Ia bisa mendidik kami hingga kami menjadi orang-orang penghafal al-Qur'an dan pengkaji kitab. Ia bisa mendidik kami sehingga kami bisa menjadi orang yang mencintai ilmu dan ulama'. 

Ibuku sosok yang tegar, dulu ayah meninggal dunia dalam usia yang masih relatif muda. 51 tahun. Meninggalkan kami 7 putra putri yang masih kecil-kecil. Usiaku waktu itu masih sekitar 13 tahun. Dan kakakku sulung masih baru beberapa tahun menikah. Tapi ibu mampu terus optimis mendidik dan membesarkan kami seorang diri. Seorang wanita yang umumnya bertabiat lemah, tapi ibuku kuat. Ibu selalu percaya bahwa anak-anak membawa rizqinya masing-masing. Ibu selalu percaya bahwa Allah akan membukakan jalan bagi mereka yang mau berusaha.

Ibuku sosok yang suka berbagi kepada tetangga, membuat makanan ala kadarnya untuk dibagikan. Sosok yang suka menghormati tamu. Jika ada tamu dari luar kota, ibuku selalu mempersilahkan kepada mereka makan ala kadarnya, atau menginap di kamar atas. Ibuku sosok yang luwes dalam menerima tamu. Ia bisa mengganti logat menjadi logat Cirebon ketika berbicara dengan orang Cirebon. Agar mereka merasa lebih akrab.

Ibu mendidik kami menjadi pribadi yang tidak manja. Aku masih ingat, kakak adikku perempuan, sebelum berangkat sekolah mereka membantu ibu membungkusi nasi bungkus. Dan menyuruh untuk menjualnya di sekolah dengan jajan yang lain. Atau menyuruh melakukan beberapa jenis pekerjaan rumah yang lain kepada kami. Sekarang kakakku menangis kalau mengingat didikan ibu yang membentuknya menjadi pribadi yang mandiri sehingga bisa membuka catering.

Ibuku bukan sosok yang gengsian. Tidak mau terjun ke pasar atau apa. Aku dulu sering pagi-pagi sekali sebelum berangkat ke sekolah mengantarkannya ke pasar, membeli kebutuhan untuk masak atau untuk di jual. 

Ah, amat sulit menceritakan sosok ibu. Ia adalah sosok yang luar biasa. Dan aku beruntung aku terlahir di dunia ini dari rahimnya. 

Dan aku beruntung memiliki saudara, kakak dan adik yang sangat menyayangiku, sangat peduli dan perhatian, tak pernah lelah untuk terus mendukung dan mendoakan. Mereka kini menjadi saudara, orang tua, sahabat, sekaligus guru bagiku.

Kami telah berikrar untuk terus hidup guyup dan rukun sampai kapanpun. Menjaga hubungan persaudaraan dan persahabatan sampai kapanpun. Saling membantu ketika ada dari kami yang kesulitan atau membutuhkan bantuan. Saling berbagi kebahagiaan. Saling menanggung beban bersama. Senasib sepenanggungan. Jika ada masalah, jalannya adalah musyawarah. Berusaha terbuka di depan. Tanpa menyisakan unek-unek di belakang. Kami juga berikrar supaya kelak jika ada di antara kami yang meninggal dunia, kami akan selalu mengirimkan doa dan bacaan al-Qur'an. Kelak di hari kiamat, agar saling menggenggam tangan memberi bantuan.

Mungkin kini kami tidak bisa berkumpul setiap hari. Tapi doa-doa kebaikan antara kami, selalu kami langitkan, di setiap shalat atau di setiap kesempatan. Jika jasad kelihatannya berjauhan, namun sebenarnya ruh dan hati kami selalu bertautan.

Ya Allah, sebagaimana Engkau memberi nikmat, maka tambahkanlah, dan sebagaimana Engkau menambahkan, maka berkahilah, dan sebagaimana Engkau berkahi, maka kekalkanlah.


Cairo, 6 Desember 2020
*Di tulis dengan linangan air mata

Rabu, 16 Desember 2020

Sayyidina Uqbah bin Amir al Juhany

Sayyidina Uqbah bin Amir al Juhany al Mishry Rodliyallohu 'anhu. Seorang sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang alim, faqih, fasih berbahasa, memiliki perangai yang luar biasa. Sahabat yang ikut dalam penaklukan Mesir. Pernah menjadi anggota Ashabussufah di Madinah. Termasuk anggota laskar pemanah yang di perhitungkan.

Spesialisasinya di bidang al-Qur'an amat luar biasa. Belum lagi ia merupakan seorang sahabat yang di karuniai suara yang begitu merdu. 

"Bacakan aku al-Qur'an" kata Sayyidina Umar kepadanya suatu hari. Maka ia pun membacakan untuknya. Maka menangislah Sayyidina Umar demi mendengarkan bacaannya yang demikian indah dan merdu.

Meriwayatkan 55 hadits dari Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam. Suatu saat Ia mendengar Rasulullah di atas mimbar menyampaikan: "Aku tiada khawatir kalian akan berbuat syirik selepasku, akan tetapi aku khawatir selepas ini kalian bersaing demi untuk memperebutkan dunia."

ULAMA KAYA YANG DERMAWAN


Al Imam Laits Bin Saad Bin Abdurrahman al Fahmy, Imamnya Ahli Mesir, seorang Mujtahid Madzhab yang satu kurun dengan Imam Malik. Sahabat Imam Malik. Sosok Ulama kaya raya. Menunaikan shalat fardlu berjamaah selalu dengan berkendara.

Ia miliader yang amat terkenal dengan kedermawanannya. Bahkan sepanjang hayat, ia tidak pernah berkewajiban membayar zakat sama sekali. Sebab setiap kali harta benda datang, ia selalu membelanjakannya untuk orang-orang.

Setiap hari tidak kurang 300 orang miskin ia beri makan. Menunya yang di suguhkan istimewa seperti daging. Dan ia tidak makan baik siang ataupun malam kecuali bersama mereka.

Jika di total setiap tahun ia bisa membelanjakan hartanya hingga 20.000 dinar lebih (sekitar 65 Milyar). Membagi-bagikan hartanya pada siapa saja. Tiada orang yang meminta kecuali ia beri. Tiada orang yang membutuhkan sesuatu, kecuali ia penuhi kebutuhannya.

Suatu hari ada ibu-ibu yang anaknya sakit datang memintakan madu untuk anaknya. Maka ia menyuruh pembantunya agar mengambilkan untuknya 120 ritl madu.

Jika bepergian dengan memakai kapal, ia akan berangkat dengan tiga armada. Satu untuk memasak, satu untuk keluarga, dan satu lagi untuk para tamunya.

Suatu saat rumah milik karibnya terbakar sehingga kitab-kitab miliknya lenyap ditelan api. Maka ia mengirimkan untuk karibnya itu 1000 dinar. (Sekitar 3 Milyar)

Dikala berhaji, Imam Malik mengirimkan untuk ayahnya sepiring kurma muda. Lalu Imam Laits mengembalikan piringnya dengan menaruh diatasnya uang 1000 dinar.

Pada saat wafat. Tiada orang yang tahu akan kewafatannya kecuali ia bersedih. Semua orang merasa kehilangan sosok dermawan yang tiada dua hingga mereka mengatakan: "kamu takkan menjumpai orang yang sepertinya!"

Ada yang mengatakan bahwa ia termasuk dari wali Abdal. Benar saja, karena Maqam wali Abdal hanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki rasa kasih sayang dan kedermawanan yang tinggi.

Darrasa, 10 Desember 2019












Menziarahi Sidi Ali al Khowwasy


Teringat kisah yang di ceritakan oleh guru saya, Abi Ihya' Ulumiddin sewaktu mesantren di Pujon dulu tentang beliau, Sidi Syeikh Ali al Khowwasy. Seorang wali yang setiap harinya bekerja sebagai "al khowwasy" atau tukang anyam, ummi tak bisa baca tulis. Sampai pada titik dimana Sidi Syeikh Abdul Wahhab as-Sya:rony ingkar terhadap kewalian beliau.

Suatu saat di kala berangkat mengajar di al Azhar Sidi Sya'rony melewati bengkel tempat bekerja Sidi al Khowwasy sambil mengatakan: " Mattakhodzalloh min waliyyin jahil." "Allah tiada mengangkat seorang yang bodoh menjadi wali." Maka mendengar itu Sidi al Khowwasy diam saja tak berkomentar.

Beberapa hari kemudian, Sidi Sya'rony teramat sibuk mengajar hingga pulang larut malam. Ia pun mengetuk pintu rumahnya. Terdengar suara istrinya tak mengijinkan masuk karena telah terlambat. Ia merayu istrinya hingga pada akhirnya istrinya mau membukakan pintu dengan syarat si istri menunggangi punggungnya dari pintu rumah hingga ke kamar. Maka ia pun menuruti kata istrinya.

Keesokan harinya seperti hari biasa. Sidi Sya'rony berangkat mengajar melewati bengkel Sidi Ali Al Khowwasy dan berseloroh: Mattakhodzalloh min waliyyin jahil "Allah tiada mengangkat seorang yang bodoh menjadi wali." Maka langsung dijawab oleh Sidi al Khowwasy. Uskut ya khimar Fathimah! "Diam wahai khimar Fathimah." 

Sidi Sya'rony kaget bukan kepalang. Padahal tiada yang tahu kejadian semalam melainkan dirinya dan istrinya saja. Maka ia mulai berfikir dan merenung. Hingga mantap mendaftarkan diri menjadi murid Sidi Ali al Khowwas hingga menjadi Wali besar dengan karya monumentalnya Thabaqat Kubro, dll.

Ust. Syihabuddin Syifa' guru kami juga pernah mengatakan bahwa beliau berdua, Sidi Ali al Khowwasy dan Sidi Sya'rony termasuk dua orang yang sering kali di sebut-sebut Abuya as-Sayyid Muhammad Bin Alawy al Maliki rohimauhulloh di banyak kesempatan. 

Alhamdulillah, direjekikan Allah menziarahi makam beliau di dekat Bab Futuh. Semoga keberkahannya tercurah kepada kita semua.

Ahad, 1 Maret 2020

Bagaimana Kau Bersedih hati?

Bagaimana kau bersedih padahal Allah telah memberikan nikmat Islam kepadamu sementara orang lain sujud kepada selain Allah?

Bagaimana kau bersedih padahal Allah telah menutup dosa dan aibmu sementara orang lain aibnya tersingkap di rumahnya sendiri?

Bagaimana kau bersedih padahal Allah telah memberimu makan, minum, dan tempat tinggal, sementara orang lain rindu dengan sepotong roti, air dan atap yang menaunginya?

Bagaimana kau bersedih padahal pendengaran, penglihatan, panca indera, dan anggota badanmu berfungsi normal sementara orang lain tak menikmati semua itu?

Bagaimana kau bersedih padahal Allah telah memberikan rasa cukup padamu dan tiada butuh uluran tangan orang lain sementara orang lain meminta-minta kepada orang-orang?

Bagaimana kau bersedih padahal kau setiap hari tidur dengan tenang hingga lelap sampai pagi sementara orang lain tak mampu sekejap saja mengatupkan kedua matanya karena sakit?

Bagaimana kau bersedih padahal Allah telah merejekikan padamu pernikahan yang indah, anak turun yang salih salihah, sementara selainmu tak merasakannya?

Maka sebelum kau meminta apa yang kau tak punya, lihatlah apa yang kau punya dan katakan: "Alhamdulillah", dan jadilah bagian dari orang yang di firmankan Allah ta'ala:
﴿ وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ ﴾
Dan sedikit dari hamba-Ku yang bersyukur.

Semoga bermanfaat

Untuk apa musibah-musibah ini?


Semua yang menyakitkan bagimu .. harta benda yang berkurang, kesehatan terganggu, anak-anak tak seperti yang di harapkan, istri tak seperti yang di damba, suami tidak seperti yang di idamkan, pendapatan sedikit, situasi tak bersahabat, semua yang menyakitkan, semua yang membuatmu lelah, semua yang kau keluhkan..

Buat apa hal-hal yang menyakitkan ini?
Kenapa hidup semuanya tidak berupa harta yang melimpah, keindahan, kelapangan dan kesentosaan?
Kenapa harus ada ketakutan?
Kenapa harus ada kemiskinan?
Kenapa ada kematian?
Kenapa ada kegalauan?
Kenapa ada kesedihan?

Jawabannya:
Mobil kenapa dibuat?
Agar dia bisa melesat berlari
Bukankah disana ada rem?
Jadi remnya bertolak belakang dengan tujuan pembuatan?
Mobil dibuat agar bisa berlari akan tetapi ada rem yang menghalanginya berlari.

Rem itu bagus apa jelek?
Bagus, sebab rem bertujuan agar mobil itu selamat, penumpangnya selamat, dan keberlangsungan fungsinya

Kalau kita sudah paham bahwa sakit dan segala hal yang menyakitkan bagimu, segala musibah yang menyebalkan, semua kerisauan yang mencengkram hatimu, segala rasa takut, kemiskinan, kehilangan kemerdekaan, rumah tangga yang menyusahkan, istri yang membuat galau, anak-anak yang menyusahkan hati, segala rasa takut pada hal yang lebih darimu ..
Segala hal yang menyakitkan yang di alami oleh manusia, ia layaknya rem bagi kendaraan. Jika saja tidak ada rem, kendaraan dan penumpangnya tiada akan selamat.

Contoh yang lain:
Seorang anak kecil, kebahagiaannya bersama ibunya, ia kenyang bersama ibunya, merasa aman bersama ibunya, bersih dan wangi bersama ibunya, pakaiannya bersih bersama ibunya, ia akan selalu merasa bahagia jika bersama ibunya, jika ia meninggalkan tangan ibunya dan berlari, harus ada anjing yang menggonggong padanya sampai ia kembali ke pangkuan ibunya

Contoh ketiga:
Seorang anak kelas 4, berkata kepada ayahnya suatu kali: "Aku tak suka sekolah" lalu ayahnya menimpali: "ya sudah tinggalkan saja, anakku!!"
Ia akhirnya benar-benar tak berangkat sekolah, tidur sampai siang, bersantai ria, tak punya kegiatan, tak punya rutinitas, tak punya apa-apa, ia hanya bermain dengan teman-temannya, setiap hari kerjaannya hanya dari toko ke toko, dari kolam renang ke kolam renang, dan dari bioskop ke bioskop.

Ketika ia besar ia mendapati dirinya berbeda dengan teman sebayanya, tak punya pekerjaan, tak punya ketrampilan, tak bisa menikah, tak punya rumah, kerjaannya hanya keluar ke jalanan, miskin, kelaparan, kondisinya mengenaskan.

Ia marah kepada ayahnya dan berkata kepadanya: Ayah, kenapa engkau setuju ketika aku meminta untuk tidak sekolah?
Meninggalkan belajar?
Kenapa kau tidak pukul saja aku?
Kenapa kau tidak bersikap keras saja kepadaku?
Kenapa kau tak memarahiku?

Seperti inilah falsafahnya musibah..

Kau harus tak merasa jengkel dan amarah dikala musibah menyapa
Karena musibah sejatinya adalah rahmat dan kasih sayang dari Allah, akan tetapi ia merupakan rahmat yang tersembunyi
Musibah adalah pintu menuju Allah, yang Allah arahkan padamu karena Ia mencintaimu.

Semoga bermanfaat

Tolak Ukur Kecintaan Allah Kepada Kita

Seseorang terkadang menduga ketika Allah membuatnya kaya, memberikan nikmat sehat padanya, merejekikan rumah megah, kendaraan mewah, punya istri dan anak... menduga bahwa Allah mencintainya.

Orang lain Allah buat ia terhalang, rumahnya kontrak, gajinya tidak mencukupi kebutuhannya, ia tak punya kendaraan, pernikahannya tak berujung bahagia, ia punya anak tapi durhaka.. ia menyangka kalau Allah menghalanginya dan tidak mencintainya.

Dua makna itu keduanya mutlak tidak benar

Allah ta'ala berfirman:
﴿فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ ﴾
"Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku.”

Ini kata orang yang di beri rejeki oleh Allah, seperti ini anggapan dan dugaannya.

Lantas Allah berfirman:

﴿وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ ﴾
Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Tuhanku telah menghinaku.”

Ini perkataan orang yang pendapatannya sedikit, dia berkata: Allah telah menghinaku.

Jawaban telak dari Allah ta'ala untuk keduanya: Sekali-kali tidak!

Artinya, wahai hamba-hambaku, ini semua katamu, ini semua klaim sepihak darimu, pemberianku bukan berarti kemuliaan bagimu, dan tiada memberiku bukan berarti aku benci kepadamu. Pemberianku adalah cobaan dan ketiadaan memberiku adalah obat.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: 
(( لو أن الدنيا تعدل عند الله جناح بعوضة ما سقى الكافر منها شربة ماء ))
Jika saja dunia ini disisi Allah sebanding dengan sayap nyamuk maka Allah tiada akan memberi minum orang kafir seteguk air.

Maka jika ada seseorang yang menikmati kesehatan, bergaji besar, punya rumah, istri dan anak-anak yang membuatnya bahagia, semua itu jelas adalah nikmat dari Allah. Akan tetapi anggapan bahwa Allah memberikan semua itu karena Ia mencintainya maka jawabannya adalah: Sekali-kali tidak!

Sebagian orang berkata: Sesungguhnya Allah ketika mencintai seseorang, Allah akan memperlihatkan kekuasaan-Nya. Maka orang ini berwisata ke barat dan timur keliling dunia, melakukan sekian ragam kemaksiatan dan dosa, lalu ia menduga bahwa Allah mencintainya karena Ia memperlihatkan kekuasaan-Nya kepada-Nya. Jawabannya adalah: Sekali-kali tidak!

Allah itu memberikan dunia kepada orang yang ia cintai dan juga yang tidak ia cintai

Memberikannya kepada Qarun padahal Allah tidak mencintainya
Memberikannya kepada Nabi Sulaiman dan Allah mencintainya
Memberikannya kepada Fir'aun padahal Allah tiada mencintainya
Dan memberikannya kepada Sahabat Abdurrahman bin Auf dan Ia mencintainya

Maka dunia ini tak bisa dijadikan tolak ukur kecintaan Allah atau ketidakcintaan-Nya

Allah mencintaimu, jika kau taat kepadaNya
Mencintaimu, jika kau mengenal-Nya
Mencintaimu, jika kau senantiasa istiqamah di jalan-Nya
Mencintaimu jika kau berbuat baik dengan sesama. Semacam itulah Allah mencintaimu.


Semoga bermanfaat

Beramar Ma'ruf Nahi Mungkar? Penuhi Syarat-Syaratnya


Banyak diantara kita yang semangat amar makruf nahi mungkar. Sebenarnya apakah sebagai muslim, kita semua harus melakukannya?

Ternyata amar makruf nahi mungkar hukumnya adalah fardlu kifayah, bukan fardlu ain yang setiap muslim harus mengusahakannya. Jadi jika ada perwakilan orang yang menjalankannya dalam sebuah komunitas, maka hal itu cukup untuk menggugurkan kewajiban bagi yang lain. 

Tentu kewajiban ber-amar makruf nahi mungkar memiliki aturan mainnya. Jangan hanya bermodalkan ghirah tanpa ilmu lalu semangat berapi-api  hendak melakukannya. Sebab faktor pemicu munculnya fitnah adalah: Orang Alim yang tak tahu malu dan Orang bodoh yang rajin beribadah.

Pertama-tama orang yang hendak melakukannya harus bisa memahami mana perkara yang makruf dan mana perkara yang mungkar. Aneh sekali jika seseorang tak mengerti esensi makruf dan mungkar namun ia hendak mempraktekkannya.

Suatu saat si Udin yang baru hijrah shalat di masjid dengan meletakkan tangannya di atas pusar lalu menjumpai orang di sebelahnya meletakkan tangannya di bawah pusar. Maka selepas shalat ia menegur orang itu: "Mas, shalat mas saya perhatikan masih keliru, yang benar adalah meletakkan tangan di atas pusar seperti saya, bukan di bawah pusar."

Hal ini merupakan potret kedunguan yang menyedihkan. Kita tahu dalam fiqh menurut para Ulama posisi meletakkan tangan terdapat khilaf disana. Hanafi meletakkan tangan di bawah pusar, Syafi'i di atas pusar, sementara Maliki dengan cara Irsal. Lalu apa ada yang keliru dan mungkar sehingga perlu ingkar? Ketahuilah bahwa semuanya tidak ada yang keliru. 

Maka orang awam yang tidak tahu hukum tidak diperkenankan melakukan amar makruf nahi mungkar dalam hal-hal yang tidak mereka tahu. 

Seseorang yang hendak bernahi mungkar sebelum action juga harus memastikan  bahwa perbuatannya tidak menyebabkan kemungkaran yang lebih besar. 

Seseorang hendak memperingatkan geng kampung yang suka minum-minuman keras. Jika nahi mungkar yang hendak ia lancarkan justru menyebabkan jatuhnya korban meninggal dunia sia-sia. Maka niat bernahi mungkarnya harus ia batalkan.

Ia juga harus punya dugaan kuat bahwa misi yang ia galakkan akan menuai hasil. Jika ia ber-amar makruf, maka amar makrufnya berhasil memberikan efek positif kepada sasaran. Dan jika bernahi mungkar, maka hal itu benar-benar mampu menghilangkan kemungkaran.

Terakhir disyaratkan dalam mengingkari kemungkaran, harus dipastikan jenis kemungkaran itu di nilai mungkar tidak berdasarkan ijtihad. Seperti minum-minuman keras, berzina, mencuri, dll. Karena segala sesuatu yang masih dalam koridor ijtihad maka kita dilarang melancarkan hisbah padanya. 

Seperti tentang keharaman mengkonsumsi rokok, banyak Ulama yang menyatakan bahwa hal itu haram, akan tetapi ada sebagian yang memakruhkan. Maka seseorang yang berkeyakinan bahwa hal itu haram tidak diperkenankan bernahi mungkar kepada seseorang yang beranggapan bahwa hal itu hanya makruh.

Wallahu a'lam

Jadilah Pribadi Yang Munshif

Barangkali kita tidak cocok dengan seseorang. Sebab satu dan lain hal. Akan tetapi semestinya kita tetap harus punya sifat inshof. Mengakui kebenaran orang itu dalam sebuah permasalahan yang memang dia benar dalam hal itu. 

Sebab pada dasarnya sudah seringkali kita di ajarkan untuk menilai isi bukan bungkus. Unzur ma qool wala tanzur man qool. Lihat apa yang dikatakan bukan siapa yang mengatakan. Akan tetapi dalam prakteknya kita tak jarang menilai siapa bukan apa. 

Jika yang berbicara adalah figur yang kita cintai, satu fikroh dengan kita, satu almamater atau satu organisasi. Kita akan percaya begitu saja meski dalam kenyataannya apa yang ia sampaikan tak bisa dibenarkan syara'. Atau mencari-cari dalil pembenaran. Atau menakwil redaksi pembicaraan.

Namun jika yang berbicara kebenaran adalah musuh yang tak kita sukai. Kita sulit sekali mengakui bahwa dalam hal ini dia memang benar menurut syara'. Meski dalam banyak hal ia salah.

Imam Malik sudah menegaskan: Kullun yu'khodzu min kalamihi wa yurodd illa shohibu hadzal qobr. Semua orang di terima dan di tolak pendapatnya, kecuali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Maka kita perlu membiasakan menilai apa bukan siapa. Jika itu salah meski yang mengatakan adalah figur separtai atau semanhaj maka dengan gentle kita katakan salah. Dan jika itu benar meski itu datang dari kubu yang berseberangan, kita dengan inshof mengakui bahwa hal itu benar.

Karena seringkali sebab kebencian kita tak mau mengakui kebenaran dan kebaikan lawan. Menganggap semua yang datang darinya adalah salah dan keliru. Dan sebab cinta buta kepada seseorang, membuat kita selalu membenarkan atau mencari pembenaran sebuah hal yang nyata-nyata keliru.

Allah telah memberi tolak ukur dalam menilai sesuatu. Yakni dengan syara'. Maka benar salah ukurannya adalah syara'. Ada kalanya sebuah hal kelihatannya berbeda, akan tetapi semuanya bisa di nilai benar menurut syara', maka tak perlu lagi di perdebatkan. Setiap orang boleh mengambil apa yang maslahat bagi dirinya. Namun disana ada hal-hal tertentu dimana kita tak boleh berbeda. Sisi yang ketika kita berbeda kita maka otomatis di nilai salah. Yaitu sisi yang disepakati Ulama'. Maka dalam titik ini kita harus satu suara. 

Ada sisi-sisi baik yang perlu kita tiru dan pelajari dari semua orang. Satu ormas atau bukan. Bahkan satu agama atau bukan. Berusaha memahami jalan berfikir mereka menjadikan kita bisa lebih mampu menghormati perbedaan dan mengakui kebenaran. Sebab masing-masing di cipta dengan modal kelebihan dan kelemahan. Maka dalam menyempurnakannya kita perlu mengambil yang jernih dan meninggalkan yang keruh. Khudz ma shofa wa da' ma kadar.

20 November 2020





KHASYAH ITU DI ATAS ILMU

Entah terkadang semakin pintar seseorang, justru ilmu yang di milikinya tidak membuatnya semakin takut kepada Allah. Lalu apa gunanya ilmu bertambah tapi justru membuat kita semakin jauh dari Allah?

Ibnu Athaillah mengatakan: "Ilmu jika di sertai dengan rasa takut kepada Allah, maka ia akan menyelamatkan. Kalau tidak, justru hal itu akan membawa bencana."

Dan di al-Quran pun secara tegas dijelaskan:
إنما يخشى الله من عباده العلماء
Kenapa dalam redaksi ayat, Allah tidak mengatakan
العلماء إنما يخشى الله من عباده
Sebab ayat tersebut memberi isyarat bahwa Ulama yang sebenarnya adalah mereka yang mendahulukan rasa takut kepada Allah dari pada ilmu.

Seorang perempuan yang terdidik dari semenjak belia di dampar al Azhar sampai meraih gelar doktoralnya berani meletupkan wacana yang membuat jagat gempar. Bahwa menurutnya keharaman menikahi pria non muslim bagi muslimah tidak ada dasarnya dalam al-Qur'an.

Padahal hal ini merupakan ajaran yang sudah amat maklum di mengerti oleh orang muslim, meski ia tidak mengambil studi agama secara mendalam sekalipun.

Kita semua tahu dan paham. Bahwa seorang pria muslim tidak boleh menikahi wanita non muslim kecuali ahli kitab, yaitu Nasrani maupun Yahudi. Akan tetapi pernikahan wanita muslimah dengan pria non muslim, meskipun itu ahlil kitab, Yahudi maupun Nasrani, apalagi yang bukan ahlil kitab, hal tersebut secara mutlak tidak di benarkan menurut syara'.

Tentu bagi seorang pria muslim, meski hukumnya boleh, menikahi wanita ahlil kitab sebetulnya tidak di rekomendasikan. Sebab pada zaman ini wanita muslimah mudah di jumpai dimana saja. Kecuali ketika ia hendak menariknya untuk memeluk Islam. Maka tak mengapa.

Sebenarnya tanpa memakai dalil sekalipun, keharaman semacam ini sudah di mengerti bahkan oleh orang non muslim. Seperti keharaman daging babi dimana orang non muslim sekalipun tahu dan maklum, bahwa kita di larang untuk mengkonsumsinya.

Lalu mengapa doktor perempuan itu berani dengan gegabah melontarkan wacana yang membawa fitnah? Bukankah ia hafal al-Quran? Azhariyah tentu saja hafal al Qur'an. Namun sepertinya dia kehilangan rasa takut kepada Allah sehingga membawanya lupa bahwa di dalam al-Qur'an ada banyak dalil yang menyebutkan keharaman menikahi pria non muslim bagi wanita muslimah.

وَلَا تُنكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا ۚ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُولَٰئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ

Mereka itu mengajakmu menuju neraka. Maka tiada boleh menikahi orang non muslim secara mutlak bagi perempuan muslimah.

Terkait kebolehan pria muslim menikahi non Muslim Ahlil kitab, Allah berfirman:

الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۖ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَّكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَّهُمْ ۖ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ

Jika dalil demikian tidak di temukan didalam al-Qur'an, maka sebenarnya Ijma Ulama sudah cukup sebagai dalil dalam menentukan hukum. Sebab ia termasuk dalil keempat dalam syariah. Dalam hal ini, para Ulama sepakat akan keharaman menikahi non muslim bagi wanita muslimah.

Imam Syafii dalam kitab ar-Risalah mengetengahkan banyak dalil rasional yang menyatakan sahnya Ijma' semagai landasan hukum. Suatu saat ia ditanya tentang dalil al Qur'annya apa? Maka ia sedih lalu merenung, membaca dalam hati dan mentadaburi berulang-ulang Al-Qur'an sampai empat puluh kali. Lantas kemudian menemukan ayat yg mendukung Ijma' sebagai landasan hukum dalam surat an-Nisa' :
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا (115)

Semoga kita di hindarkan dari ilmu yang justru membuat kita jauh dari Allah. Di karuniai ilmu yang manfaat, penuh rasa khasyah sehingga semakin dekat kepada-Nya.

21 November 2020