Jumat, 11 Agustus 2017

Menyoal Full Day School

Gila memang bermacam-macam. Salah satunya adalah dengan menerapkan peraturan wajib sekolah gaya baru yang kerap di sebut sebagai Full Day School secara menyeluruh.

Berangkat sekolah pagi-pagi sekali pukul 7.00, pulang sampai rumah pukul 15.30. Seolah semua orang memiliki energi otak dan badan yang kuat diforsir selama itu. Sebuah kegilaan bentuk kesekian.

Teringat dulu jaman sekolah, selepas zhuhur saja otak dan raga sudah demikian penat. Sekian kawan di kelas matanya sudah mulai lima watt. Betapa sekolah sampai minimal setengah empat bukankah tambah capek dan tak maksimal.

Seseorang butuh dicerdaskan dengan cara yang cerdas. Seseorang perlu di ajar tentang sikap bijak dengan cara yang bijak. Maka mari mencerdaskan siswa dengan cara yang cerdas, ayo mengajarkan bersikap bijak dengan kebijakan yang bijak.

Program semacam itu hanya akan berdampak pada Dekadensi Moral yang semakin parah. Sebab Siswa tak hanya butuh ilmu pengetahuan kekinian yang hanya mengolah intelegensi otak. Akan tetapi mereka sangat butuh dengan ilmu-ilmu agama, akhlaq dan karakter building untuk mengukuhkan intelegensi emosional dan spiritualnya.

Masih melekat dalam ingatan. Betapa sekian kawan dikala dulu sudah duduk di bangku SMA mereka demikian jauh dengan agamanya. Mereka banyak yang Islam tapi tak begitu mengenal Islam. Dari sekian siswa di kelas hanya beberapa gelintir orang yang bisa membaca Al-Qur'an. Dan tentu saja seratus persen siswa yang bisa membaca adalah mereka yang juga menjadi santri TPQ dan Madrasah kala sore hari.

Bagi mereka yang orang tuanya acuh terhadap TPQ dan Madrasah Diniyyah jangan lagi kau tanya, mereka tahu apa tentang agamanya kecuali beberapa hal yang amat sedikit. Lalu bagaimana gambaran Indonesia jika pendidikan TPQ dan Madrasah Diniyyah dikebiri eksistensinya dengan kewajiban Full Day School di seluruh Sekolah.

Kau tahu berapa porsi Mapel Agama di Sekolah SMP dan SMA-ku dulu? Hanya dua jam pelajaran sepekan. Maka kau bisa bayangkan betapa seorang Anak Muslim menerima pendidikan keagamaannya dengan porsi yang amat minim. Untungnya ada TPQ dan Madrasah di sore hari yang menutup kekurangan itu semua.

Kau bisa tanya mereka, dari mana mereka tahu tata cara Shalat, darimana mereka bisa membaca Al-Qur'an, bagaimana beradab dan berakhlaq, dan sekian pengetahuan agama yang lain. Dari sekolah pagi kah? Atau sekolah sore? Maka bisa dipastikan jawabannya adalah dari Surau, TPQ dan Madrasah Diniyyah, bukan SD, SMP atau SMA.

Seharusnya yang dilakukan Pemerintah adalah membantu pengembangan TPQ, Madrasah Diniyyah, dan Pondok Pesantren. Menggaji Ustad Ustadzahnya. Mengembangkan infrastrukturnya. Kalau perlu meletakkan Ragam Pendidikan semacam ini kedalam Pendidikan Formal di bawah Kemendikbud. Bukan malah sedikit demi sedikit menggerus eksistensinya yang semenjak dulu dengan mandiri dan terseok dipertahankan.

Tidakkah kau lihat betapa pahlawan tanpa tanda jasa yang sebenarnya adalah mereka para guru ngaji di Surau, TPQ dan Madrasah Diniyyah? Tanpa Gaji sepeserpun tetap saja mereka dengan semangat membara berangkat. Dengan mengantongi jargon In Ajriya illa Alalloh mereka selalu punya harapan dan ghirah yang besar dalam mendidik santri-santrinya. Lalu kini kau ingin memadamkannya. Tidakkah mata hatimu terbuka wahai pemegang Kebijakan.

Jika ada sekolah yang hendak menerapkan Full Day School silahkan, orang tua sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dengan perkembangan anak yang akan menentukan. Apakah mereka akan memasukkan anaknya kepada Pendidikan yang hanya mementingkan Kecerdasan Otak saja, atau Pendidikan yang mementingkan Kecerdasan Otak, hati dan Spiritual. Orang tua yang punya hati nurani tentu saja memilih Sekolah yang tidak hanya mementingkan Kecerdasan Otak.

Memang seharusnya pemisahan Mapel Agama dan Ilmu-ilmu yang lain tidak terjadi. Tapi Dikotomi pendidikan semacam ini dari semenjak dahulu masih senantiasa saja di pertahankan. Seharusnya di semua jenjang mulai pendidikan paling dasar sekalipun, porsi Mapel agama diberi tempat yang luas. Aqidah, Akhlaq, Sejarah Islam, Fiqh, Al-Qur'an dan Hadits, dan Bahasa Arab menjadi pelajaran wajib di semua tingkatan di Sekolah manapun. Tentu saja hal ini hanya wajib bagi siswa Muslim saja. Sehingga output pendidikan pada akhirnya akan maksimal. Akan lahir sekian Ilmuwan Muslim, Ekonom, Politikus, TNi, Polri dan sekian Pakar di seluruh bidang lainnya yang memiliki Iman Islam yang luar biasa.

Jika ini yang dimaksud dengan Full Day School, maka silahkan memberlakukannya. Hanya saja hari Sabtu tetap saja masuk sehingga pelajaran berakhir maksimal pukul 01.30. Sehingga masih ada waktu bagi siswa untuk rehat sejenak memulihkan stamina untuk kembali masuk di TPQ maupun Madrasah Diniyyah. Inilah Full Day School yang seharusnya. Full Ilmu, Full Iman, dan Full Amal.

Tulisan ini hanya jeritan hati seorang santri yang dahulu pernah merasakan bagaimana menjadi siswa sekolah. Kau tahu waktu itu internet dan pergaulan bebas belum semasif sekarang. Namun nyatanya beberapa kawan hamil di luar nikah, mereka yang hobi minum juga ada saja. Maka sekarang tak lagi terbayangkan betapa ngerinya membayangkan kehidupan siswa pada umumnya di sekolah-sekolah. Allahumma sallim sallim.

Jika saya menjadi orang tua. Maka saya akan memilih memasukkan anak saya di Full Day School yang sebenarnya. Apalagi kalau bukan Pondok Pesantren. Sehingga anak tidak hanya cerdas dalam otak saja, akan tetapi juga punya ketaqwaan, keimanan, dan amal yang baik. Intelegensi Emosi dan Spiritual yang mengagumkan. 


Semoga bermanfaat.

Jum'at 11 Agustus 2017








Tidak ada komentar:

Posting Komentar