Jumat, 29 Januari 2021

TENTANG KEPEKAAN

Al hur yakfi bil isyarah, wal Abd yuqro'u bil Asha. Seorang yang merdeka cukup diberitahu dengan memakai isyarat. Sementara hamba sahaya harus dipukul dulu dengan tongkat...

Seorang santri semestinya melatih kepekaannya sampai ia faham dengan hanya diberi isyarat. Sebab ada banyak hal yang tak mudah di sampaikan oleh orang lain dengan bahasa terus terang.

Lebih-lebih jika ia hendak masuk dalam dunia khidmah. Ia harus faham apa yang dikehendaki seorang Guru meskipun sang Guru tak mengucapkan satu patah kata sekalipun.

Ia bisa membaca bahasa tubuh sang Guru, membaca diamnya, tatapan mata, isyarat tangan, isyarat tubuh, sehingga ia mengerti apa yang dibutuhkan atau yang diinginkan oleh gurunya.

Memahami isyarat teramat penting. Dan itu merupakan tanda kepekaan seseorang. Orang-orang yang tidak peka tidak akan bisa memahami isyarat. Orang-orang yang tak memahami isyarat, ia takkan mampu menyajikan khidmah atau layanan terbaiknya.

Padahal seorang pemimpin suatu kaum adalah pelayan kaum itu. Maka orang yang tak mampu memahami isyarat, tak layak menduduki posisi pemimpin. Karena seorang pemimpin harus peka terhadap kebutuhan dan keinginan orang-orang yang dipimpinnya. Sementara mereka terkadang tidak akan pernah menyampaikan semua itu dengan cara terus terang.

Lalu bagaimana jika seseorang sudah diberitahu dengan panjang lebar, lalu ia tetap saja tidak paham? Memang menyedihkan jika kita dipertemukan dengan orang semacam ini. Menguras energi dan kesabaran. Ia ibarat hamba sahaya atau delman yang hanya faham ketika kita memakai pukulan. Jika orang semacam ini menjadi pemimpin, maka bisa dipastikan jika orang yang berada dibawah naungannya akan banyak mengeluh meski hanya di dalam hati.

Tak heran, demikian pentingnya kepekaan. Sering ada yang menyatakan bahwa kepekaan diatas ilmu. Ad-Dzauq Fauqol Ilm. Kepekaan ini bisa dilatih dengan memperhatikan sesuatu paling kecil sekalipun. Semisal ketika ada tamu, lalu kita hendak menyuguhkan secangkir teh, kita putar tangkai cangkir itu hingga berada di hadapan tamu, sehingga mudah baginya untuk mengambil cangkir itu kala meminumnya. Atau dengan memutar sandal tamu sehingga ketika ia pamit, ia bisa langsung dengan mudah mengenakannya. Semua itu hanya bisa dipraktekkan bagi mereka yang punya kepekaan yang baik. Memahami sesuatu meski tanpa sepatah kata.

Akhir catatan: Terkadang kita hanya ingin dimengerti tapi tak mau mengerti, ingin dipahami padahal sulit memahami, ingin didengar tanpa pintar mendengar, ingin diperhatikan padahal enggan memperhatikan, ingin ditanya kabar padahal tak sekalipun bertanya kabar. Sepertinya mereka ini golongan yang memiliki tingkat kepekaan yang menyedihkan, semoga bukan kita. Aamiin

Cairo, 24 Januari 2021

AMAL ANDALAN

Seseorang yang di beri taufiq untuk melakukan amal terkadang dihadapkan pada penyakit merasa dalam beramal. Merasa lebih baik dan lebih sholih dari yang lain. Perasaan sombong tanpa sadar menyembul keluar dari dirinya.

Jika ia rajin jamaah ke masjid lalu melihat orang lain yang tak pernah jamaah, muncul perasaan meremehkan. Jika ia bisa bangun malam, lalu melihat orang lain terlelap dalam tidur. Hadir perasaan bangga diri. Jika ia rajin berpuasa, ia memandang orang lain dengan perasaan merendahkan.

Dalam hal ini, Ibn Athaillah as-Sakandary telah mengatakan:
رُبَّ معصية أورثت ذلاً وإنكساراً
خيرٌ من طاعة أورثت عزاً وإستكباراً
Banyak kemaksiatan yang melahirkan rasa rendah dan menyesal lebih baik dari ketaatan yang mewariskan tinggi hati dan sombong.

Masing-masing dari kita biasanya diberi taufiq dalam menjalankan amal tertentu. Ada orang yang sangat ringan membantu orang lain, meski shalatnya lebih banyak sendirian, berat melangkahkan kaki ke masjid. Sebaliknya ada orang yang ringan sekali pergi ke masjid, tapi amat berat membantu orang lain. 

Ada orang yang sangat rajin berangkat ke majlis taklim, tapi amat sulit dimintai infaq atau proposal. Sebaliknya ada yang ringan sekali ketika dimintai infaq atau proposal meski ia tidak pernah datang ke majlis taklim.

Ada yang ringan dalam bangun malam. Ada yang ringan dalam berpuasa. Ada yang ringan dalam membaca Al-Qur'an. Ada yang ringan dalam bersalawat. Ada yang ringan dalam membaca buku. Ada yang ringan dalam memenuhi hajat saudaranya. Ada yang ringan bersedekah. Dan lain sebagainya. 

Kita di buat ringan dalam melakukan sebuah ibadah tidak untuk memandang orang lain rendah ketika ia belum dapat melakukan seperti apa yang kita lakukan. Meski tentu saja kita dianjurkan untuk mengajak mereka dalam kebaikan, terus mendoakan agar mereka diberi taufiq. 

Kita memang dituntut agar memiliki amal andalan. Amalan yang kita harap semoga bisa mendatangkan ridlo Allah. Seperti apa yang dilakukan Sayyidina Bilal bin Rabah, yang selalu menjaga wudlu dan shalat dua rakaat setelah wudlu. Sehingga suara sandalnya terdengar oleh Nabi di surga. Maka semoga ibadah yang kita merasa ringan menjalankannya itu yang bisa menjadi amal andalan dan mendatangkan ridlo Allah.

Kita terkadang masih sering memandang rendah para pelaku maksiat. Padahal ketika mereka bermaksiat dan muncul rasa hina,  bersalah dan menyesal di dalam hati. Hal itu justru lebih baik daripada kita yang suatu ketaatan justru mewariskan rasa bangga diri dan memandang rendah orang lain.

Padahal kita tidak pernah tahu, bisa jadi semua amal yang kita perbuat tidak ada yang mendatangkan ridlo Allah, hangus sia-sia. Dan bisa jadi rasa hina dan bersalah dari mereka pelaku maksiat mendatangkan ridlo Allah sehingga diterima taubatnya.

Kita tidak pernah tahu amal apa yang berhasil membuat Allah ridlo. Bisa jadi sebuah hal yang remeh yang kita lakukan justru membuat Allah ridlo. Sementara haji, shalat, puasa dan lain-lainnya tak bisa membuat Allah ridlo. 

Imam Syafi'i mendapat ridlo Allah hanya karena shalawat yang ia tulis di kitab al Umm miliknya. Imam Ghozali mendapat ridlo Allah hanya karena membiarkan seekor lalat yang kehausan meminum air di wadah tintanya. 

Kita juga tidak boleh meremehkan dosa sekecil apapun. Karena kita tidak pernah tau. Bisa jadi dosa yang kita pandang kecil justru yang membuat Allah murka.

Cairo, 30 Januari 2021

Kamis, 28 Januari 2021

Aku Menemukan Sosok Ayah Yang Lain

Masih terngiang di benak, betapa saat di tinggalkan sosok ayah, adalah saat terberat dalam hidupku. Saat itu aku masih SMP, namun ada yang diam-diam menyayangiku, membasuh sakitnya dengan kasih sayang, dia adalah sosok seorang paman.

Pamanku punya cinta yang besar terhadap keponakannya. Dari mula sekolah di SMP, aku tak pernah bayar SPP. SPPku selalu sudah dibayarkan bahkan sampai bulan-bulan setelahnya. Lalu disetiap tahun ajaran baru datang, kami selalu diajak ke mall untuk membeli sepatu baru. Moment tahunan itu masih selalu membekas di memoriku. Waktu itu aku selalu sengaja mengambil sepatu termahal. Tapi paman selalu siap membayarkan. 

Aku juga masih ingat, dikala mondok di Lirboyo, tak jarang paman melalui kakakku memberiku tambahan uang. Waktu lebaran tiba, paman selalu membagikan angpau merah kesukaan. Terlebih dikala aku pamit belajar ke Mesir, entah berapa ratus dollar yang paman berikan, aku sampai lupa nilainya. 

Belum lama di Mesir, aku kehilangan permata hatiku yang lain, sosok ibu, wanita tegar yang punya rasa sabar yang besar, merawat dan membesarkan kami tanpa ayah. Hari itu hari yang amat berat bagiku. Tapi paman selalu hadir menguatkan kami, keponakan-keponakannya. 

Waktu itu aku pulang ke rumah. Ternyata hari dimana aku berangkat ke Mesir adalah hari terakhir aku melihat raut wajah ibuku. Sampai di rumah, ibu sudah di kebumikan. Hari yang berat sekali. Tapi paman selalu memotivasi, dan menguatkan, katanya apapun yang terjadi, kamu harus sampai selesai dalam studi. Karena itu adalah salah satu harapan ibumu.

Selepas kembali ke Mesir, tak lama kemudian pamanku meminta nomor rekening, aku tak menyangka paman mengirimiku uang yang amat banyak, 10 juta rupiah, demi mendukung studiku di Mesir. 

Paman masih selalu sering menanyakan kabarku, disela-sela kesibukannya. Aku yakin nama kami selalu ada di tiap doa-doa yang paman langitkan. Doa-doa indah untuk kesuksesan keponakan-keponakannya yang sudah seperti anaknya sendiri.

Paman bagiku layaknya embun yang menyegarkan. Oase bagi kami yang masih haus kasih sayang. Memang benar, paman adalah figur ayah, selepas ayah. 

Aku takkan pernah bisa membalas budi paman. Aku hanya mampu untuk terus berdoa agar semoga paman selalu diberi kesehatan dan umur panjang. Hajat-hajatnya terkabulkan, urusannya dilancarkan. Agar selalu dapat membimbing kami anak-anak yang semenjak belia sudah kehilangan sosok ayah. 

Salam cinta yang teramat dalam untuk paman dari negeri Kinanah.


_Cairo, 28 Januari 2021_

Selasa, 19 Januari 2021

ZUHUD

Ada yang pakaiannya bagus akan tetapi ia zuhud. Ada yang pakaiannya lusuh akan tetapi ia sebenarnya tidak zuhud.

Ada yang pakaiannya lusuh dan ia zuhud. Ada yang pakaiannya bagus dan ia memang tidak zuhud.

Zuhud tentang hati. Bukan tentang penampilan. Bagaimana meletakkan dunia hanya di tangan, tiada masuk ke hati.

Meletakkannya di tangan berarti ringan dalam berderma. Tidak bersedih ketika hilang ataupun sirna.

Jangan mengaku zuhud, kalau berinfaq saja masih berat. Ada pengemis dan yang membutuhkan seolah tidak melihat. Atau ketika ada proposal datang kita menghilang.

Jangan mengaku zuhud, kalau dompet di copet, sedih berhari-hari seperti kehilangan kekasih.

Jangan mengaku zuhud, hanya gara-gara tidak pernah beli baju, tidak pernah makan enak. Jangan-jangan itu bukan zuhud. Akan tetapi kikir pada diri sendiri. Kalau memang zuhud, maka ia akan ringan mengeluarkan uangnya untuk orang lain. Di buat menyambung silaturrahim. Membantu orang yang membutuhkan.

Seperti pula kaya dan miskin. Tidak benar kalau orang kaya maka otomatis dia dianggap cinta dunia. Dan kalau miskin maka otomatis dia tidak cinta dunia.

Sebab cinta dunia ini letaknya juga di hati. Tidak berkaitan dengan kaya ataupun miskin. Maka jangan heran kalau kau melihat adalah orang kaya akan tetapi ia tidak cinta dunia, dan disisi lain ada orang miskin tidak punya apa-apa tapi dia amat cinta dunia.

Orang yang kaya. Hobi berderma seperti sosok Sayyidina Usman bin Affan ataupun Abdurrahman bin Auf. Mereka adalah figur-figur pembenci dunia. Akan tetapi sebanyak apa mereka menginfakkan, sebanyak itu pula dunia kembali mengejar. Harta mereka justru membuat mereka semakin dekat dengan Allah. Tidak melalaikan.

Di sisi lain ada yang berkekurangan. Akan tetapi mereka amat cinta dengan dunia. Merasa khawatir dengan hidup. Akan tetapi tidak khawatir dengan hari pembalasan. Padahal rizqi sudah terbagi. Sementara amal adalah hal yang di minta. Mereka bekerja banting banting tulang sampai melupakan shalat dan ibadah wajib. Kehidupan dunia bagi mereka sudah tak nyaman, akan tetapi justru malah semakin melalaikan dan menjauhkan dari Allah. Pada dasarnya mereka ini amat cinta dengan dunia.

Cairo, 19 Januari 2021

Jumat, 01 Januari 2021

CERITA TENTANG NABI ISA AS


Nabi Isa adalah seorang Nabi yang diutus 572 tahun sebelum Sang Kinasih. Tidak ada Nabi lain di antara Nabi Isa dan Kinasih. 

Nabi Isa satu zaman dengan kakek Sang Kinasih shallallahu alaihi wasallam yang bernama Adnan. Jika Nabi Isa adalah Nabi pada masanya, maka Sayyid Adnan adalah Qutbnya pada saat itu.

Nabi Isa terlahir pada tanggal Satu Januari, dan itu jelas. Sebab yang di jadikan sebagai penentuan penanggalan Masehi adalah kelahiran Nabi Isa.

وسلام علي يوم ولدت و يوم أموت و يوم أبعث حيا
Dan kedamaian atasku dihari kelahiranku, hari kewafatanku, dan hari aku di bangkitkan lagi.

Hari kelahiran Nabi Isa adalah hari yang penuh dengan kedamaian dan keberkahan. Ia terlahir mirip seperti Nabi Adam. Jika Nabi Adam terlahir tanpa ayah dan ibu. Maka Ia terlahir dengan tanpa ayah. Hal ini untuk menunjukkan kekuasaan Allah yang maha sempurna.

Sayyidah Maryam dituduh dengan tuduhan yang amat jelek dan menyakitkan dengan kelahiran Nabi Isa oleh orang-orang Bani Israil. Mereka menduga bahwa Sayyidah Maryam telah berzina dengan Nabi Zakariya. Pada saat itu usia Sayyidah Maryam masih tergolong belia. Namun ia kuat menanggung tuduhan keji itu, tuduhan yang kebanyakan orang tidak akan mampu memikulnya, karena kekuatan iman yang luar biasa yang dimiliki Sayyidah Maryam. 

Karena ia sedang tidak boleh bicara, maka ia hanya berisyarat agar mereka menanyai bayinya secara langsung. Dan bayi itu berkata: "Aku adalah hamba Allah, Allah memberiku kitab suci, dan menjadikanku sebagai Nabi dan menjadikanku sebagai keberkahan dimanapun aku berada.."

Bani Israil tidak membunuh dan mensalib Nabi Isa. Akan tetapi yang di bunuh dan di salib adalah orang lain yang wajahnya dijelma menjadi mirip Nabi Isa. Sementara Nabi Isa di angkat ke langit.

Nabi Isa pada saat di angkat, ia dalam kondisi tidur pulas. Hal itu agar ia tidak merasakan beratnya perjalanan naik ke langit. Berbeda dengan Sang Kinasih yang ketika Isra' Mi'raj diangkat dalam kondisi terjaga. Sebab ketahanan beliau yang sempurna. Dan supaya menunjukkan bahwa Para Nabi memiliki derajat yang berbeda-beda. Dan Sang Kinasih memiliki derajat jauh di atas Nabi Isa.

Sang Kinasih diangkat melewati seluruh langit bahkan lebih dengan tetap memakai pakaian dan sandalnya yang beliau kenakan ketika berangkat. Beliau mampu masuk ke tempat dimana Malaikat Jibril tak bisa masuk ke sana. Qoba qousain atau lebih dekat lagi.

Nabi Isa diangkat ke langit hanya sampai langit ke dua saja. Lalu ketika Sang Kinasih bermi'raj, keduanya bertemu secara langsung disana. Maka Nabi Isa juga merupakan sahabat, sebab menjumpai Rasulullah secara langsung ketika mi'raj. Bahkan ia adalah sahabt terbaik, karena selain sahabat ia juga seeorang Nabi dan Rasul. Ia tinggal di langit ke dua bersama Nabi Yahya, sepupu dari pihak ibu.

Suatu saat Nabi Isa akan diturunkan ke bumi, setelah didahului dengan turunnya al Mahdi bin Abdillah. 

Selama 8 tahun di zaman al Mahdi semuanya berupa peperangan. Karena Orang-orang muslim dibawah satu komando al Mahdi, maka orang-orang kafir berusaha terus memerangi. 

Hingga muncul al Masih Dajjal, Nabi Isa di turunkan ke bumi ketika orang-orang hendak melaksanakan shalat subuh di Masjid Damaskus. Ia shalat di belakang al Mahdi. Ia memakai pakaian berwarna kuning, dengan rambutnya yang lurus tidak keriting, kulit putih kemerah-merahan, tidak tinggi juga tidak pendek, dengan dada yang bidang, otot yang panjang. Nabi Isa turun dengan usia seperti ketika ia di angkat. Sebab seribu tahun di bumi setara satu menit di langit. Ia tidak merasa haus ataupun lapar karena hanya beberapa menit saja di langit.

Ketika al Mahdi tahu kehadiran Nabi Isa, ia mempersilahkan untuk menjadi imam, tetapi Nabi Isa menolak. Tidak, imam kalian dari kalian.

Selepas shalat, al Mahdi menyerahkan panji perang kepada Nabi Isa, jadilah ia salah satu wazirnya. Mereka berangkat berperang memerangi orang-orang Yahudi. Dan pada akhirnya berhasil membunuh Dajjal di Babilonia, sebuah daerah dekat dengan Quds.

Orang-orang Nasrani ketika melihat Nabi Isa turun, mereka banyak yang berbondong-bondong memeluk Islam. Maka musuh Islam hanya tersisa Yahudi saja. Orang-orang yang menjadi sumber kekacauan di bumi.

Nabi Isa akan menerapkan jizyah, membunuh babi, menghancurkan salib. Sebuah simbol di agama Nasrani yang menyatakan bahwa Nabi Isa di salib, padahal tidak disalib.

Setelah orang-orang Yahudi musnah. Sekitar sepuluh tahun setelah itu. Muncul dari golongan manusia bernama Ya'juj dan Ma'juj yang jumlahnya amat banyak dari China. Ya'juj Ma'juj memakan apa saja yang bergerak, serangga, hingga manusia, meminum air sungai hingga habis. Lalu Nabi Isa memerintah orang-orang ke gunung. Tidak perlu melakukan perlawanan. Ia berdoa kepada Allah setelah salat jamaah, agar Ya'juj Ma'juj di angkat. Akhirnya Allah mengirim wabah kepada mereka dan musnah. Akan tetapi bangkai mereka membuat bau di jalan-jalan. Maka Allah mengutus burung-burung memindahkan bangkai mereka. Lalu hujan turun selama 40 hari berturut-turut demi menghilangkan bau busuk mereka. Setelah itu kaum muslimin hidup dengan tentram dan bahagia bersama Nabi Isa.

Nabi Isa di angkat pada usia 33 tahun dan setelah turun akan hidup 40 tahun. Karena ia masih jomblo ketika diangkat ke langit, maka setelah di turunkan ia akan menikah dengan perempuan mesir. 

Maka pada usia 73 tahun, ia meninggal dunia, di shalatkan oleh orang-orang Muslim dan di kebumikan di samping Sang Kinasih di Madinah, shallallahu alaihi wasallam.

Cairo, 2 Januari 2021

Sumber: Khutbah Jum'at Maulana Syeikh Yusri Rusydi al Hasani, 1 Januari 2021