Kamis, 03 Agustus 2017

Kawal Terus Hatimu

Sobat fillah...
Kita hidup dalam sebuah bentang waktu yang pada suatu saat akan dimintai laporan oleh Sang Maha. Apapun nikmat yang pernah diberikan oleh-Nya pada akhirnya akan ditanyakan kembali, Dipakai untuk apa semua itu?

Apalagi nikmat itu berupa ilmu, harta yang melimpah, atau fisik yang pemberani untuk berperang. Tiga nikmat itu sebenarnya modal yang amat besar untuk meraih surga-Nya, namun jika salah penggunaan justru bisa jadi kita dijebloskan ke neraka gara-gara tiga nikmat itu.

Ada kisah menarik yang perlu kita kontemplasi dari sahabat Abi Hurairah, simak baik-baik.

Suatu saat Syufya al Ashbahi bertanya kepada Abu Hurairah,
"Wahai Abu Hurairah, kisahkan sama aku satu hadits yang kau mengerti, kau fahami, yang pernah kau dengar dari Rasulillah shallallahu alaihi wasallam."

"Iya, aku akan kisahkan sebuah hadits yang aku mengerti yang aku fahami yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam"

Tetiba Abu Hurairah pingsan, sesaat kemudian ia kembali siuman dan kembali berkata:

"Aku akan kisahkan sebuah hadits yang aku mengerti yang aku fahami yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di rumah ini, tak ada orang lain selain aku dan Ia."

Abu Hurairah mendadak kembali pingsan, sekejap kemudian ia kembali siuman lantas ia mengusap wajahnya, dan kembali berkata:

"Aku akan kisahkan sebuah hadits yang Rasulillah ceritakan padaku, aku dan Ia di rumah ini, tak ada yang bersamanya selain aku dan Ia."

Lagi-lagi tiba-tiba Abu Hurairah kembali pingsan, sejenak kemudian ia kembali siuman lalu ia mengusap wajahnya, dan kembali berkata:

"Aku akan kisahkan sebuah hadits yang Rasulillah ceritakan padaku, aku bersamanya di rumah ini, tak ada orang lain bersamanya selain aku dan Ia."

Tetiba ia kembali pingsan, kali ini ia pingsan begitu berat, aku sandarkan ia begitu lama, akhirnya ia siuman kembali, ia pun berkata:

"Sungguh Allah ta'ala tatkala hari qiyamat turun kepada hamba-Nya untuk memutuskan balasan kepada mereka, semuanya berlutut, hamba yang pertama kali mendapatkan panggilan adalah seorang ahli al-Qur'an, seseorang yang berperang di jalan Allah, dan seseorang yang memiliki banyak harta."

Lantas Allah berfirman kepada ahli al-Qur'an, "Bukankah Aku telah ajarkan padamu apa yang aku turunkan kepada Rasul-Ku?"
"Tentu saja ya Allah"
" Apa yang telah kau lakukan dengan ilmu yang kau ketahui?"
"Aku pakai ia siang malam ya Allah"
"Bohong kau! kau hanya ingin di panggil dengan 'Fulan seorang qori' dan orang-orang telah mengatakannya!!!"

Lalu didatangkanlah pemilik harta, Allah berfirman padanya :
"Bukankah Aku telah luaskan harta benda untukmu, sampai Aku tak pernah membiarkanmu butuh kepada orang lain?"
"Tentu saja ya Allah"
" Apa yang telah kau lakukan dengan harta benda yang aku datangkan?"
"Aku pakai untuk menjalin silaturrahim dan bersedekah"
"Bohong kau! Kau hanya ingin di katakan "Fulan seorang yang dermawan" dan orang-orang telah mengatakannya!!!"

Lalu di datangkanlah pejuang dijalan Allah, Allah berfirman padanya:
"Kenapa kau terbunuh?"
"Aku diperintah untuk berjuang dijalan Allah, maka aku berperang hingga aku terbunuh"
"Bohong kau! Kau hanya ingin disebut "Fulan seorang pemberani" dan orang-orang telah mengatakannya!!!"

Selepas itu, Rasulillah memukul lututku lalu bersabda, "Abu Hurairah, tiga orang itulah makhluk yang pertama kali dimasukkan ke neraka pada hari qiyamat!"

Kita lihat betapa mengerikan hal ini, sampai Abu Hurairah RA tiada kuat untuk menceritakan hadits diatas, ia bahkan berkali-kali harus pingsan, sebab ia tak kuat, tak kuat untuk menceritakan hadits tentang hal ini, satu hadits tentang riya’ dan sum’ah. Betapa memang penyakit ini demikian halus, demikian mengerikan. Kadzabta! Bohong kamu, kamu hanya mengejar popularitas, ingin dikatakan dermawan dengan sedekahmu, ingin dipanggil qori’ dengan bacaan qur’anmu, ingin dianggap pemberani dengan maju perangmu, kamu bohong!

Maka seseorang harus mengusahakan perbaikan niat dalam setiap aktivitas yang ia lakukan, sebab dikala niat rusak meski aktivitas yang kita lakukan terbilang baik bisa jadi justru ia yang akan menyeret kita ke neraka.

Ilahi anta maqshudi waridloka mathlubi.

Robbana taqobbal minna, ya Allah terimalah dari kami (amalan kami).

Salam.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar