Ta'allam Tsumma Takallam
Oleh: shabieqelhimam.blogspot.com
Ta'allam tsumma takallam. Belajarlah dulu baru bicara! Sebuah pesan bijak yang seringkali di sampaikan oleh As-Syahid Syeikh Said Romadlon Al Buthy.
Kini kita hidup pada zaman dimana banyak orang dungu berbicara tentang agama. Hanya berbekal kepandaian olah kata, ia sudah bak Kyai kesana kemari menceramahi orang-orang. Hanya berbekal sedikit kuota, di bantu dengan guru tiada tanding tanpa rupa Syeikh Ghoughol, ia mampu menjelma menjadi seorang Dai di mimbar-mimbar.
Apa mereka tak tahu, bahwa agama ini tak cukup jika hanya dipelajari dengan kursus kilat. Apa mereka tak mengerti, jika agama ini tak bisa hanya dipelajari melalui modal rajin membaca. Apalagi hanya bisa membaca buku terjemahan.
Ketahuilah bahwa agama ini di pelajari harus dengan bimbingan seorang guru pendidik yang kompeten, guru murobby yang ilmunya bukan sekedar maklumat tapi telah menjelma menjadi mafahim, yang ilmunya tidak sekedar teoritis tapi lebih kepada praktis, yang sanad keguruannya sambung sampai kepada Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Maka tak heran jika dalam mempelajari agama diperlukan waktu berpuluh-puluh tahun, thulizzaman sebagai prasyarat keberhasilan seorang tholib. Tidak dengan cara instan, apalagi cuma berbekal buku-buku terjemahan.
Dzaka', cerdas. Hirs, semangat. Isthibar, sabar. Bulghoh, biaya. Irsyadul ustadz, bimbingan guru. Thulizzaman, waktu belajar yang lama. Adalah sekian prasyarat yang harus dipenuhi oleh para tholib.
Sekarang kita hidup pada zaman dimana semua orang bisa ikut berbicara dan menulis apa saja. Berbekal kelihaian copas sana sini. Tulisan di ramu sedemikian rupa. Lalu di publish ke khalayak sehingga semuanya bisa membaca. Maka jika kemudian sekian orang mengambil ilmu dari orang model semacam itu. Bukankah sisi madlorotnya akan lebih masif ketimbang sisi manfaatnya. Bukankah ia tidak hanya sesat namun juga menyesatkan banyak orang.
Miris. disinilah pentingnya memeriksa sanad keilmuan seorang guru. Sebab banyak sekali kini manusia-manusia bernuansa Islami yang setelah di telusuri ternyata gurunya adalah buku, ternyata gurunya adalah Syeikh Ghoughol yang pada puncak sanad bersambung kepada Setan.
As-Sanad minaddin fanzhur 'an man ta'khudzuna dinakum. Sanad adalah bagian dari agama, maka lihat dari siapa kau ambil agamamu.
Ayolah para akhi-akhi. Agama ini tak cukup hanya dipelajari melalui radio atau televisi. Youtube maupun facebook. Mencari seorang guru murobby adalah keniscayaan bagi seorang hamba yang mengaku beriman.
Periksa di sekitar tempat tinggal kita siapa yang bisa kita jadikan guru dalam masalah agama. Dimana kita bisa bertanya kala kebingungan menerpa. Kita bisa berhati-hati dalam menjalankan agama di dunia ini.
Kita harus merenungkan kembali bahwa kita terlahir di dunia hanya untuk beribadah kepada-Nya. Maka mempelajari ilmu agama adalah tugas setiap muslim yang beriman, bukan cuma tugas santri dan kaum sarungan.
Kaliwungu, 27 Agustus 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar