Minggu, 10 November 2024

Fitnah Akhir Zaman

Kita hidup pada zaman dimana orang diberi label kyai dan ustadz padahal dia adalah seorang tukang maksiat. Suka berkoar-koar di mimbar tentang kebaikan, nyatanya perilakunya malah seperti setan.

Kita hidup pada zaman dimana banyak orang mengejar kedudukan dan pangkat meski harus mengorbankan akhirat. Berbangga-bangga dengan segala pencapaian, padahal nyata-nyata iman tergadaikan. 

Kita hidup pada zaman, dimana viral, tenar dan jabatan menjadi hal yang di idam-idamkan dan diperjuangkan. Meski harus sikut sana sini, fitnah sana sini, tidak peduli benar, yang penting adalah tenar. 

Kita hidup pada zaman, dimana banyak orang yang gila hormat, merasa mulia padahal hina. Senang dan bangga di kecup bolak balik tangannya, padahal diri menyimpan aib dan nista. 

Kita hidup di zaman dimana seseorang selepas bermaksiat malah menyalahkan sihir, gendam dan setan, bahwa hal itu dilakukan tidak berdasarkan kesadaran, ia hanya korban, padahal nyatanya hal itu adalah dorongan nafsu, dan dia sendiri yang memang setan.

Kita hidup di zaman dimana seseorang merasa sudah berada di puncak kesuksesan, lalu penuh kejumawaan, meremehkan sekitar, membikin bahan fitnah adu domba, menganggap enteng dosa dan maksiat, merasa sakti tidak butuh dinasehati, hati gelap gulita penuh sampah, tapi masih saja merasa gagah. 

Kita hidup pada zaman, dimana orang yang berupaya dengan kuat memegang syariat, malah dianggap kolot dan bejat. Seseorang membiarkan pacaran, lalu mengkritik pernikahan dini yang syar'i. Seseorang menganggap sesat poligami, tapi bungkam dengan zina dan perselingkuhan. 

Kita hidup di zaman, dimana tukang copas dianggap mujadid, sementara seorang Guru Besar dianggap tak tahu permasalahan. Banyak orang tak bisa melihat matahari di siang hari yang cerah, sebab mata telah dibutakan dengan hasad dan kebencian. 

Kita hidup di zaman, dimana sholawatan dipersekusi dan digagalkan, sementara konser dan  dangdutan di dukung dan di biarkan. Akal sehat hilang, sebab digerogoti oleh iri dan dengki. 

Kita hidup di zaman, orang sholeh di anggap ancaman negeri, dan dukun nyleneh di anggap wali. Ajaran sesat diminati, ajaran Nabi sepi dan hampir mati. 

Kita hidup di zaman, orang tua takut anaknya tak bisa makan dan tak punya masa depan, tapi tak takut anaknya apakah jadi soleh dan mendoakan.

Ya Allah lindungi kami, istri dan anak kami dari fitnah akhir zaman. 

Senin, 09 September 2024

Sekelumit Tentang Abah KH. Muhammad Imron Humaidulloh


Abah Imron adalah anak sulung dari pasangan Kyai Humaidulloh dan Nyai Aisyah. Ia adalah figur kakak yang sangat dicintai adik-adiknya. Sosok yang selalu berusaha menjaga kerukunan dengan adik-adiknya. Bahkan banyak dari adik-adiknya yang menganggap kakaknya itu sebagai sosok guru baginya. 

Sebagai seorang guru, Abah Imron adalah sosok yang dikenal telaten dalam mendidik santri. Seorang guru yang meluangkan waktu untuk mengajar santri dari tingkat SP yang merupakan tingkatan paling dasar dalam pendidikan pesantren salaf. Maka pantas saja banyak orang yang menjuluki beliau sebagai sosok murobbi sejati. Yakni sosok yang mengajarkan ilmu-ilmu kecil dan sederhana sebelum ilmu-ilmu besar dan kompleks. al Murobbi man yu'allimuka shighorol ilmi qobla kibarih. 

Banyak murid yang senang dengan cara Abah Imron menjelaskan isi kitab. Dengan bahasa yang lugas dan mudah dipahami, tidak dibuat-buat, sederhana dan apa adanya. Penjelasan yang di paparkan Abah bisa ditangkap oleh lintas usia dan kalangan. Pelajaran yang sebetulnya sulit menjadi mudah dan ringan ketika sudah dijelaskan oleh Abah. Tak heran, santri-santri yang mengaji kepada Abah, ada dari kalangan orang-orang yang sudah berumur. Mereka rela datang dari tempat yang jauh dengan menaiki sepeda onthel sambil menenteng pena dan kitab, demi agar bisa duduk mendengarkan dengan khusyuk isi kitab yang sedang dipaparkan Abah. 

Selepas subuh, biasanya Abah mengajarkan kitab tafsir Murah Labid karya Syeikh Nawawi al Bantani yang diikuti oleh anak-anak santri dan masyarakat umum, kadang juga membaca Dalail al Khairat. Setelah itu beliau mengajar di banyak tempat. Di Madrasah Islamiyah Miftahul Ulum (MIM) , di Pesantren Ar-Ribath al Islamy, dan tentu saja di Madrasah Salafiyah Miftahul Hidayah. Selepas maghrib beliau bersama masyarakat mengaji kitab Nashoihul Ibad dan beberapa kitab lain. Jika datang bulan Rabiul Awwal, beliau mengganti pengajiannya dengan menjelaskan isi dari kitab Burdah milik Imam al Bushiri. 

Sebagai seorang Abid, Abah Imron adalah figur teladan. Beliau adalah sosok yang selalu istiqomah berjamaah di masjid. Dalam keadaan punya wudlu sembari menenteng sajadah dari rumah, beliau melela melangkahkan kaki ke masjid untuk melaksanakan shalat berjamaah meskipun bukan beliau yang mengimami. Beliau dalam hal ini barangkali ibarat fotokopi Abahnya, Kyai Humaidullah. Abahnya adalah sosok kyai yang amat istiqamah dalam shalat jamaah. Bahkan ketika jatuh sakit menjelang wafat, Abahnya tetap melaksanakan shalat dengan berjamaah di masjid meski dengan menaiki becak. 

Hanya shalat maghrib yang tidak beliau kerjakan di masjid, beliau memilih untuk menyisakan satu shalat itu untuk dikerjakan bersama keluarga, berjamaah dengan mereka. Barangkali sebagai sebuah pendidikan bagi anak, dan mengukir kenangan di dalam benak anak-anaknya.

Keistiqomahan beliau dalam berjamaah ini, beliau tularkan kepada para santrinya. Santri-santri yang membantu khidmah di ndalem, di tekankan agar menstop apapun pekerjaan yang sedang dikerjakan ketika kumandang adzan sudah terdengar. Dengan ajaran ini, banyak santri yang merasakan keberkahannya ketika sudah di rumah. Sesibuk apapun mereka di rumah, mereka akan istirahat sebentar ketika adzan berkumandang untuk berjamaah ke Masjid. 

Abah juga sosok yang sangat menjaga shalat malam. Bangun sebelum subuh lantas tenggelam didalam shalat dan munajat adalah rutinitas beliau setiap hari. Setelah itu melalui pengeras suara, beliau dengan sabar membangunkan santri-santri. 

Sebagai seorang ayah. Abah adalah sosok yang sangat dekat dengan anak-anaknya. Beliau adalah sosok yang selalu berupaya menggembirakan anak-anaknya. Meskipun disisi lain beliau juga tetap tegas dalam urusan mendidik anak. 

Beliau seringkali menerapkan model pendidikan dengan cara pemberian hadiah bagi anak yang memenuhi target yang telah beliau tetapkan. Seperti ketika malam jum'at, beliau seringkali menghimbau anak-anak agar memperbanyak shalawat. Jika mencapai target yang ditentukan, mereka akan mendapatkan hadiah dari abah. Ketika ada anaknya mendapatkan juara kelas, beliau juga menawarkan hadiah untuk mereka. 

Beliau melarang anak-anak untuk menonton televisi setelah maghrib. Waktu maghrib adalah waktu yang wajib dipakai anak-anak untuk mengaji. Meskipun abah dalam satu waktu tegas, akan tetapi Abah bukan sosok ayah yang ringan tangan. Beliau ketika memarahi anaknya biasanya hanya dengan menjewer tanpa menarik telinga. Model jeweran yang tidak terasa sakit sama sekali.

Abah adalah sosok yang sangat penyayang. Sosok yang suka mengalah. Sosok penyabar dalam menghadapi perilaku zalim yang dilancarkan kepada beliau. Beliau selalu yakin bahwa Allah membersamai orang yang sabar. 

Abah adalah sosok kyai dampar yang tak pintar berpidato dan berorasi, bukan orang yang pintar merangkai kata indah hingga membuat orang terkagum. Meskipun begitu, abah adalah sosok yang amat disegani dan berwibawa. Beliau adalah sosok yang kata-katanya didengar dan dipatuhi oleh orang.

Cerita-cerita aneh mengenai Abah

Ada seorang guru di MIM yang bernama KH. Islah yang sedang duduk-duduk di kantor, tiba-tiba Abah menyodorkan kepadanya secarik kertas bertuliskan doa sembari mengatakan: " Is, iki dongo kanggo mitoni." Maka tanpa berpikir, ia langsung menerima ijazah itu sambil mengatakan "Oh nggeh kulo tampi, Qobiltu". Padahal ia tidak pernah meminta doa tadi dari Abah. Namun ternyata sekarang doa itu sangat bermanfaat sebab ia seringkali di undang untuk memimpin doa mitoni. Selamatan ketika usia kandungan tujuh bulan. Seolah Abah tahu bahwa ia suatu saat akan mendapatkan amanah dari orang-orang untuk memimpin doa mitoni. 

Hal serupa juga terjadi dengan seorang santri yang bernama Kyai Muhaimin. Ketika nyantri ia seringkali diminta untuk menggunting rambut Abah. Ternyata ketika dirumah ia memiliki kecakapan dalam menjahit secara otodidak. Sebuah profesi yang tidak pernah ia pelajari di Pesantren. Menggunting kain, lalu menjahitnya menjadi berbagai bentuk pakaian.

Suatu hari di MIM ada acara, lalu Kyai Abrori Sukomulyo mendapatkan tugas untuk menyampaikan sambutan. Ketika turun dari podium, Abah mengatakan padanya, " Sok mben awakmu dedi muballigh." Ternyata kini ia benar-benar menjadi seorang muballigh kondang yang ceramah kemana-mana. 

Ada juga santri asal Brebes bernama Kang Basri yang diminta memijat Abah. Selesai memijat Abah mengatakan padanya: "Kang tanganmu apik, sesuk  fatihahmu mandi dadi tukang pijet." Ternyata dia setelah pulang benar-benar menjadi tukang pijat yang bisa mengobati berbagai penyakit dengan pijat dan suwuknya.

اللهم اجعلنا خير خلف لخير سلف
Kaliwungu, 1 Mei 2024