Rabu, 30 Agustus 2017

Celakalah Suami Yang Menjadi Budak Istri


Memang tidak mudah "ngestoake" dawuh Kanjeng Nabi untuk tidak membangkang dan melawan sama sekali hal yang di inginkan orang tua. Ada saja mulut yang tiba-tiba komentar terhadap apa yang diperintahkannya.

Padahal perintah itu bukan sebuah dosa. Sementara kita tahu bahwa jika orang tua memerintah kita untuk melakukan sebuah hal yang bukan dosa, maka semestinya kita berupaya untuk melakukannya sebisa mungkin. Inilah trik setan untuk menjerumuskan seseorang kepada perilaku durhaka terhadap orang tua.

Kita semua tahu bahwa prinsip yang berlaku adalah anak perempuan milik suaminya, sementara suami adalah milik ibunya. Maka sebagai anak lelaki sudah semestinya mendudukkan ibu sebagai sosok terpenting dalam hidupnya melebihi apapun.

Bahkan dalam kitab-kitab sampai disebutkan, jika seorang ibu memerintah kita untuk menceraikan istri, maka itu menjadi sebuah hal yang semestinya kita laksanakan.

Namun hal ini tidak berlaku bagi wanita. Bahwa jika saja keinginan ibunya dan suaminya tidak bisa di kompromikan maka ia lebih berkewajiban untuk menurut dengan perintah sang suami. Bukan kepada ibunya.

Sebab wanita itu dimiliki bukan memiliki. Dan lelaki itu memiliki bukan dimiliki. Maka wahai wanita, sadarlah bahwa dirimu milik suamimu, bukan suamimu milikmu. Suamimu milik ibunya.

Tapi kini kita hidup di zaman dimana para suami takut kepada istri. Bahkan para suami dengan suka rela menjadi sosok budak bagi istrinya. Padahal Rasulullah memperingatkan dalam sebuah kesempatan: Ta'isa Abduzzaujah, Celakalah suami yang menjadi budak istrinya.

Cukuplah menjadi pelajaran kisah seorang sahabat yang ketika hendak meninggal, ia sulit ditalqin untuk membaca kalimat tauhid. Hal itu bukan karena ia penjahat, akan tetapi hanya karena ia selalu memenangkan kepentingan istri ketimbang orang tuanya. Sehingga membuat orang tuanya merasa sakit hati.

Padahal ia dikenal sebagai lelaki yang rajin beribadah. Tapi beruntung ia mendapatkan pertolongan dari Rasulullah. Seketika Rasul mendesak orang tuanya untuk memaafkannya, sehingga pada akhirnya orang tuanyapun tak sampai hati untuk tidak memaafkannya. Dan iapun akhirnya bisa mengucapkan kalimat tauhid di akhir hayatnya.

Maka berbakti itu adalah dengan tanpa melayangkan protes sama sekali terhadap kepentingannya. Kecuali bertentangan dengan agama atau sebab ada kemaslahatan bagi orang tua. Seperti tidak menuruti kemauannya sebab tidak baik untuk kesehatannya.

Adapun jika sebab sedikit merepotkan semisal, maka tidak ada baiknya melayangkan protes kepadanya. Seperti jika orang tua ingin ke suatu tempat melalui jalan A, maka bersikeras melewatkannya ke jalan B adalah sebuah protes yang seharusnya tidak dilakukan. Meski mungkin jalan B lebih halus dan nyaman.

Surga itu mahal, maka jangan pernah berharap mendapatkannya gratis tanpa pengorbanan. Dan surga ada di bawah telapak kaki ibu. Kau tahu itu. Maka mengejarnya adalah dengan terus berusaha berbakti dengannya. Meskipun ia sudah meninggal dunia. Kau tahu bahwa berbakti tidak selalu mudah. Maka bersulit-sulitlah dan berpayah-payahlah mengejar keridloanya demi keridloan-Nya.

Semoga kita di beri taufiq untuk menjalankannya.

Kaliwungu, 31 Agustus 2017






Minggu, 27 Agustus 2017

Ta'allam Tsumma Takallam

Ta'allam Tsumma Takallam

Oleh: shabieqelhimam.blogspot.com

Ta'allam tsumma takallam. Belajarlah dulu baru bicara! Sebuah pesan bijak yang seringkali di sampaikan oleh As-Syahid Syeikh Said Romadlon Al Buthy.

Kini kita hidup pada zaman dimana banyak orang dungu berbicara tentang agama. Hanya berbekal kepandaian olah kata, ia sudah bak Kyai kesana kemari menceramahi orang-orang. Hanya berbekal sedikit kuota, di bantu dengan guru tiada tanding tanpa rupa Syeikh Ghoughol, ia mampu menjelma menjadi seorang Dai di mimbar-mimbar.

Apa mereka tak tahu, bahwa agama ini tak  cukup jika hanya dipelajari dengan kursus kilat. Apa mereka tak mengerti, jika agama ini tak bisa hanya dipelajari melalui modal rajin membaca. Apalagi hanya bisa membaca buku terjemahan.

Ketahuilah bahwa agama ini di pelajari harus dengan bimbingan seorang guru pendidik yang kompeten, guru murobby yang ilmunya bukan sekedar maklumat tapi telah menjelma menjadi mafahim, yang ilmunya tidak sekedar teoritis tapi lebih kepada praktis, yang sanad keguruannya sambung sampai kepada Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Maka tak heran jika dalam mempelajari agama diperlukan waktu berpuluh-puluh tahun, thulizzaman sebagai prasyarat keberhasilan seorang tholib. Tidak dengan cara instan, apalagi cuma berbekal buku-buku terjemahan.

Dzaka', cerdas. Hirs, semangat. Isthibar, sabar. Bulghoh, biaya. Irsyadul ustadz, bimbingan guru. Thulizzaman, waktu belajar yang lama. Adalah sekian prasyarat yang harus dipenuhi oleh para tholib.

Sekarang kita hidup pada zaman dimana semua orang bisa ikut berbicara dan menulis apa saja. Berbekal kelihaian copas sana sini. Tulisan di ramu sedemikian rupa. Lalu di publish ke khalayak sehingga semuanya bisa membaca. Maka jika kemudian sekian orang mengambil ilmu dari orang model semacam itu. Bukankah sisi madlorotnya akan lebih masif ketimbang sisi manfaatnya. Bukankah ia tidak hanya sesat namun juga menyesatkan banyak orang.

Miris. disinilah pentingnya memeriksa sanad keilmuan seorang guru. Sebab banyak sekali kini manusia-manusia bernuansa Islami yang setelah di telusuri ternyata gurunya adalah buku, ternyata gurunya adalah Syeikh Ghoughol yang pada puncak sanad bersambung kepada Setan.

As-Sanad minaddin fanzhur 'an man ta'khudzuna dinakum. Sanad adalah bagian dari agama, maka lihat dari siapa kau ambil agamamu.

Ayolah para akhi-akhi. Agama ini tak cukup hanya dipelajari melalui radio atau televisi. Youtube maupun facebook. Mencari seorang guru murobby adalah keniscayaan bagi seorang hamba yang mengaku beriman.

Periksa di sekitar tempat tinggal kita siapa yang bisa kita jadikan guru dalam masalah agama. Dimana kita bisa bertanya kala kebingungan menerpa. Kita bisa berhati-hati dalam menjalankan agama di dunia ini.

Kita harus merenungkan kembali bahwa kita terlahir di dunia hanya untuk beribadah kepada-Nya. Maka mempelajari ilmu agama adalah tugas setiap muslim yang beriman, bukan cuma tugas santri dan kaum sarungan.

Kaliwungu, 27 Agustus 2017






Selasa, 22 Agustus 2017

INILAH DUNIA

Inilah dunia, ladang cobaan bagi kita yang mengaku sebagai hamba-Nya yang beriman. Entah cobaan berupa kenikmatan atau berupa kesusahan. Inilah dunia, yang kata Nabi adalah penjara bagi manusia beriman. Dan  surga bagi mereka kaum kuffar.

Inilah dunia, dimana Allah tiada akan membiarkan seorang hamba-Nya mengaku beriman begitu saja  tanpa memberi sekian ujian-ujian kehidupan. Sebagai hamba kita hanya berkewajiban untuk menjawab persoalan yang disuguhkan itu dengan benar dan tepat. Sehingga Allah ta'ala akan memberi kita trophy pahala atas kelulusan kita dalam menghadapinya.

Maka saat kita mendapati ujian kenikmatan, jawaban tepat untuk mengisinya adalah dengan bersyukur. Dan saat kita mendapati ujian kesusahan, maka bersabar adalah solusi yang harus selalu di aplikasikan.

Sabar dan syukur, sebuah bahasan yang amat sering mampir di telinga kita. Akan tetapi keduanya memang merupakan kunci untuk meraih sukses di kehidupan fana ini hingga akhirat. Ibarat burung, kedua hal ini adalah sayap yang mampu mengantarkan kita terbang melesat menuju keridloan Allah subhanahu wata'ala.

Suatu saat mungkin kita di uji dengan hal yang membuat kita merasa takut, atau merasa lapar, kekurangan harta benda, kehilangan orang yang di cintai, atau bisnis yang kita bangun hancur, dan lain sebagainya. Maka bersabarlah, sebab akan ada kejayaan bagi mereka yang mampu menerapkannya.

Suatu saat barangkali kita mendapatkan kesenangan. Uang dan harta benda banyak. Anak-anak tumbuh sehat dan cerdas. Bisnis berjalan lancar dan berkembang. Prestasi akademik dan karir berjalan mengagumkan.  Dunia terasa di genggaman. Maka ingatlah bahwa semua itu sejatinya adalah ujian.

Ujian yang menuntut kita bersyukur dan senantiasa tawadlu'. Sadar bahwa semua itu adalah semata-mata anugerah dari-Nya. Bukan sama sekali buah dari usaha kita.

Kita harus terus berusaha memanfaatkan sarana yang ada untuk memaksimalkan ibadah dan pengabdian kita kepada Allah. Menyenangkan-Nya dengan jalan menyenangkan makhluk-Nya. Ya, kita harus menancapkan keyakinan, bahwa di balik nikmat yang Allah berikan, ada hak yang di miliki orang lain untuk turut serta merasakannya.

Kita harus tahu bahwa banyak diantara para sahabat Rasul yang justru takut dikala mendapatkan nikmat berupa kesenangan. Sebab banyak orang-orang terdahulu sukses melewati ujian kesusahan akan tetapi gagal melalui ujian kesenangan.

Maka jika ujian kesenangan sedang menerpa kita, deraskanlah ibadah dan taqarrub kita. Sehingga Allah akan membuat kita merasa ringan kala ujian kesusahan datang menghadang.

Akan tetapi seringkali kesenangan membuat kita lalai dan terbuai sehingga ibadah yang kita lakukan terasa berat. Sehingga kita seringkali baru sadar dan menyesal, ketika Allah mengganti nikmat itu dengan kesusahan.

Kita baru menyesal ketika sarana yang banyak diberikan Allah hilang satu persatu. Lalu selepas itu kita merengek-rengek meminta belas kasihan Allah, berharap kenikmatan itu di kembalikan lagi untuk kesekian kalinya. Ketahuilah bahwa Nabi bersabda:  Ta'arrof ilallah firrokho' ya'rifka fissyiddah. Kenali Allah di kala senang, Allah akan mengenalimu di kala susah. Maka bagaimana Allah akan mengenali kita kala susah jika dikala senang kita lupa dengan-Nya.

Allahumma, jangan jadikan musibah kami dalam agama kami. Jangan jadikan pula dunia sebagai target utama kami dan puncak pengetahuan kami.

Kaliwungu, 22 Agustus 2017





Rabu, 16 Agustus 2017

ABADI MELALUI TULISAN Sisi Urgensitas Menulis Bagi Seorang Berilmu


Oleh: shabieqelhimam.blogspot.com

Seseorang akan tenggelam dan musnah di makan zaman jika ia tak mau belajar menerjemahkan pikiran dan idenya melalui kata-kata. Meskipun ia memiiki tingkat kejeniusan setinggi apapun, jika ia enggan menulis, ia hanya akan di kenang melalui cerita orang-orang. Adapun ide dan pemikirannya dipastikan lenyap di panggang zaman. Maka menulis adalah berusaha untuk terus hidup selepas kita mati. Menulis adalah usaha untuk untuk terus eksis dalam keabadian.

Banyak orang sudah puas dengan pekerjaan dan hobi copy paste dan share buah pikiran orang lain. Banyak orang amat bahagia, bisa membaca deret status dan tulisan yang berseliweran di berbagai media sosial. Seolah dia lupa bahwa segala hal yang wujud pasti ada yang menciptakannya. Seolah dia tak tahu bahwa dibalik deret kata-kata ada orang yang berusaha kontemplasi dan berfikir untuk kembali menyuarakannya.

Kita tahu dan mengerti ribuan pemikiran zaman dahulu bisa terus lestari hingga hari ini tiada lain adalah sebab jasa tangan-tangan tak kenal lelah menuliskan buah-buah pikiran dan waridat melalui media yang ditemukan pada saat itu. Sehingga kini kita bisa menikmati warisan pemikiran generasi terbaik zaman dulu melalui turats yang terus eksis bertahan. Bahkan bid'ah hasanah yang kemudian kita nikmati hikmahnya adalah membukukan Al-Qur'an ke dalam lembaran-lembaran sehingga kita dan generasi selanjutnya terus bisa membaca dan menelaahnya sampai kapanpun jua.

Kita tahu bahwa opini di bentuk melalui tulisan. Maka kita hanya akan menjadi generasi pasif pengekor tanpa bisa ikut andil bermain dalam derasnya arus pertarungan pemikiran, jika kita tidak mau berlatih untuk menggoreskan pena tajam pemikiran kita ke dalam deret tulisan.

Sampai kapan kita cuma bisa sorak- sorai di pinggiran dengan komentar-komentar nyinyir atas tulisan seseorang yang menyesatkan tanpa mau membangun opini yang tersuarakan. Sampai kapan kita hendak menahan geram dan mengelus dada membaca tulisan-tulisan seseorang yang mengandung dosa dan kesesatan.

Kita hidup di zaman dimana sekian banyak manusia-manusia dengan pemikiran nyleneh dan sesat, dan juga berbalut hoax terus saja tak pernah bosan dan jemu berkoar kesana-kemari sehingga apa yang ia teriakan pada saatnya menjadi suatu hal yang di yakini sebagai kebenaran. Mereka membicarakan sebuah hal yang sebenarnya tidak mereka ketahui. Sehingga lahirlah sekian figur manusia sesat yang sekaligus menyesatkan.

Maka belajar dan terus belajar lalu menuliskan ide dan pemikiran kita dalam rentet kata meskipun sederhana. Adalah sebuah hal yang sepatutnya kita usahakan. Jangan puas hanya menjadi orang alim yang mengerti lalu diam tanpa usaha membangun opini. Sehingga membuat banyak orang tak tercerahkan dengan cahayanya yang sebenarnya menyilaukan.

Jika sekian banyak pemikir dan ilmuwan sesat berani dengan gagah memikul panen dosa jariyah selepas mati tersebab tulisan nylenehnya yang terus di baca banyak orang. Maka tidakkah kita ingin dan mengidamkan panen pahala jariyah dengan pemikiran kita melalui tulisan yang kita suarakan. Maka mari berjihad melalui tulisan. Meski hanya berupa status di beranda dan media sosial. Semoga bisa memberi manfaat bagi diri maupun kawan.

Kaliwungu, 17 Agustus 2017

Jumat, 11 Agustus 2017

Menyoal Full Day School

Gila memang bermacam-macam. Salah satunya adalah dengan menerapkan peraturan wajib sekolah gaya baru yang kerap di sebut sebagai Full Day School secara menyeluruh.

Berangkat sekolah pagi-pagi sekali pukul 7.00, pulang sampai rumah pukul 15.30. Seolah semua orang memiliki energi otak dan badan yang kuat diforsir selama itu. Sebuah kegilaan bentuk kesekian.

Teringat dulu jaman sekolah, selepas zhuhur saja otak dan raga sudah demikian penat. Sekian kawan di kelas matanya sudah mulai lima watt. Betapa sekolah sampai minimal setengah empat bukankah tambah capek dan tak maksimal.

Seseorang butuh dicerdaskan dengan cara yang cerdas. Seseorang perlu di ajar tentang sikap bijak dengan cara yang bijak. Maka mari mencerdaskan siswa dengan cara yang cerdas, ayo mengajarkan bersikap bijak dengan kebijakan yang bijak.

Program semacam itu hanya akan berdampak pada Dekadensi Moral yang semakin parah. Sebab Siswa tak hanya butuh ilmu pengetahuan kekinian yang hanya mengolah intelegensi otak. Akan tetapi mereka sangat butuh dengan ilmu-ilmu agama, akhlaq dan karakter building untuk mengukuhkan intelegensi emosional dan spiritualnya.

Masih melekat dalam ingatan. Betapa sekian kawan dikala dulu sudah duduk di bangku SMA mereka demikian jauh dengan agamanya. Mereka banyak yang Islam tapi tak begitu mengenal Islam. Dari sekian siswa di kelas hanya beberapa gelintir orang yang bisa membaca Al-Qur'an. Dan tentu saja seratus persen siswa yang bisa membaca adalah mereka yang juga menjadi santri TPQ dan Madrasah kala sore hari.

Bagi mereka yang orang tuanya acuh terhadap TPQ dan Madrasah Diniyyah jangan lagi kau tanya, mereka tahu apa tentang agamanya kecuali beberapa hal yang amat sedikit. Lalu bagaimana gambaran Indonesia jika pendidikan TPQ dan Madrasah Diniyyah dikebiri eksistensinya dengan kewajiban Full Day School di seluruh Sekolah.

Kau tahu berapa porsi Mapel Agama di Sekolah SMP dan SMA-ku dulu? Hanya dua jam pelajaran sepekan. Maka kau bisa bayangkan betapa seorang Anak Muslim menerima pendidikan keagamaannya dengan porsi yang amat minim. Untungnya ada TPQ dan Madrasah di sore hari yang menutup kekurangan itu semua.

Kau bisa tanya mereka, dari mana mereka tahu tata cara Shalat, darimana mereka bisa membaca Al-Qur'an, bagaimana beradab dan berakhlaq, dan sekian pengetahuan agama yang lain. Dari sekolah pagi kah? Atau sekolah sore? Maka bisa dipastikan jawabannya adalah dari Surau, TPQ dan Madrasah Diniyyah, bukan SD, SMP atau SMA.

Seharusnya yang dilakukan Pemerintah adalah membantu pengembangan TPQ, Madrasah Diniyyah, dan Pondok Pesantren. Menggaji Ustad Ustadzahnya. Mengembangkan infrastrukturnya. Kalau perlu meletakkan Ragam Pendidikan semacam ini kedalam Pendidikan Formal di bawah Kemendikbud. Bukan malah sedikit demi sedikit menggerus eksistensinya yang semenjak dulu dengan mandiri dan terseok dipertahankan.

Tidakkah kau lihat betapa pahlawan tanpa tanda jasa yang sebenarnya adalah mereka para guru ngaji di Surau, TPQ dan Madrasah Diniyyah? Tanpa Gaji sepeserpun tetap saja mereka dengan semangat membara berangkat. Dengan mengantongi jargon In Ajriya illa Alalloh mereka selalu punya harapan dan ghirah yang besar dalam mendidik santri-santrinya. Lalu kini kau ingin memadamkannya. Tidakkah mata hatimu terbuka wahai pemegang Kebijakan.

Jika ada sekolah yang hendak menerapkan Full Day School silahkan, orang tua sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dengan perkembangan anak yang akan menentukan. Apakah mereka akan memasukkan anaknya kepada Pendidikan yang hanya mementingkan Kecerdasan Otak saja, atau Pendidikan yang mementingkan Kecerdasan Otak, hati dan Spiritual. Orang tua yang punya hati nurani tentu saja memilih Sekolah yang tidak hanya mementingkan Kecerdasan Otak.

Memang seharusnya pemisahan Mapel Agama dan Ilmu-ilmu yang lain tidak terjadi. Tapi Dikotomi pendidikan semacam ini dari semenjak dahulu masih senantiasa saja di pertahankan. Seharusnya di semua jenjang mulai pendidikan paling dasar sekalipun, porsi Mapel agama diberi tempat yang luas. Aqidah, Akhlaq, Sejarah Islam, Fiqh, Al-Qur'an dan Hadits, dan Bahasa Arab menjadi pelajaran wajib di semua tingkatan di Sekolah manapun. Tentu saja hal ini hanya wajib bagi siswa Muslim saja. Sehingga output pendidikan pada akhirnya akan maksimal. Akan lahir sekian Ilmuwan Muslim, Ekonom, Politikus, TNi, Polri dan sekian Pakar di seluruh bidang lainnya yang memiliki Iman Islam yang luar biasa.

Jika ini yang dimaksud dengan Full Day School, maka silahkan memberlakukannya. Hanya saja hari Sabtu tetap saja masuk sehingga pelajaran berakhir maksimal pukul 01.30. Sehingga masih ada waktu bagi siswa untuk rehat sejenak memulihkan stamina untuk kembali masuk di TPQ maupun Madrasah Diniyyah. Inilah Full Day School yang seharusnya. Full Ilmu, Full Iman, dan Full Amal.

Tulisan ini hanya jeritan hati seorang santri yang dahulu pernah merasakan bagaimana menjadi siswa sekolah. Kau tahu waktu itu internet dan pergaulan bebas belum semasif sekarang. Namun nyatanya beberapa kawan hamil di luar nikah, mereka yang hobi minum juga ada saja. Maka sekarang tak lagi terbayangkan betapa ngerinya membayangkan kehidupan siswa pada umumnya di sekolah-sekolah. Allahumma sallim sallim.

Jika saya menjadi orang tua. Maka saya akan memilih memasukkan anak saya di Full Day School yang sebenarnya. Apalagi kalau bukan Pondok Pesantren. Sehingga anak tidak hanya cerdas dalam otak saja, akan tetapi juga punya ketaqwaan, keimanan, dan amal yang baik. Intelegensi Emosi dan Spiritual yang mengagumkan. 


Semoga bermanfaat.

Jum'at 11 Agustus 2017








Minggu, 06 Agustus 2017

Menjalin Hati dengan Berbagi

Islam adalah agama yang mengajarkan kasih sayang dengan begitu elegan. Agama yang mendidik pemeluknya untuk terus memiliki kepekaan sosial yang baik.

Kita temukan di dalam Islam sebuah rukun Islam yang bernama Zakat. Yakni pengeluaran sekian harta untuk di bagi kepada sekian entitas yang di pandang oleh agama sebagai yang berhak dengan mekanisme tertentu.

Sementara rukun Islam adalah hal yang fundamental di dalam Islam. Maka jika zakat tiada kita keluarkan, kita dipandang belum sempurna dalam melakukan pengabdian kepada Tuhan.

Dikala kita dikaruniai seorang momongan, maka ajaran Islam menyuruh kita untuk menyembelih seekor atau dua ekor kambing lalu memasaknya untuk dibagi-bagi kepada orang-orang.

Ibadah ini sering disebut sebagai Aqiqah. Sebentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah dengan wujud menyenangkan orang lain dengan berbagi.

Kita juga mengenal Istilah Adlhiyyah, atau berkurban. Yakni sebuah seremonial penyembelihan hewan Qurban selepas menjalankan Shalat Idul Adha.

Sebuah pesta umat tahunan yang amat ditekankan untuk dijalankan. Sebagai sebuah wujud kepedulian dengan sesama, terlebih kepada mereka yang kurang beruntung nasibnya. Sekian bulan tak mampu membeli lauk kecuali tempe dan tahu, maka di saat inilah mereka akan merasakan bahagia dan bersyukur bisa merasakan nikmatnya daging kambing, sapi, ataupun onta.

Islam juga amat menekankan pentingnya menjalin hati dengan cara makan-makan. Menjalin hati dengan tetangga salah satunya adalah dengan berbagi makanan. Pesan Nabi jika masak alangkah baiknya jika kuahnya diperbanyak agar tetangga bisa turut merasakan kelezatannya.

Menjalin hati dengan para tamu, memuliakannya salah satunya dengan cara menyediakan makanan. Sampai kualitas Iman seseorang masih dipertanyakan jika tidak menjalankannya.

Kita juga mengerti bahwa salah satu hal yang dipesankan oleh Rasulullah kepada para Sahabatnya selepas hijrah adalah Berbagi makanan. Maka mentraktir teman atau saudara adalah hal yang semenjak dulu di syariatkan.

Ya, dengan berbagi, cinta dan kasih sayang antar sesama akan tumbuh bermekaran. Apa lagi kesenangan dunia ini yang disukai oleh umumnya orang jika bukan makan-makan yang enak. Maka menumbuhkan cinta dengan makanan adalah hal yang patut diperjuangkan.

Ya, kita harus selalu mengerti dan sadar, bahwa di dalam harta kita tersimpan hak orang lain yang mestinya di tunaikan. Hak saudara, teman, tetangga, kerabat, tetamu, dan saudara seiman siapa saja.

Sabtu, 05 Agustus 2017

Memaknai Kemerdekaan

Dahulu para pejuang kemerdekaan dengan tanpa lelah berjuang memerdekakan bangsa dari cengkraman penjajah. Sekian ratus tahun turun temurun mereka terus saja mengobarkan semangat jihad serta menancapkan keyakinan bahwa Indonesia pada saatnya akan merdeka. Sehingga atas berkat Rahmat Allah, Indonesia meraih kemerdekaannya.

Atas berkat Rahmat Allah, kita bisa menarik nafas dengan lega. Tanpa perasaan takut berkecamuk. Atas berkat Rahmat Allah, kita bisa berusaha bekerja dan meraih hasilnya, tanpa takut ada yang mengambil alihnya. Atas berkat Rahmat Allah, kita bisa menjalankan aktivitas dan ibadah dengan tenang, tanpa mendengar suara desingan pistol atom bom dan rudal.

Maka mensyukurinya adalah hal yang semestinya sebagai Muslim kita usahakan. Yakni dengan tidak menggunakan nikmat tersebut sebagai media bermaksiat kepada Allah. Akan tetapi justru memakainya sebagai alat untuk bertaqarrab kepada Allah.

Sebab kita tidak pernah tahu, bisa saja Allah tiba-tiba mencabut nikmat tenang dan tentramnya hidup di bumi pertiwi ini, menggantinya dengan tangis dan air mata, rasa berdebar dan ketakutan, desingan peluru atau bom rudal, jika kita terus saja menggunakan nikmat besar ini sebagai alat bermaksiat kepada-Nya.

Dimana-mana kita melihat para remaja dan orang tua menyambut Hari kemerdekaan dengan hal-hal mungkar. Campur baur lelaki wanita. Aurat terbuka dan menjadi tontonan. Atas nama kemerdekaan mereka rela berlomba melebihi batas toleransi syariat. Atas nama nasionalisme mereka adakan lomba yang justru menyimbol penjajah dan kolonial. Atau seperti lomba makan krupuk yang menyimbol tamak dan kerakusan.

Para pejuang akan menangis melihat Sang penerus mengisi kemerdekaan dengan ragam hal mungkar. Padahal jiwa, raga, dan harta mereka korbankan demi meraih kemerdekaan. Namun para penerusnya justru menggunakannya untuk hal-hal yang memalukan.

Marilah mari, mengisi kemerdekaan dengan menumbuhkan sikap rela berkorban. Ayolah ayo kita berlomba menjadi insan Indonesia yang berprestasi dan membanggakan, menjadi manusia Indonesia yang penuh keberanian dalam menegakkan kebenaran sebagai representasi dari merahmu dan berusaha menjadi manusia yang penuh dengan amal saleh dan berhati suci sebagai representasi dari putihmu. Sehingga para pejuang akan menangis bangga melihat putra putrinya penuh dengan ilmu dan amal, menjadi putra bangsa yang cerdas, saleh dan berakhlaq mulia.

Kita bisa melihat disana di wilayah timur tengah. Anak-anak dan orang tua tak pernah merasa sentosa. Setiap hari perasaan was-was menghinggapi. Setiap saat ketakutan menghantui. Makan tak enak tidur pun tak nyenyak. Apa kita menginginkannya? Atau kita akan berusaha terus bersyukur atas segala nikmat dan Rahmat-Nya?

6 Agustus 2017

Kamis, 03 Agustus 2017

Pasrah, Puncak Iman Tertinggi

Sobat fillah..
Kala kita merasa bahwa ada cerita hidup yang kita lalui tak seperti apa yang kita dambakan. Maka ingatlah Allah, dan berfikirlah positif kepada-Nya. Bisa jadi inilah cerita yang terbaik yang mesti kita lalui dalam kehidupan yang selintas ini.

Memang dalam hidup seharusnya kita memiliki asa dan harapan agar hidup terus terarah menuju kemajuan. Tapi jangan lupa bahwa asa dan harapan paling utama yang mengalahkan segalanya adalah suksesnya kita melalui sekian rentetan perjalanan hidup seusai kita meninggal dunia.

Maka jika ada asa dan harapan selain itu yang lenyap, hilang, dan tak mendapatkan acc kun Allah azza wajalla, kita tak perlu lagi merasa menjadi manusia yang gagal menjalani kehidupan. Teruslah berusaha yang terbaik dan ridlolah dengan apa yang diberikan-Nya.

Sebab Iman itu berarti pasrah. Pasrah terhadap sekian drama yang di format oleh Sang Maha Merajai segala apa. Pasrah terhadap apa yang digariskan, direjekikan kepada kita. Dengan terus mengungkapkan kesyukuran yang tak hanya di lisan. Tapi terimplementasi melalui laku dalam menjalani kehidupan.

Jika suatu saat kita ingin menjadi seorang kaya raya, maka tak perlu merasa galau jika Allah gantikan hal itu dengan hati yang qanaah terhadap apa saja.

Jika suatu saat kita bercita-cita menjadi seorang pakar dalam sebuah bidang. Maka berbahagialah jika Allah gantikan itu semua dengan keimanan yang mengakar di dalam hati dan jiwa.

Bersedihlah kala Allah mencabut rasa qanaah kita dan menggantinya dengan harta benda dunia. Dan susahlah dikala Allah menukar keimanan dengan keilmuan akal pikiran belaka.

Dunia memang terlihat hijau dan melenakan. Membuat sepasang mata yang melihatnya tersihir tak karuan. Tapi ingatlah semua itu takkan berlangsung lama. Semua akan ada batasnya. Dan hidup kekal hanya nanti selepas kita diwafatkan-Nya. Maka bersedihlah kala Allah menukar akhirat kita dengan duniawi. Dan bergembiralah jika Allah mengganti dunia dengan keindahan ukhrowi.

Salam

Kurniakan Akhir Husnal Hatimah, ya Rabb

Sobat fillah...
Seseorang memiliki masa lalunya masing-masing, tapi masa lalu bukanlah akhir dari segalanya. Kehidupan kita adalah apa yang kita jalani pada saat ini. Dan masa depan adalah sebuah hal yang masih menjadi misteri.

Seorang dengan masa lalunya yang gemilang, hari ini yang penuh cahaya dan keindahan, tak pernah mendapatkan jaminan meraih hakikat keindahan kelak dimasa depan.

Seseorang dengan masa silamnya yang buruk dan busuk, hari ini yang bahkan semakin memburuk, pun juga tak pasti akan mengakhiri segala cerita dengan adegan-adegan yang semakin terkutuk.

Bisa jadi kita yang masa lalunya sampai kini indah dan membahagiakan berakhir dengan cerita-cerita kepedihan. Pun bisa jadi kita yang masa silamnya pun hingga kini terasa busuk, bahkan berakhir esok dengan cerita-cerita indah, mempesona, dan penuh kebahagiaan.

Kita takkan pernah tahu kemana diri kita kan melela untuk selanjutnya. Maka kita yang saat ini bahagia, jangan jumawa dengan itu semua. Dan sebaliknya kita yang kini nista nan menderita, tak usah berputus asa mengharap keindahan paripurna dari Sang Maha.

Hidup adalah tentang melihat kekurangan diri sendiri dan menutup erat-erat mata dari aib dan cela orang lain. Bukan tentang propaganda yang menjurus pada koreksi diri orang lain dan lalai terhadap sampah busuk yang menganga di tong sampah jiwa. Selanjutnya, terserah pada Sang Maha Pemilik jiwa, Sang Maha Penilai laku akan dikemanakan kita selanjutnya. Bukan lagi urusan kita.

Hidup adalah tentang bagaimana kita legawa kala  nasehat menasehati. Tentu saja menganjurkan kebaikan dan menghalau keburukan mesti ditegakkan. Tapi semua itu mesti dengan kelembutan dan kebijaksanaan. Bukan dengan arogansi dan rasa paling benar sendiri. Ya hidup adalah dengan menasehati dengan kelembutan dan menerima nasehat dengan legawa dan hati yang lapang. Tentu saja menasehati dikala berdua saja tanpa orang lain disana, sebab kala ada orang lain disana maka itu berarti sebuah penghinaan yang luar biasa.

Robbana la tuzigh qulubana ba'da idzhadaytana wa hablana min ladunka Rohmah innaka antal wahhab.

Robbana taqobbal minna, ya Allah terimalah dari kami (amalan kami).

Sukses Itu Bisa Memberi Manfaat Untuk Orang Lain

Sobat fillah...
Semua orang dari semenjak belia memiliki segundang cita-cita dalam hidupnya. Banyak orang yang memiliki cita-cita menjadi pribadi yang sukses dalam kehidupan.

Siapa juga yang tak ingin menjadi sukses? Semua orang tentu ingin meraih predikat satu ini. Akan tetapi terlalu sulit  mendefinisikan hakikat sukses sebab demikian banyak dan beragam cara orang memaknainya.

Ada yang memahami sukses sebagai sebuah capaian ketika seseorang memiliki harta benda yang melimpah, istri cantik, rumah dan mobil mewah, pendidikan tinggi dan bergengsi, pekerjaan mapan dan bergaji besar, atau definisi yang lain. Akan tetapi kiranya definisi semacam itu terlalu berlebihan dan kurang proporsional.

Sobat fillah, sukses itu sederhana sebenarnya, yakni dikala kita bisa menjadi lebih manfaat untuk orang lain. Maka hidup sebenarnya adalah tentang  bagaimana membagi nikmat yang kita peroleh kepada orang lain sehingga mereka merasakan kemanfaatan dari apa yang kita berikan.

Sukses adalah bagaimana dikala kita memiliki ilmu, kita bagi dan sebarkan ilmu yang kita miliki kepada orang lain sehingga ilmu itu bisa membuat mereka menjadi manusia yang lebih baik.

Sukses adalah dikala kita memiliki harta benda berlebih, kita bagi harta itu kepada orang-orang lemah, anak-anak yatim, fakir miskin, dan kepada siapa saja yang membutuhkan.

Sukses itu dikala kita mempunyai status sosial dan jabatan yang tinggi, kita bisa memakainya untuk memberikan sumbangsih kepada kehidupan, berusaha mengadakan sebuah kebijakan yang indah dan membuat banyak orang merasakan kemanfaatan.

Sukses itu adalah dikala kita hanya memiliki modal kekuatan fisik, kita gunakan kekuatan itu untuk membantu orang lain meringankan pekerjaannya, mempermudah kehidupannya, berkhidmah kepada siapa saja melalui fisiknya.

Sukses itu dikala kita hanya mampu berdoa, kita tak pernah bosan berdoa kepada Allah azza wajalla untuk kebaikan orang lain dan siapa saja.

Sukses adalah tentang apa yang bisa kita lakukan dan kita berikan untuk orang lain, untuk kehidupan, untuk agama, nusa, dan bangsa. Semua orang siapapun itu asal punya kemauan pasti bisa menjadi lebih bermanfaat untuk orang lain, tentunya asal tidak dimanfaatkan.

Sehingga orang kaya, berpendidikan tinggi, serta memiliki status dan jabatan yang penting belum bisa disebut sebagai seorang yang sukses kala ia dengan potensi yang ia miliki belum bisa memberikan kemanfaatan nyata teruntuk orang lain. Sehingga kita, adalah apa yang kita sumbangkan untuk kehidupan.

Ini salah satu karakter yang disebut seorang Alim sebagai sebuah hal yang pasti dimiliki oleh seorang kekasih Tuhan (baca: waliyulloh). Maka jika seseorang ingin diangkat sebagai kekasih Tuhan, ia harus berusaha berlatih menerapkannya dalam kehidupan.

Robbana infa'na bima 'allamtana wa 'allimna alladzi yanfauna wazidna ilma.

Robbana taqobbal minna, Ya Tuhan terimalah dari kami (amalan kami).

Salam.

Tebar Kasih Sayang Di Bumi Raih Kasih Sayang-Nya

Sobat fillah...
Allah ta'ala memiliki sekian sifat yang begitu ekselen dan luar biasa. Di antara rentet sifat-sifat yang indah itu, ada dua sifat yang begitu akrab bagi kita, yakni sifat ar-Rahman dan ar-Rahim.

Dari semenjak wahyu pertama diturunkan, kita memang telah diminta untuk menyertakan Allah dikala akan membaca apapun. Iqro' bismi Robbikalladzi kholaq. Dan ternyata, ungkapan yang dipilih oleh Allah sebagai realisasi penyertaan asma-Nya adalah melalui lafal basmalah. Bismillahirrahmanirrahim.

Bismillah, yang Maha Pengasih yang Maha Penyayang. Jika kita lihat ternyata Allah lebih suka memperlihatkan sosoknya sebagai Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang daripada menunjukkan sifat Allah yang lain. Bayangkan saja jika yang Allah sematkan pada basmalah adalah sifat Allah al Jabbar (Maha memaksa), al Qohhar (Maha Menekan) al Muntaqim( Maha Penuntut Balas), atau Syadidul 'iqob (Maha pedih dalam menyiksa), dst bukankah akan berhasil membuat hati dan pikiran kita berdesir ketakutan?

Melalui basmalah, Allah hendak menunjukkan pada kita bahwa Ia adalah sosok yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dari sini, kita bisa mengerti betapa Allah akan sangat cinta terhadap seseorang yang mau meniru sifat kasih sayang-Nya. Allah akan begitu dekat dan senang terhadap manusia yang selalu berusaha menyebar kasih sayang dimana saja.

Ingat-ingat kembali cerita seorang wanita yang dimasukkan di neraka sebab tak mau menyayangi kucing. Dan ingat-ingat juga cerita seorang wanita pezina yang tak jadi di siksa sebab memberi minum seekor anjing. Ingat-ingat pula cerita seorang ahli ibadah yang seluruh amal kebaikannya tak sebanding dengan besarnya dosa zina, namun ia selamat sebab kasih sayangnya memberikan sepotong roti terhadap pengemis yang kelaparan. Dan sekian cerita yang lain yang semuanya masih membicarakan tentang kasih sayang.

Inti dari cerita-cerita itu membuktikan bahwa seseorang yang berkasih sayang akan mendapatkan peluang lebih untuk dikasihi oleh Allah meskipun di sisi lain ia bergelimang dengan dosa. Dan sebaliknya orang yang tak memilikinya tak banyak memperoleh kesempatan meraih cinta kasih Allah, justru orang macam ini akan begitu di benci oleh Allah.

Kasih sayang adalah karakter terpuji yang memiliki pengaruh yang besar dikala kita mau menerapkannya di kehidupan. Entah dengan sesama manusia, kepada Sang Dambaan Hati Nabi Muhammad, lebih-lebih kepada Tuhan yang Maha Rahman, Allah ta'ala. Ia adalah cahaya yang sinarnya mampu menurunkan nazhrah Rahmah dari Langit yang pendar indahnya deras tak henti-henti.

Semoga kita selalu mendapatkan kurnia untuk menyebar cinta dan kasih sayang di bumi ini sehingga bumi pertiwi dan kita pada akhirnya mampu tercahayakan.

Robbana taqobbal minna, ya Allah terimalah dari kami (amalan kami).

Belajarlah Ilmu Lalu Sebarkan

Sobat fillah...
Proses ilmiah itu seharusnya melalui tiga tahapan, tahap awal yakni bagaimana mencari ilmu, selepas itu disusul langkah praktis, dan di dalam langkah praktis ada sisi yang begitu penting yakni tahapan menyebarkannya.

Sebab seseorang dengan ilmunya yang sedikit dikala ia tak bisa mengambil manfaat darinya, maka dikala ia berilmu banyak ia akan lebih kesulitan untuk memanfaatkannya. Maka antara ilmu dan usaha mengamalkannya harus berjalan beriringan agar tercipta sebuah kemanfaatan. Tentu saja sesanggup yang kita mampu.

Namun kadang kita demikian semangat dalam mengkaji sebuah ilmu. Berusaha untuk tekun belajar agar bisa menjadi manusia lebih baik lagi. Akan tetapi dalam ranah praktis kita seringkali gagal melaksanakan sekian ajaran dan idealisme agama yang berpayah-payah kita pelajari.

Maka jangan pernah menyerah dan putus harapan. Teruslah semangat dalam menambah pengetahuan, dan tugas selanjutnya adalah menyebarkannya. Tak perlu pedulikan reaksi orang terhadap kita.

Bisa jadi ada orang yang komentar dan mencibir, "Heh, Elu pinter ngomong doang", atau " Heh, ngaca dong diri elu masih belepotan gitu hobi ngajarin orang". Maka tetaplah santai nan elegan.

Berbicara memang demikian mudah tak seperti dalam langkah praktisnya. Tapi apa salahnya berbicara tentang kebaikan meski diri kita belum mampu melaksanakannya secara utuh. Seseorang yang berbicara mengenai tema kematian toh tak harus lebih dahulu merasakan yang namanya kematian. Pun seseorang yang berbicara tentang pernikahan juga tak harus sudah punya seorang istri idaman. Sebab ilmu demikian menuntut kita untuk mengamalkannya dan termasuk bagian penting dari pengamalan adalah menyampaikannya, menyebarkannya.

Kita hanya dituntut untuk menyampaikannya. Dan yang Maha menggerakkan hatilah yang akan menuntun seseorang kepada petunjuk. Sehingga yang perlu kita lakukan adalah menjalankan proses dan mentawakkalkan hasil kepada Allah Sang Maha. Dan jika misi ini berhasil, kita akan meraih hadiah yang lebih menggiurkan dari sekedar onta kemerah-merahan.

Akhir catatan, Semoga Ramadlan kali ini bisa memberi kita iluminasi, nazhrah, dan keberkahan. Mendidik kita menjadi sosok Rohilah seperti yang pernah disampaikan Sang Kinasih, Aamiin.

Robbi zidni ilma, Ya Allah tambahilah untuk kami ilmu (yang bermanfaat).

Robbana taqobbal minna, ya Allah terimalah dari kami (amalan kami).

Salam.

Ikhtiar dan Bertawakkallah

Sobat fillah...

Seseorang sudah punya garis hidupnya masing-masing. Apa yang kita usahakan mati-matian untuk meraih sesuatu takkan pernah menambah dari kadar yang telah digariskan oleh Allah ta'ala.  Apa yang kita usahakan untuk menghindar dari sebuah hal pula takkan pernah membuat kita berhasil lari darinya. Takkan ada yang bisa memberi kala Allah menghalang-halangi, dan takkan ada yang bisa menghalang-halangi kala Allah hendak memberi.

Duhai diri, ingatlah bahwa kerjamu mati-matian sehari semalam takkan pernah menambah dari jatah rizqi yang Allah berikan. Keenggananmu untuk mendapatkan rizqi yang melimpah, usaha orang lain untuk menghalau rizqimu, atau hal lain yang sepertinya mencoba menghalangimu juga takkan pernah bisa membuat kau terhalang kala Allah ingin kau menjadi kaya nan hartawan.

Belajarmu mati-matian hingga kau jarang tidur juga takkan pernah menambah ilmumu. Dan keenggananmu untuk menjadi berilmu atau usaha pembodohan yang dilakukan orang lain terhadapmu, atau hal-hal lain yang hadir untuk menghalangimu meraihnya juga takkan pernah membuatmu terhalang kala Allah menghendaki memberimu ilmu yang melimpah.

Maka apapun usaha kita, hasil yang kita dapatkan adalah murni kurnia dari-Nya. Bukan sama sekali hasil dari usaha kita. Masya Allah La quwwata illa billah. Ma qudiro yakun, apa yang ditentukanlah yang akan ada.

Jika ada orang yang mencoba menyakitimu, atau bahkan membunuhmu, ia takkan pernah berhasil menyakitimu atau membunuhmu kecuali Allah kehendaki kau tersakiti atau terbunuh. Mulut orang yang berkata menyakitkan padamu sebenarnya juga takkan mampu bergerak menyakitimu kecuali Allah telah hadir menggerakkannya.

Dengan seperti ini seseorang takkan pernah merasa susah kala kehilangan apa saja yang ia usahakan, kala ia tertimpa sebuah hal yang menyakitkan. Ia takkan sedih dengan segala apa yang meleset dari program kehidupan yang ia rencanakan. Tentu saja sebagai manusia kita harus terus berikhtiar melakukan usaha-usaha. Selebihnya cukup pasrah total dengan Sang Maha. Yakin, ridla, dan terus husnuzzhon kepada-Nya.

Kita ini siapa? Kita hanya seorang makhluk yang tak punya kuasa apa-apa. Beruntung Tuhan masih sudi menciptakan kita, menaruh kita di muka bumi dan tak henti memberikan sekian kenikmatan-Nya kepada kita.

Padahal ibadah sebaik apapun dari semua makhluk takkan pernah membuat Allah bertambah Perkasa. Dan kemaksiatan sekeji apapun dari mereka pula takkan pernah mengurangi ke-Maha-annya sedikit saja.

Sangat berhak bagi Allah untuk menjebloskan seorang ahli ibadah ke neraka dan memasukkan seorang pemaksiat ke surga. Bahkan untuk membayar nikmat satu biji mata saja ibadah kita seumur hidup takkan pernah mampu membandinginya, kenapa pula tak pantas jika ahli ibadah dijebloskan saja ke neraka.

Akan tetapi Allah adalah Tuhan yang rahmatnya seluas apa saja. Ia akan mengasihi orang yang mau beribadah kepada-Nya, mau berpasrah dan ridla terhadap apa saja yang dikehendaki-Nya. Ya Allah kasihanilah hamba.

Allahumma la mani'a lima a'thoyta wala mu'tiya lima mana'ta wala yanfa'u dzal jaddi minkal jadd.

Allahumma la taj'al mushibatana fidinina wa la taj'aliddunya akbaro hammina wa mablagho ilmina wala tusallith 'alaina man la yarhamuna.

Robbana taqobbal minna, ya Allah terimalah dari kami (amalan kami).

Salam.



Aturan Allah untuk Akhirat Yang Lebih Indah

Sobat fillah...
Dimanapun kita berpijak, kita akan berjumpa dengan sekat-sekat yang bertebaran dimana-mana. Sekat-sekat itu sebenarnya adalah isyarat bagi seseorang agar jangan sampai melewatinya. Sebab disana semestinya ada sebuah hal yang membahayakan bagi dirinya.

Mungkin kita pernah jalan-jalan bersepeda menuju suatu tempat, di tengah perjalanan di pertigaan tetiba kita melihat tulisan besar, "Maaf jalan ditutup". Akan tetapi meski kita telah membacanya, kita masih saja bandel untuk mencoba terus saja maju. Sehingga pada akhirnya kita baru puas dan percaya kala kita benar-benar mendapati jalan disana memang sedang ditutup. Yang pada akhirnya dengan terpaksa kita mesti putar balik lagi. Bisa jadi jika kita ngotot menerobos kita akan terjatuh dalam jurang.

Ya, hidup ini memiliki sekian tata tertib, sekian aturan, sekian undang-undang yang semua itu dibuat bukan untuk mengekang kebebasan seseorang. Namun justru demi kebaikan bersama dan demi keselamatan diri sendiri.

Begitu juga kapasitas seseorang sebagai makhluk Tuhan, Allah juga membuat sekian tata tertib dan undang-undang bagi manusia dalam menjalani tugasnya didunia. Semua itu diformat demi kebaikan manusia itu sendiri.

Seseorang di dunia ibarat pasien yang sedang sakit di tangan seorang dokter. Di kala si pasien ingin suatu hal yang berbahaya bagi dirinya, dokter akan melarangnya sampai ia sembuh. Seorang mukmin juga seharusnya maklum bahwa di kala ia menginginkan suatu hal seperti yang di berikan Allah kepada orang lain, justru Allah melarangnya sampai ia meninggal dunia lantas Allah akan masukkan ia ke dalam Surga.

Dunia ini adalah bui bagi mukmin dan surga bagi kafir. Seseorang yang mendekam dipenjara memang akan merasakan kehidupan yang sumpek dan memprihatinkan, akan tetapi semua takkan berlangsung lama, di depan ada surga yang siap memanjakannya.

Memang terkadang kita merasa bahwa aturan-aturan yang dibuat Tuhan begitu membatasi gerak-gerik dan kebebasan kita. Kita seolah tak begitu bebas untuk berekspresi. Sedikit bergerak kita akan mendengar "peluit peringatan" dari Tuhan. Tapi inilah hidup. Seperti inilah format yang Allah suguhkan sebagai sebuah bahan percobaan bagi manusia. Percobaan tentang iman.

Jika ia lulus ia akan memeroleh hadiah yang begitu menggiurkan, tentu saja kelak diserahkan di kehidupan yang sebenarnya. Akhirat. Namun jika ia tak lulus, maka ia akan menjalani kehidupan selanjutnya dengan proses yang lebih menjerat dari sekedar aturan dan undang-undang. Maka surga tak bisa diperoleh hanya dengan cuma-cuma. Namun ia mesti kita bayar dengan keringat, tenaga, materi, dan apa saja.

Allahumma inni as'alukal jannata wa a'udzubika minannar. Ya Allah aku memohon kepada-Mu surga dan aku berlindung dengan-Mu dari neraka.

Robbana taqobbal minna, ya Allah terimalah dari kami (amalan kami).

Salam.

Ya Allah, La Taj'al Ad Dunya Akbaro Hammina

Sobat fillah...
Tak henti-hentinya zaman semakin terasa membingungkan. Seseorang semakin hari semakin termakan fitnah yang kini dengan gencar digelar. Manusia yang masih mau berpegang teguh dengan Salafuna sholeh bahkan dituduh sebagai pihak yang kaku dan keras. Kini yang jadi primadona adalah mereka yang begitu enteng merubah hal yang ilegal menjadi legal atas nama toleransi dan kemanusiaan.

Apa lagi penyebab semua itu selain karena faktor dunia. Agaknya pesona kehidupan dunia telah berhasil dengan sempurna meruntuhkan sekian idealisme yang semestinya di pegangi kuat-kuat. Manusia telah kehilangan kesadarannya sehingga tanpa rasa sungkan berani menggadaikan agama demi segepok harta benda.

Al kisah, tatkala dinar dan dirham dicipta, Iblis datang mengambilnya lalu menaruh keduanya di pelupuk mata. Kemudian ia sesumbar, "Engkaulah buah hatiku, mutiara hatiku, melaluimu aku sulut kekejian, dengan bantuanmu aku berhasil mengkafirkan banyak orang,  denganmu aku masukkan banyak orang ke neraka. Kiranya cukup membuatku puas kala Ibnu Adam berhasil ku buat cinta denganmu meski tak sampai menghamba padaku."

Oh uang pesonamu memang begitu menyihir. Banyak orang yang akhirnya menghamba padamu. Kiranya Iblis kini begitu senang dan bangga atas jasa besar yang kau berikan. Kau berhasil membuat manusia mengidap virus wahn yang amat berbahaya, mencintaimu dan enggan merasakan mati.

Kini banyak orang yang berani memposisikan diri digarda terdepan sebagai pembela kemungkaran, dan acuh tak acuh kala ada didepannya terhampar kesempatan melakukan kebaikan. Seseorang yang tanpa tedeng aling-aling berbuat sebuah hal yang menyalahi pakem yang semestinya justru ramai mendapatkan dukungan. Sementara kala mereka lihat banyak pihak yang sudah nyata terzalimi mereka justru bungkam tak bersuara untuk membela sama sekali.

Sobat, hidup didunia takkan berlangsung lama. Ada saat dimana kita kembali pada-Nya. Maka apa gunanya memperjuangkan mati-matian sebuah hal yang sebentar lagi akan sirna dengan mengorbankan sekian keindahan-keindahan yang abadi di surga.

Ah kenapa kelihatannya pesona surga sudah tak lagi menggairahkan. Pesonanya memudar luntur waktu demi waktu termakan zaman. Pesona surga dan pahala kiranya telah berhasil digantikan dengan pundi-pundi dunia.

Sepertinya berangkat jamaah tak lebih menarik ketimbang menyelesaikan perkara duniawi yang entah apa. Sepertinya berangkat jum'atan tak lebih menarik ketimbang sepiring nasi rawon yang disuguhkan ketika tahlilan. Kiranya shalat malam tak lebih memesona tinimbang uang tiga ratus ribu upah menjaga gereja.

Saatnya kita bangkit merapatkan shaf untuk menghalau sekian iming-iming yang disuguhkan Iblis sebagai sebuah bentuk tipuan. Hajar nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan.

Robbana taqobbal minna, ya Allah terimalah dari kami (amalan kami).

Salam.

Tanamkan Keyakinan Full dengan Ar-Rozzaq

Sobat fillah...
Di suatu hari, di sebuah masjid Abu Yazid sedang melaksanakan shalat berjamaah bersama seorang imam. Selepas salam, Sang imam berkata: "Hei Abu Yazid, Aku lihat kau tak punya pekerjaan, lalu dari mana kau makan?".

Abu Yazid menjawab: "Sebentar, sampai aku mengulang shalat yang aku kerjakan bersama orang yang ragu dengan masalah rizqi, sebab sholat tak boleh dikerjakan bersama orang yang tiada mengenal Sang Maha Pemberi rizqi".

Entah, sebagai manusia, kadang kita masih saja merasa resah dan bingung tentang suatu hal yang sebenarnya tak perlu dibuat pusing. Kita masih sering membingungkan masalah rizqi padahal Allah adalah zat yang memiliki sifat ar-Razzaq yakni zat yang Maha memberi rizqi.

"Sesungguhnya Allah adalah zat yang Maha Memberi rizqi yang memiliki kekuatan yang kokoh". (Ad-Dzariyat: 58)

Seringkali kita jumpai, orang-orang yang hanya mementingkan pendidikan non agama. Mengejar prestasi yang katanya luar biasa. Berebut dengan ribut kursi pegawai negeri. Tanpa pernah sedikit saja menaruh rasa pada pendidikan agama. Sikap seperti ini muncul, tiada lain adalah sebab rasa ragu kepada Allah, Ar-Razzaq, Sang Maha Pemberi rizqi. Padahal Allah taala telah berfirman: "Tiada hewan pun yang berada dibumi kecuali Allahlah yang menjamin rizqinya" (QS Hud:6).

Dialah Allah yang menjamin rizqi seluruh makhluk. Jika kita mau sedikit mencermati makhluk disekitar kita, maka kita akan temukan bahwa mereka begitu sangat dijamin rizqinya oleh Allah.

Seperti makhluk Allah yang bernama cicak, bagaimana oleh Allah ia didesain menjadi hewan yang memiliki makanan nyamuk dan serangga lain yang bisa terbang, padahal ia sendiri tiada bersayap. Tapi alangkah hebatnya, bahwa tidak pernah ditemukan seekor cicak yang mati sebab kelaparan, bahkan ketika ia ingin makan, ia tinggal membuka mulutnya saja, lantas tak lama selepas itu ada saja nyamuk atau serangga lain yang 'tersesat' masuk dimulutnya.

Disuatu hari Nabi Musa diperintah oleh Allah untuk memukul sebongkah batu dengan tongkatnya, terbelahlah batu itu, lantas dari dalamnya keluar lagi batu yang kedua, kemudian ia belah lagi, keluarlah batu yang ketiga, lalu dibelah lagi, maka keluarlah seekor ulat yang dimulutnya ada sesuatu yang ia makan. Dari mana ulat itu mendapatkan makanan?

Masihkah kita ragu, yang padahal hewan-hewan saja yang tiada dijadikan sosok khalifah bumi, demikian dijamin rizqinya oleh ar-razzaq. Apa lagi kita yang merupakan sosok khalifah, pemimpin bumi. maka pastilah Allah menjamin rizqi kita.

Kadang manusia berfikir, bahwa apa yang ia peroleh, adalah apa yang ia usahakan, bahwa rizqi yang ia dapat adalah sebab ia bekerja. Padahal manusia adalah makhluk yang lemah, dhoif, tiada memiliki kekuatan sama sekali. Ialah Allah yang mencurahkan rizqi-Nya kepada kita, bukan pekerjaan dan usaha kita!

Suatu hari, adalah seorang ayah yang merasa putus asa, ia merasa tidak kuat untuk menanggung beban keluarga. Sampai pada akhirnya ia berkeinginan untuk kabur, lari sejauh mungkin dari mereka.

Ditengah perjalanan ia berjumpa dengan seseorang yang menawari ia pekerjaan, "Maukah anda memberi minum burungku sampai tidak haus lagi dengan upah dua dinar?".

Iapun merasa senang. kemudian orang itu menunjukkan sebuah sumur dan memberinya sebuah ember lalu berkata: "Ambil air dari sini, dan beri minum burung ini sampai ia tidak merasa haus lagi".

Sepanjang siang berkali-kali ia mengambil air dan burung tersebut terus saja meminumnya tapi ia tetap saja masih haus. Lelaki itu demikian resah dan galau, karena ia tahu jika seperti itu ia takkan mendapatkan dinar yang dijanjikan.

Kemudian orang yang menawari pekerjaan berkata "Sungguh aku bukanlah manusia. Aku adalah malaikat yang diutus Allah untuk memperlihatkan kelemahanmu, bahwa kau tak kuasa untuk membuat seekor burung tidak lagi haus, maka bagaimana kau mampu memberi rizqi kepada keluargamu! kembalilah! sebab Allahlah Sang pemberi rizqi kepada mereka, pasrahkan segala urusanmu juga urusan mereka kepada-Nya, tunggu rizqi dari sisi-Nya".

Semoga kita selalu bisa berproses memperbaiki pemahaman keimanan kita, meyakini bahwa Allahlah yang Maha memberi rizqi. Tentu saja usaha sebaik mungkin sebagai seorang yang berlevel asbab harus dan wajib dilakukan.

Allahumma kama an'amta fazid wakama zidta fabarik wa kama barokta fa'adim wakama adamta fala taslub.

Robbana taqobbal minna, ya Qllah terimalah dari kami (amalan kami).

Salam

Kawal Terus Hatimu

Sobat fillah...
Kita hidup dalam sebuah bentang waktu yang pada suatu saat akan dimintai laporan oleh Sang Maha. Apapun nikmat yang pernah diberikan oleh-Nya pada akhirnya akan ditanyakan kembali, Dipakai untuk apa semua itu?

Apalagi nikmat itu berupa ilmu, harta yang melimpah, atau fisik yang pemberani untuk berperang. Tiga nikmat itu sebenarnya modal yang amat besar untuk meraih surga-Nya, namun jika salah penggunaan justru bisa jadi kita dijebloskan ke neraka gara-gara tiga nikmat itu.

Ada kisah menarik yang perlu kita kontemplasi dari sahabat Abi Hurairah, simak baik-baik.

Suatu saat Syufya al Ashbahi bertanya kepada Abu Hurairah,
"Wahai Abu Hurairah, kisahkan sama aku satu hadits yang kau mengerti, kau fahami, yang pernah kau dengar dari Rasulillah shallallahu alaihi wasallam."

"Iya, aku akan kisahkan sebuah hadits yang aku mengerti yang aku fahami yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam"

Tetiba Abu Hurairah pingsan, sesaat kemudian ia kembali siuman dan kembali berkata:

"Aku akan kisahkan sebuah hadits yang aku mengerti yang aku fahami yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di rumah ini, tak ada orang lain selain aku dan Ia."

Abu Hurairah mendadak kembali pingsan, sekejap kemudian ia kembali siuman lantas ia mengusap wajahnya, dan kembali berkata:

"Aku akan kisahkan sebuah hadits yang Rasulillah ceritakan padaku, aku dan Ia di rumah ini, tak ada yang bersamanya selain aku dan Ia."

Lagi-lagi tiba-tiba Abu Hurairah kembali pingsan, sejenak kemudian ia kembali siuman lalu ia mengusap wajahnya, dan kembali berkata:

"Aku akan kisahkan sebuah hadits yang Rasulillah ceritakan padaku, aku bersamanya di rumah ini, tak ada orang lain bersamanya selain aku dan Ia."

Tetiba ia kembali pingsan, kali ini ia pingsan begitu berat, aku sandarkan ia begitu lama, akhirnya ia siuman kembali, ia pun berkata:

"Sungguh Allah ta'ala tatkala hari qiyamat turun kepada hamba-Nya untuk memutuskan balasan kepada mereka, semuanya berlutut, hamba yang pertama kali mendapatkan panggilan adalah seorang ahli al-Qur'an, seseorang yang berperang di jalan Allah, dan seseorang yang memiliki banyak harta."

Lantas Allah berfirman kepada ahli al-Qur'an, "Bukankah Aku telah ajarkan padamu apa yang aku turunkan kepada Rasul-Ku?"
"Tentu saja ya Allah"
" Apa yang telah kau lakukan dengan ilmu yang kau ketahui?"
"Aku pakai ia siang malam ya Allah"
"Bohong kau! kau hanya ingin di panggil dengan 'Fulan seorang qori' dan orang-orang telah mengatakannya!!!"

Lalu didatangkanlah pemilik harta, Allah berfirman padanya :
"Bukankah Aku telah luaskan harta benda untukmu, sampai Aku tak pernah membiarkanmu butuh kepada orang lain?"
"Tentu saja ya Allah"
" Apa yang telah kau lakukan dengan harta benda yang aku datangkan?"
"Aku pakai untuk menjalin silaturrahim dan bersedekah"
"Bohong kau! Kau hanya ingin di katakan "Fulan seorang yang dermawan" dan orang-orang telah mengatakannya!!!"

Lalu di datangkanlah pejuang dijalan Allah, Allah berfirman padanya:
"Kenapa kau terbunuh?"
"Aku diperintah untuk berjuang dijalan Allah, maka aku berperang hingga aku terbunuh"
"Bohong kau! Kau hanya ingin disebut "Fulan seorang pemberani" dan orang-orang telah mengatakannya!!!"

Selepas itu, Rasulillah memukul lututku lalu bersabda, "Abu Hurairah, tiga orang itulah makhluk yang pertama kali dimasukkan ke neraka pada hari qiyamat!"

Kita lihat betapa mengerikan hal ini, sampai Abu Hurairah RA tiada kuat untuk menceritakan hadits diatas, ia bahkan berkali-kali harus pingsan, sebab ia tak kuat, tak kuat untuk menceritakan hadits tentang hal ini, satu hadits tentang riya’ dan sum’ah. Betapa memang penyakit ini demikian halus, demikian mengerikan. Kadzabta! Bohong kamu, kamu hanya mengejar popularitas, ingin dikatakan dermawan dengan sedekahmu, ingin dipanggil qori’ dengan bacaan qur’anmu, ingin dianggap pemberani dengan maju perangmu, kamu bohong!

Maka seseorang harus mengusahakan perbaikan niat dalam setiap aktivitas yang ia lakukan, sebab dikala niat rusak meski aktivitas yang kita lakukan terbilang baik bisa jadi justru ia yang akan menyeret kita ke neraka.

Ilahi anta maqshudi waridloka mathlubi.

Robbana taqobbal minna, ya Allah terimalah dari kami (amalan kami).

Salam.



Inilah Panggung Dunia

Sobat fillah...
Bahagia didunia itu sederhana. Di kala di suatu pagi kita dapati diri kita dalam kondisi sehat wal afiyat, aman sentosa berada dalam rumah, dan memiliki makanan pokok yang cukup di konsumsi pada hari itu. Maka pada saat itulah kita seolah telah meraih dunia seisinya.

Hidup ini selalu saja silih berganti. Allah ta'ala menciptakan kehidupan yang dijalani seseorang tidak di format dalam satu kondisi saja. Akan tetapi seseorang akan merasakan kondisi-kondisi yang bermacam dikala menjalani kehidupan.

Kadang kala seseorang dalam kondisi tak banyak memiliki uang. Tapi ia tak kehilangan kebahagiaan. Meski makan hanya dengan berlaukan sambal. Meski tidur hanya beralaskan tikar. Meski rumah tak semegah milik orang-orang. Sebab ia tahu bahwa kesehatan dan kesentosaan adalah dua hal pokok untuk meraih kebahagiaan duniawi.

Hidup ini kadang terlihat aneh. Seseorang dikala mengejar sebuah nikmat baru, dikala ia mendapatkannya justru pada saat itulah ia akan kehilangan nikmat lain yang dulu telah ia miliki.

Dikala muda, kita tak begitu punya uang, fasilitas hidup masih serba terbatas, kemana-mana mesti berpanas-panas, akan tetapi fisik sehat dan bugar, melakukan ragam aktivitas begitu semangat dan trengginas, waktu luang begitu banyak terbentang.

Selepas kita memiliki kehidupan mapan, uang banyak gaji besar, justru disaat itulah kita mulai kehilangan waktu luang. Waktu seperti habis hanya untuk mengejar dunia, tanpa pernah perhatian dengan yang namanya bahagia. Pada akhirnya ia sering sumpek, stress nan galau.

Kemudian ia menjadi orang tua yang memiliki anak-anak. Uang dan segenap perangkat duniawi yang katanya membahagiakan seperti pamor, status sosial dan kedudukan, karir dan bisnis sempurna, rumah mewah mobil megah, fasilitas hidup serba lengkap yang semuanya berada dalam genggaman. Disaat itu justru fisik tak lagi trengginas seperti dulu kala muda, badan mulai sering sakit-sakitan, seringkali mengalami galau, stress dan kekhawatiran tingkat akut sebab mengurusi dunianya dan segenap bisnisnya yang bertebaran dimana-mana. Ia mulai sempurna kehilangan sebuah hal yang bernama bahagia.

Maka, apa sebenarnya yang kita cari dalam hidup? Jika bukan beroleh ridlo dari-Nya kelak di surga? Kita tak pernah meminta Allah dilahirkan di dunia, maka sebenarnya kita terlahir adalah untuk sebuah misi demi membahagiakan-Nya. Melalui sekian macam ibadah yang disuguhkan-Nya.

Terkait dunia, seharusnya adalah seperti kata Abuya, Dikala kau tak membedakan antara emas dan batu maka kau adalah sejatinya manusia.

Artinya dikala kita tak peduli apakah kita sedang banyak uang atau justru sedang banyak utang kita terus selalu berusaha menjaga iman, maka kitalah manusia sebenarnya.

Kala kita sedang sehat atau sedang sakit, kita terus berusaha meraih ridlo-Nya, maka kitalah insan yang sebenarnya.

Kala kita sedang bahagia atau malah sedang galau nan nestapa, kita selalu mencoba istiqomah ibadah kepada-Nya.

Terlalu mudah untuk diucapkan, tapi semoga kita mendapatkan taufiq dan dimudahkan untuk melakukan.

Robbana taqobbal minna, ya Allah terimalah dari kami (amalan kami).

Salam.

Hati-hati Penyakit Wahn Meraja Lela

Sobat fillah...
Kini kita memasuki zaman yang orang-orang ikhlas penggiat amar ma'ruf nahi mungkar justru menerima sekian hujatan, sekian fitnah dan tuduhan. Dan disisi lain para penjual agama begitu dipuja, mendapatkan pengikut, dan dukungan.

Kini kita memasuki sebuah zaman yang sekian banyak hal bisa ditaklukkan dengan uang dan kekuasaan, padahal melanggar ketentuan yang telah di buat oleh Tuhan.

Kini kita memasuki zaman yang banyak pihak merasa bangga kala dikunjungi oleh seorang penguasa yang padahal orang itu telah dan akan menginjak-injak harga diri dan kemuliaan kita.

Kini kita memasuki era yang banyak orang-orang lugu -untuk tidak mengatakan dungu- ditipu dengan sosok-sosok manusia bergaya bunglon dengan dukungan pencitraan media yang demikian dahsyat.

Kini kita menginjak zaman yang banyak orang berkedok agamis membawa misi pendangkalan aqidah yang semakin terasa ironis. Banyak orang berbulu domba dan berhati serigala bertebaran dimana-mana.

Kini kita memasuki zaman yang orang kita sendiri tak membanggakan ajarannya, mengaggapnya angin lalu, bahkan berusaha menghapusnya dari tengah masyarakat. Dan di sisi lain justru mengagungkan sekian ajaran orang-orang kafir.

Kini kita memasuki zaman yang bahkan banyak orang kita bergandengan tangan sangat hangat dengan orang-orang yang sampai kapanpun punya misi terselubung untuk menarik kita menjadi bagiannya. Sementara terus saja mengadakan permusuhan dengan saudara.

Inilah zaman fitnah yang telah diprediksi hadirnya oleh Rasulillah sekian abad yang lalu. Mari renungi Sabda Kinasih yang artinya seperti berikut ini:

"Bergegaslah beramal shaleh, (sebab) akan terjadi fitnah-fitnah layaknya penggalan-penggalan malam gelap gulita. Pada waktu pagi seseorang masih beriman, sore harinya ia telah menjadi kafir. Atau pada waktu sore seseorang masih beriman, pagi harinya ia telah menjadi kafir. (Itu sebab) ia menjual agamanya dengan harta benda dunia ( yang bernilai rendah)."

“Hampir saja umat-umat (selain Islam) berkumpul (bersekongkol) menghadapi kalian sebagaimana berkumpulnya orang-orang yang makan menghadapi bejana makanannya”. Lalu seseorang bertanya, ”Apakah kami pada waktu itu sedikit ?”. Beliau menjawab,”Tidak, bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian seperti buih, yaitu buih banjir. (Pada waktu itu) Allah akan menghilangkan dari diri musuh-musuh kalian rasa takut terhadap kalian dan menimpakan ke dalam hati-hati kalian al-wahn (kelemahan)”. Orang tadi bertanya lagi,”Wahai Rasulullah, apakah al-wahn itu ?”. Beliau menjawab,”Cinta dunia dan takut mati”.

Semoga kita diselamatkan dari arus fitnah yang semakian mengerikan ini.

Allahumma inni a'udzubika min adzabi jahannam, wa audzubika min adzabil qobri wa audzubika min fitnatil masihiddajjal wa audzubika min fitnatilmahya wal mamat.

Robbana taqobbal minna, ya Allah terimalah dari kami (amalan kami).

Salam.





Berproses Untuk Lebih Baik

Sobat fillah...

Agama memang kokoh. Sehingga memasukinya butuh proses yang tak sebentar. Tetapi memang seharusnya terus diusahakan. Karena Allah melihat usaha yang kita ikhtiarkan. Kita harus tetap berusaha menerobos masuk, tentu saja dengan pelan-pelan.

Jika dulu kita masih sering meninggalkan sholat, sholat kita masih belum bisa genap. Bukankah seseorang seharusnya terus berusaha untuk memperbaiki semua itu pelan-pelan sehingga bisa genap 17 rakaat sehari semalam.

Jika dulu kita masih bandel untuk mengenakan jilbab, memakainya hanya kala ingin pergi halal bihalal. Dan mungkin juga kala sholat idul fitri saat lebaran. Bukankah akan demikian indah jika kita terus belajar mengenakannya kapan dan dimana saja, tidak lagi kapan-kapan.

Jika kita dulu masih belum mampu berpuasa Ramadlan full sebulan. Masih sering tergoda oleh teman, tergoda warung yang buka di jalan-jalan. Tidakkah akan semakin elegan jika kita berusaha meningkatkannya di Ramadlan edisi sekarang?

Semua itu memang tak mudah. Apalagi memang ada nafsu yang bermain menggelitik diri untuk melakukan hal yang keji. Tapi Setan, jangan lagi kau salahkan sebab kini mereka katanya sedang dipenjarakan.

Semua itu memang berat. Ditambah iming-iming pahala yang tak pernah sama sekali Tuhan wujudkan dalam materi kasat mata. Maka jangan heran, jika seseorang lebih ringan melangkahkan kaki berjalan menuju tempat tahlilan dari pada harus pergi jum'atan. Sebab tahlilan menjanjikan 'pahala' yang kasat mata berupa makan-makan. Sementara jum'atan 'hanya' menjanjikan pahala yang wujudnya tak pernah kita lihat sebelumnya.

Jika saja manusia dilihatkan surprise yang dijanjikan Tuhan itu, barangkali semua orang akan bersaing dan berebut menyuguhkan sekian amal andalan.

Ramadlan adalah bulan untuk memperbaiki segalanya. Bulan untuk melatih segala apa. Sahur melatih kita untuk bangun pagi untuk munajat, meski latihannya cukup menyenangkan, yakni kita di minta makan-makan. Puasa melatih hati dan jiwa demi melejitkan empati dengan sesama. Tarawih mengajarkan tentang memperbanyak melakukan sholat sunnah menyempurnakan fardlunya. Dan segala hal yang semuanya adalah kurikulum bagi mukmin yang telah dikonsep sedemikian rupa dengan sekian hikmahnya.

Ya Allah, beri aku kekuatan untuk terus istiqamah dalam menjalankan ketaatan. Ya mutabbital qulub, tsabbit qolby 'ala dinik.

Robbana taqobbal minna, ya Allah terimalah dari kami (amalan kami).

Salam.

Raih Berkah dengan Ragam Media Khidmah

Sobat fillah...
Ada sebuah pernyataan bahwa, ilmu mudah di ditemukan namun khidmah tak semudah itu ditemukan. Al Ilmu yudrok wal khidmatu la tudrok.

Memang khidmah adalah sebuah aktivitas yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang berusaha mengikis ego yang ia miliki. Oleh karena setiap orang memiliki ego yang biasanya membuat ia tak mau mendahulukan orang lain dan sering ingin menang sendiri.

Akan tetapi yang sering kurang pas adalah memahami khidmah sebagai sebuah aktivitas yang lebih mengandalkan fisik. Padahal jika kita mau mengerti, bahwa cakupan khidmah tidak sesempit itu. Bahwa khidmah yang mengandalkan pikiran justru sebuah hal yang mesti di usahakan.

Seseorang sebagai pelajar berusaha meraih ilmu sebanyak-banyaknya juga adalah bagian khidmah yang luar biasa. Seseorang sebagai seorang penghafal al-Qur'an sehingga ia berusaha terus menjaga hafalannya juga adalah khidmah yang tak bisa diremehkan. Seseorang yang konsisten menekuni apa yang ia lakukan sehingga mampu menghasilkan ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan juga adalah sebentuk khidmah yang perlu di ikhtiarkan.

Karena seseorang yang tak memiliki takkan bisa memberi. Faqidussyai' la yu'thi. Karena seseorang yang tak punya keahlian apa-apa takkan bisa menyuguhkan khidmah apa-apa. Maka belajar maksimal untuk meraih apa-apa jika itu dilandasi keikhlasan adalah bentuk khidmah yang luar biasa. Tentu saja setelah itu perlu dipikirkan bagaimana semua itu bisa bermanfaat bagi kehidupan!

Robbana taqobbal minna, ya Allah terimalah dari kami (amalan kami).

Salam.




Ngajio Bakal Aji

Sobat fillah...
Seseorang boleh-boleh saja dilahirkan dari keluarga ningrat, berdarah biru, atau dilahirkan dari keluarga kaya raya, atau memiliki orang tua yang pintar nan cerdas. Sebab semua itu ada, bukan karena pilihan, bukan. Tetapi ingatlah bahwa tak ada satupun bayi yang terlahir mewarisi keilmuan yang dikuasai oleh orang tuanya.

Lantas apa lagi yang mau ia banggakan jika apa yang ada dalam otaknya tak seperti apa yang ada dalam otak orang tuanya? Apa lagi yang mau ia unggulkan jika kualitasnya sama sekali tak mirip-mirip dengan kualitas orang tuanya. Disinilah bagaimana seseorang mesti berikhtiar, kerja keras belajar meraih seperti apa yang diraih oleh orang tuanya. Sebab, faman yusyabih Abahu fama zholam, bukan?

Coba renungkan dalam-dalam wejangan elok dari Sesepuh Lirboyo Simbah Kyai Manab berikut: “Yang penting ngaji! Walaupun anaknya seorang tukang ngarit tapi mau ngaji, ya akan pinter. Anaknya orang alim tapi tidak mau ngaji, ya tidak akan pinter. Yang penting ngaji sing tenanan.”

Maka seseorang siapapun itu, jika ingin memperoleh suatu ilmu tak ada jalan lain kecuali ia harus melakukan ikhtiar ngaji dengan sungguh-sungguh. Atau boleh saja menunggu ilmu turun dari langit, akan tetapi ia perlu masuk terlebih dahulu ke dunia Doraemon. Mau?

Memang jika direnungkan, ada banyak ragam generasi. Ada generasi perintis, ada generasi pembangun, ada generasi pengembang, ada generasi penikmat, dan terakhir ada generasi perusak. Maka jangan sampai kita termasuk dua generasi yang disebut terakhir itu.

Ma kana lillahi dama wattashol
Wa ma kana lighoirillahi fana wanfashol.

Robbana taqobbal minna, ya Allah terimalah dari kami (amalan kami).

Salam.





Abi, Akuiku Sebagai Santrimu

Abi, adalah sebuah rejeki bisa bertemu dengan sosokmu. Sosok yang hanya dengan memandangi wajahmu saja bisa membuat hatiku tenang dan tentram. Yang dengan mengikuti taklim denganmu segala gundah gulana lenyap entah kemana. Yang berjamaah shalat dan dzikir bersama samahahmu jiwa terasa sejuk dan lapang.

Abi, sosok kyai yang begitu low profil. Menebar senyuman kemana-mana. Menghadiri undangan dari siapa saja datangnya. Tak terbedakan entah dari si miskin atau si kaya.

Abi, sosok Kyai yang amat perhatian dan tahu persis karakteristik tiap santri. Punya kasih sayang yang amat besar kepada mereka. Betapa mesantren empat tahun diri ini kenyang dengan makanan hati dan raga. Sekian puluh santri, kebutuhannya ditanggung oleh beliau semua.

Abi, sosok Kyai yang amat Dermawan. Mendermakan jiwa raga dan apa yang ia punya untuk meraih ridla-Nya. Bolak balik Surabaya Malang tiap pekan dari dulu sekali sampai entah kapan.

Tak jarang para Santri atau jamaah seringkali mendapat uang berkah dari beliau. Maka jika semacam itu, para santri lebih memilih menyimpannya sebagai kenang-kenangan, di simpan rapi di lipatan dompet agar mengundang teman-teman.

Abi, yang bahkan rambut potongan beliau saja banyak dipesan pecinta demi bertabaruk dengannya. Tak terkecuali aku. Minuman seteguk dari beliau selepas taklim jadi sesuatu yang diperebutkan.

Abi, yang setiap senin pagi, menciumi punggung tanganmu adalah momen pekanan yang amat ditunggu pecinta.

Abi, betapa lembut suara Qum-mu di sepertiga malam adalah suara yang aku rindukan. Ketika raga tak lagi disana. Lalu seperti biasanya selepas melalui microfon Engkau membangunkan kami, maka suara derap langkahmu yang mengayun gagah adalah derap yang kini aku kangenkan.

Abi, kau adalah jelmaan Abuya bagiku yang tak pernah bersua. Sebab Abuya yang selalu kau ceritakan di hampir setiap kesempatan seluruhnya aku temukan disosokmu.

Abi, empat tahun adalah waktu yang amat sedikit untuk bermulazamah dengan kemuliaanmu. Namun semoga keberkahannya takkan henti mengalir hingga meninggalku.

Abi, akuiku sebagai santrimu..

Ijazah Sebenarnya adalah Kemanfaatan Ilmu Kita

Abuya al Maliki rohimahulloh telah memberikan pengertian yang begitu relevan tentang devinisi ijazah. Beliau menyampaikan bahwa, "Ijazatuttholib ilmuhu wa naf'uhu linnas", ijazah seorang pelajar adalah ilmu dan kemanfaatannya bagi manusia.

Maka selembar ijazah yang kita raih bukanlah hakikat ijazah yang sebenarnya jika kita belum menguasai ilmu yang kita pelajari dan mampu memberikan nilai bagi kehidupan.

Meski tak memiliki ijazah, jika kita berhasil menguasai ilmu yang kita tekuni lantas mengupayakan diri menjadi pribadi yang mampu memberikan nilai bagi kehidupan. Maka menurut Abuya, justru kita benar-benar telah meraih ijazah hakiki.

Akhirnya, meraih ilmu adalah dengan mengikhtiarkan belajar dan doa sementara manfaatnya adalah dengan mengupayakan diri mendapatkan ridlo dari Sang Guru.

Sebagai santri tak ada puncak harapan dalam belajar melainkan meraih ridlo dari Sang Guru, serta mendapatkan ilmu yang manfaat dan berkah sehingga bisa memberikan nilai bagi kehidupan.

رب فانفعنا ببركتهم و اهدنا الحسنى بحرمتهم

Si Udin 1

Al Kisah, ada seorang anak muda kampung yang bernama Udin. Dia adalah seorang mantan preman yang insyaf dan amat semangat dalam mempelajari Islam dan seluk beluknya. Suatu hari selepas shalat, Udin bertemu dengan guru spiritualnya.

Udin: Ust. Aku mau tanya satu hal boleh?

Ust: Mangga, din. Seseorang kalo pengin berkembang memang harus banyak tanya, din.

Udin: Gini nih tadz, Ane bingung. Kok ane kalo ketemu Ust..... itu rasanya di hati kok beda ya?

Ust: Beda gimana, din. Maksudmu?

Udin: Ya gitu tadz. Ane kalo ketemu Ust. Fulan, hati yang aslinya tenang tentram jadi malah ga karuan. Padahal Ust itu kan terkenal jago dalam baca kitab? Di sisi lain, kalo ane ketemu antum, ganjalan-ganjalan di hati ini rasanya kok langsung plong gitu aja. Padahal kata orang-orang antum ini ya biasa-biasa aja gitu.

Ust: Kok kamu malah ngajak nggunjing orang sih, din? Kalo kamu mau tanya permasalahan. Adabnya ndak usah sebut nama. Digambarkan aja permasalahannya.

Udin: Afwan deh tadz. Maklum masih muda kadang jadi lepas kontrol. Jadi gimana itu tadz jawabannya? Kok orang yang terkenal pintar baca kitab, tapi orangnya malah bikin hati was-was, ndak tentram gitu, tadz.

Ust: Sampean harus tau din. Bahwa ilmu agama, apalagi tasawuf itu bukan cuma tentang kepintaran seseorang dalam membaca kitab-kitab klasik, akan tetapi semua itu berkait erat dengan lelaku hidup, hati yang kosong dari hasrat duniawi, mengenyahkan hati dari melihat diri, mengosongkan jiwa dari sifat-sifat rumongso terhadap pencapaian yang dicapai, dan menghindarkan diri dari sikap fanatisme golongan. Sekali lagi ilmu ini adalah ilmu lakon, din. Jadi antum jangan heran, din. Jika suatu saat antum ketemu lagi sama orang yang model begini. Ilmu hanya dibuat ajang perdebatan. Adu kelihaian dalam membaca kitab. Namun tidak antum temukan dalam ranah lakonnya. Jadi ya, orang yang semacam ini ga aneh kalo rasanya hambar. Atau justru bikin hati was-was dan ga karuan.  Sebab ilmu ini pusatnya hati. Bahasa lisan tidak akan banyak berpengaruh dengan apa yang di ucapkan hati, din. Bisa dipahamkan din?

Udin: Iya tadz. Berarti ketentraman itu adalah sikap jiwa yang dipengaruhi sangat oleh hati ya tadz. Terus kalo orang yang hatinya jelek meskipun lisannya berusaha menutupi kejelekkan hatinya, tetep saja akan tercium aroma baunya ya, tadz?

Ust: Persis, din. Ya menata hati bukan perkara yang gampang, din. Kudu terus dilatih. Biar terbiasa.

Udin: Ok deh, Ust. Makasih ya.

Ust: Iya sama-sama. Eh iya satu hal, Din. Biar jadi ilmu buat antum.

Udin: Apaan tuh tadz:

Ust: Biasain bilang Jazakumulloh khoir, din. Buat ganti ungkapan Makasih. Kata Nabi itu ungkapan terimakasih terbaik.

Udin: Oh gitu ya tadz. Apa tadi tadz. Eee... Ja.. Jazakumulloh ya tadz?

Ust: Iya, waiyyakum.

Udin: Oh iya waiyyakum.

Ust: Otu jawabannya din. Ga perlu di tirukan.

Udin: Oh iya ya ya tadz. Ok.

Renungan Qur'any 3

Sobat, Al-Fatihah adalah surat yang paling sering kita baca tiap hari. Sebab shalat yang kita kerjakan tiada terbilang sah jika kita tiada membacanya. Paling tidak, kita setiap hari membaca surat itu tak kurang dari 17 kali. Maka tak heran jika surat ini disebut dengan As-Sab'ul Matsany, yakni tujuh ayat yang di ulang-ulang.

Menurut Nabi, surat itu adalah surat teragung. Sebuah surat yang belum pernah diturunkan Allah padanannya di kitab-kitab selain Al-Quran. Baik taurat, injil, zabur, maupun furqon.

Sobat, kata Nabi, bahwa surat ini untuk apa saja tujuan pembacaannya. Seperti air zam-zam untuk apa saja tujuan meminumnya. Maka inilah anugerah yang besar yang hanya dimiliki oleh ummat Sang Kinasih shallallahu alaihi wasallam yang sepatutnya kita syukuri dengan membaca, merenungkan dan mengamalkan isi kandungannya.

Mari kita sejenak renungi makna dari Al Fatihah. Seperti yang telah dijelaskan seorang Mufassir kenamaan yakni Syeikh Ali Ash-Shobuny dalam kitabnya Shofwatuttafasir. Bismillahirrohmanirrohim.

{اﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺭﺏ اﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ}
"Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam."

Wahai hamba-Ku, ucapkanlah Alhamdulillah dikala engkau hendak bersyukur dan memuji-Ku. Bersyukurlah atas kebaikan dan keindahan yang aku berikan kepadamu. Akulah Allah pemilik kemuliaan dan keagungan, sendiri didalam mencipta dan mewujudkan, Tuhan manusia, jin, dan malaikat. Tuhan langit dan bumi. Kesyukuran dan pujian seluruhnya hanyalah milik Allah, Tuhan semesta alam.

{اﻟﺮﺣﻤﻦ اﻟﺮﺣﻴﻢ}
"Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."

Ialah Allah, zat yang rahmat-Nya mencakup segala sesuatu, kurnia-Nya didapat oleh seluruh insan. Ialah Tuhan yang mencurahkan sekian kenikmatan kepada para hamba-Nya dengan penciptaan, pemberian rizqi dan hidayah sehingga mereka bahagia di dunia dan akhirat. Ialah Tuhan yang Maha Perkasa, Pemilik rahmat teragung, dan senantiasa memberi kebaikan.

{ﻣﺎﻟﻚ ﻳﻮﻡ اﻟﺪﻳﻦ}
"Pemilik hari pembalasan."

Ialah Allah Pemilik balasan dan perhitungan. Pada hari itu, yakni hari kiamat Ialah zat yang memperlakukan ciptaan-Nya layaknya perlakuan seorang Raja pada kerajaannya. Jiwa-jiwa tiada memiliki kuasa apa-apa, semua urusan pada hari itu hanyalah milik-Nya semata.

{ﺇﻳﺎﻙ ﻧﻌﺒﺪ ﻭﺇﻳﺎﻙ ﻧﺴﺘﻌﻴﻦ}
"Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan."

Kami khususkan kepada Engkau Ya Allah dengan penghambaan, pula kami khususkan kepada Engkau dengan permohonan pertolongan. Maka kami tiada menyembah selain kepada-Mu. Hanya kepada-Mulah kami merendahkan diri, tunduk, bersimpuh nan khusyuk. Hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan untuk menjalankan ketaatan dan meraih keridloan. Sebab Engkaulah yang berhak mendapatkan pengagungan. Dan tiada yang kuasa menolong seorang pun melainkan Engkau.

{اﻫﺪﻧﺎ اﻟﺼﺮاﻁ اﻟﻤﺴﺘﻘﻴﻢ}
"Tunjukkanlah kami jalan yang lurus."

Tunjukkanlah dan bimbinglah kami Ya Robbi kepada jalan-Mu yang hak, dan agama-Mu yang lurus. Teguhkanlah kami pada Islam yang Engkau utus para Nabi dan Rasul untuk mengembannya, pula Engkau utus pamungkas Rasul dengan membawanya, jadikanlah kami bagian dari orang-orang yang menempuh jalan hamba-Mu yang dekat dengan-Mu.

{ﺻﺮاﻁ اﻟﺬﻳﻦ ﺃﻧﻌﻤﺖ ﻋﻠﻴﻬﻢ}
"Yakni jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka."

Yakni jalan orang-orang yang Engkau anugerahi kedermawanan dan kenikmatan, yaitu Nabi-nabi, Shiddiqin, syuhada' dan sholihin, serta orang-orang baik.
{ﻏﻴﺮ اﻟﻤﻐﻀﻮﺏ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻭﻻ اﻟﻀﺂﻟﻴﻦ}
"Bukan jalannya orang-orang yang dibenci dan sesat."

Jangan jadikan kami Ya Allah bagian dari musuh-Mu yang menyeleweng dari jalan yang lurus, para penempuh jalan-jalan yang tiada tegak, yaitu Orang Yahudi yang dibenci dan Orang Nashrani yang tersesat. Merekalah orang-orang yang sesat dari syariat suci-Mu. Sehingga berhak mendapat kebencian dan laknat selamanya.

Amin, kabulkan doa kami ya Robbi.

Salam.

Semoga bermanfaat.

*Menyelami dan merenungi ayat-ayat-Nya. Semoga bisa membukakan kedamaian dalam jiwa, mencahayakan hati-hati yang tertawan dosa-dosa*

Sila download Telegram di playstore dan ikuti Channel kami... https://telegram.me/RenunganQurany

Renungan Qur'any 2

Ketika kita memulai membaca Al-Qur'an, di Surat Al-Fatihah kita seketika disuguhkan dengan ungkapan Al Hamdu lillahi Robbil 'alamin. Artinya kita diminta untuk pertama kalinya tiada lain kecuali untuk mengungkapkan rasa kesyukuran kita terhadap sekian kenikmatan dan karunia yang begitu banyak dari Allah azza wa jalla.

Sebab bersyukur butuh diungkapkan. Dan salah satu ungkapan syukur adalah dengan memuji Sang Maha Pemberi Nikmat. Maka mulailah segalanya dengan bacaan Alhamdulillah, selain basmalah agar tercipta keberkahan.

Selain itu bisa jadi dengan mengungkapkannya melalui perbuatan. Apalagi kalau bukan dengan terus berusaha melakukan sekian hal yang didamba oleh-Nya dan menjauhi sejauh-jauhnya hal-hal yang dimurkai-Nya.

Bersyukur adalah tugas seorang hamba. Dengannya Allah akan menaikkan kuantitas dan kualitas nikmat dan rahmat-Nya. Namun jika kita enggan melakukannya, maka azab Allah yang akan mengoyak kita.

Bersyukur itu tentang siapa yang memberi, bukan apa yang diberikan. Bukankah jika ada orang terkasih memberikan sebuah hal yang barangkali remeh, katakan sebuah sapu tangan. Kita akan senang untuk menyimpan dan merawatnya?

Apalagi jika yang memberikan adalah Ia zat yang telah memberikan sekian keindahan dalam hidup, yang jika kita hendak mengkalkulasi kita tiada akan bisa menghinggakannya.

Sobat, bersyukurlah maka engkau akan temukan bahwa hidup ini penuh keindahan.

Salam.

##Menyelami dan merenungi ayat-ayat-Nya. Semoga bisa membukakan kedamaian dalam jiwa, mencahayakan hati-hati yang tertawan dosa-dosa. Sila ikuti Channel kami... https://telegram.me/RenunganQurany

Renungan Qur'any 1

Bismillahirrohmanirrohim. Sebuah bacaan yang seringkali kita rapalkan untuk mengawali aktivitas positif kita sehari-hari supaya aktivitas itu dipenuhi dengan keberkahan. Jika Surat Al-Fatihah adalah cerminan dari seluruh kandungan Al Qur'an dari awal sampai akhir, maka Basmalah menurut para Ulama adalah intisari dari Surat Al-Fatihah itu sendiri.

Sobat, jika kita telisik ada hal yang begitu indah yang terkandung dalam bacaan itu. Bahwa Bismillahirrohmanirrohim terangkai dari Ba' yang dirangkai dengan Lafzhul Jalalah Allah, disusul lafazh Ar-Rohman, kemudian Ar-Rohim.

Kita mengerti bahwa Lafzhul Jalalah adalah sebuah lafazh yang menyimbol kemaha-besaran Allah azza walla, bahwa Allah adalah zat yang Maha Besar. Hanyalah ia satu-satunya pemilik kebesaran langit bumi. Seluruh ciptaan Allah meski menurut kebanyakan orang menjadi pihak super, akan tetapi di mata Allah semua itu tiada artinya sama sekali.

Sobat, kemudian Lafzhul Jalalah yang super itu, ternyata disandingkan dengan sifat dari Al Asma' Al Husna tidak dengan semisal Al Jabbar (Yang Maha Memaksa), atau Al Qohhar (Yang Maha Menaklukkan) sehingga terucap bacaan Bismillahiljabbarilqohhar. Akan tetapi justru dirangkaikan dengan sebuah asma Allah Ar-Rohman (Yang Maha Pengasih) dan Ar-Rohim (Yang Maha Penyayang).

Hal ini memberikan isyarat kepada kita bahwa Allah amat menyukai sifat kasih sayang dan lebih jauh lagi bahwa Allah amat cinta dengan orang yang berkasih sayang. Yakni orang-orang yang berusaha berakhlaq dengan menerapkan Akhlaq Allah yang tercermin dalam asma Allah Ar-Rohman dan Ar-Rohim. Maka jika kita ingin dicintai Allah, mari terus kita tebarkan kasih sayang dimuka bumi ini.

Dalam sebuah hadits disampaikan:
اﻟﺮاﺣﻤﻮﻥ ﻳﺮﺣﻤﻬﻢ اﻟﺮﺣﻤﻦ اﺭﺣﻤﻮا ﺃﻫﻞ اﻷﺭﺽ ﻳﺮﺣﻤﻜﻢ ﻣﻦ ﻓﻲ اﻟﺴﻤﺎء.
Para Penyayang akan di kasihi oleh Sang Rahman. Sayangilah penduduk bumi, kalian akan di kasihi yang di Langit. (Abu Daud)

Salam.

Seorang Perindu Kinasih shallallahu 'alaihi wasallam.
El Himam.

Ayo, ikuti channel saya di Telegram. Renungan Qur'any https://telegram.me/RenunganQurany

Kadang Kita Juga Harus "Suudzon"

Tidak semua yang jelek kapanpun jelek. Dan tidak semua yang baik kapanpun baik. Ada saat dimana jelek justru adalah kebaikan, dan ada saat dimana baik justru adalah kejelekan.

Berbaik sangka adalah kebaikan, namun pada satu saat justru Kanjeng Nabi menganjurkan berburuk sangka. Sabda Nabi:
احترسوا من الناس بسوء الظن
"Lindungi (diri kalian) dari ( kejahatan) seseorang dengan berburuk sangka."

Kita harus mengerti benar kapan kita harus berbaik sangka, dan kapan kita mesti berburuk sangka. Apalagi jika kita menjadi intelejen atau bagian keamanan dalam suatu wilayah.

Kepada seseorang yang terbukti baik dan teruji keamanahannya kita seharusnya bersikap husnuzhon, namun kepada mereka yang nampak kejelekan dan khianatnya, suka mengingkari janji dan hobi menipu seharusnya kita pasang suuzhon.

Jangan sampai kita lalai dan terbuai, kita mesti menggunakan kecerdasan kita. Sebab tiada seseorang kecuali pasti ada yang memusuhi.

Seseorang yang berhusnuzhon ria terhadap pihak-pihak yang tak bisa dipercaya, ia akan menelan kekecewaan yang besar.

KEJAR SURGAMU MELALUI TANGAN ORANGTUAMU

Seseorang akan senantiasa menemukan alasan untuk membenarkan apa yang dilakukannya. Maka, apapun itu, tidak perlu banyak beralasan. Banyak orang yang punya kondisi semacammu yang sangat bisa melakukan sebuah hal yang kau cari alasan untuk tidak mengerjakannya.

Bahkan Allah sudah memiliki argumentasi kuat untuk mematahkan sekian alasanmu. Semisal jika ada orang beralasan bahwa ia super sibuk mencari dunia sampai tak sempat menjalankan shalat. Bahwa Nabi Sulaiman Sang Raja yang super sibuk dengan ummat dan pundi-pundi dunianya adalah orang paling bertaqwa dijamannya. Dan sekian contoh Nabi dan orang-orang dulu yang akan menjadi hujjah atas apapun kondisi yang kau jadikan alasan untuk tidak melakukan kebaikan.

Bahwa kita sebagai anak di tuntut untuk berbuat baik kepada orang tua adalah sangat maklum di ketahui oleh orang paling bodoh sekalipun. Bahwa segala hal yang berkait dengan orang tua bagi kita levelnya adalah penting dan genting. Lebih dari sekedar aktivitas harian, organisasi, urusan duniawi, kuliah, pekerjaan, atau bahkan urusan anak dan istri. Meskipun hal yang menurutmu remeh sekalipun.

Iya urusan anak dan istri. Sebab istrimu adalah milikmu, sementara kau adalah milik orang tuamu. Bahwa Anta wa Maaluka li Abika, kau dan kekayaanmu adalah milik ayahmu.

Apapun itu, jika itu muncul dari mereka dan tidak bertentangan dengan syariat, kita mesti menomor wahidkan mengalahkan sekian pernak-pernik kehidupan lainnya.

Jika kita sedang bekerja, lalu ibu kita butuh pendamping untuk menemani belanja atau sekedar jalan-jalan, apa salahnya jika memang memungkinkan, kita ambil cuti demi menyenangkan hati keduanya. Terlebih jika untuk menemaninya periksa.

Jika kita sedang sekolah, sementara orang tua butuh pendamping untuk menemaninya ke luar kota. Apa susahnya jika memungkinkan, ijin ke sekolah demi membahagiakannya. Tidak usah beralasan nanti ketinggalan pelajaran atau tidak dapat rangking, dls.

Jika kita sibuk mengurus rumah tangga dan sudah punya rumah sendiri, sementara dibanding saudara kita yang lain, rumah kita paling dekat dengan orang tua. Dan kita tahu bahwa orang tua sangat dan sangat senang jika setiap hari kita berkunjung ke rumahnya. Bukankah berkunjung setiap hari kesana adalah sebuah hal yang masih bisa di usahakan?

Jika suatu saat, kita punya mobil, orang tua kita hendak berkebutuhan dengan mobil kita. Apa susahnya untuk mengiyakannya. Meskipun dengan itu kita barangkali harus menyewa mobil, atau naik angkutan umum untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri.

Apa susahnya sebagai anak, berusaha untuk selalu ada untuk orang tua. Apapun itu, jika tidak bertentangan dengan syariat, usahakan tidak berkata tidak atau berkelit, mangkir dengan sejuta alasan yang diada-adakan. Terlebih dalam urusan-urusan yang mendesak. Meskipun dengan itu kita mesti korban apa saja. Korban waktu, tenaga, uang, kesempatan, atau apapun. Meskipun dengan itu, kita perlu mengatur schedule ulang, meng-cancel sekian acara.

Bahkan seharusnya, dalam kapasitas sebagai anak, antar saudara berlomba menyuguhkan perhatian yang besar kepadanya. Bukan malah saling lempar, atau berkelit dengan mengeluarkan sekian alasan sebagai pembenaran. Sama Si Adik saja, pakai punya Kakak saja, dls.

Ya, sebuah ilmu yang berat untuk diamalkan. Tapi tidak jika untuk diusahakan. Mengusahakan untuk menggembirakannya. Berat bahkan sangat berat, terlebih untuk ABG yang ketika jalan-jalan di Mall, pasar atau keramaian merasa malu jika bersama orangtuanya, apalagi jika orangtuanya sampai menggandeng tangannya.

Akhir catatan, Al Jannah Mahi Balasy. Surga itu tak gratis, bung. Kejar surgamu melalui tangan orangtuamu.

8 April 2017

Syair Shalawat Karya Kyai Humaidulloh

Suatu saat di kala Mbah Yai Humaidullah hendak menunaikan haji, beliau berangkat dengan menaiki sebuah kapal. Selama berminggu-minggu hidup di atas kapal pada akhirnya memunculkan inspirasi bagi beliau untuk menggubah syair shalawat wujud kerinduan beliau pada Mekkah dan Sang Kekasih shallallahu 'alaihi wasallam.

Sebuah syair berbahar basith yang hingga kini terus di dendangkan di majlis-majlis peninggalan beliau bukti keikhlasan beliau dalam menuliskannya. Betapa benar ungkapan yang berbunyi: "Ma kana lillahi dama wattashol, wa ma kana lighoirillahi fana wanfashol." Apa yang karena Allah akan langgeng dan berkesinambungan. Dan apa yang tiada selain Allah akan fana dan terputus.

Dan betapa banyak orang yang membacanya semenjak dahulu hingga sekarang yang dimudahkan Allah untuk menunaikan ibadah Haji dan Umrah, mengunjungi Baitullah dan Rasulullah, serta meraih ilmu yang bermanfaat dan taufiq dalam mengamalkannya hingga pada akhirnya paripurna dengan husnal khitam.

الفاتحة لشيخنا الشيخ حميدالله عرفان أن الله يعلي درجاته في الجنة وينفعنا بأسراره و أنواره وعلومه و بركاته في الدين والدنيا والآخرة بسر الفاتحة....


Lihatlah Apa Bukan Siapa

Tak mengapa di anggap goblok hanya karena memakai gamis dan jenggotan dari pada merasa cerdas dan pintar menjadi orang yang dipentingkan. Lidah tak bertulang representasi dari hati yang tak kelihatan. Jaga hatimu dengan menjaga lisanmu. 

Jika tak suka memakainya secara pribadi maka itu adalah pilihan, namun jika tidak suka sebab hal itu adalah pakaian identik dengan sebuah kelompok yang kau benci, padahal Sang Kinasih begitu menyukai, maka itu disebut sebagai fanatisme yang berlebihan.

Tidak malukah sama Nabi yang suka memakainya justru kita menghinanya hanya sebab kelompok yang tidak kita suka kemana-mana memakainya.

Kini kita hidup pada zaman yang banyak orang menilai siapa yang berbicara dan mengekspresikan, tanpa memahami substansi apa yang diungkapkan. Sehingga fanatisme buta merajalela. Menilai Sang Idola sebagai sosok yang selalu benar tanpa cela. Dan menilai sosok yang dibenci dengan selalu salah tanpa kebenaran.

Tawasuth itu moderat, moderat itu menghindari fanatisme kelompok. Menilai semuanya dengan miqyas syar'i. Apapun kelompoknya meskipun kelompoknya sendiri, jika berseberangan dengan syariat maka tiada boleh di ikuti. Dan apapun kelompoknya meski bukan kelompoknya sendiri, jika sesuai dengan syariat maka wajib kita ikuti.