Selasa, 22 Agustus 2017

INILAH DUNIA

Inilah dunia, ladang cobaan bagi kita yang mengaku sebagai hamba-Nya yang beriman. Entah cobaan berupa kenikmatan atau berupa kesusahan. Inilah dunia, yang kata Nabi adalah penjara bagi manusia beriman. Dan  surga bagi mereka kaum kuffar.

Inilah dunia, dimana Allah tiada akan membiarkan seorang hamba-Nya mengaku beriman begitu saja  tanpa memberi sekian ujian-ujian kehidupan. Sebagai hamba kita hanya berkewajiban untuk menjawab persoalan yang disuguhkan itu dengan benar dan tepat. Sehingga Allah ta'ala akan memberi kita trophy pahala atas kelulusan kita dalam menghadapinya.

Maka saat kita mendapati ujian kenikmatan, jawaban tepat untuk mengisinya adalah dengan bersyukur. Dan saat kita mendapati ujian kesusahan, maka bersabar adalah solusi yang harus selalu di aplikasikan.

Sabar dan syukur, sebuah bahasan yang amat sering mampir di telinga kita. Akan tetapi keduanya memang merupakan kunci untuk meraih sukses di kehidupan fana ini hingga akhirat. Ibarat burung, kedua hal ini adalah sayap yang mampu mengantarkan kita terbang melesat menuju keridloan Allah subhanahu wata'ala.

Suatu saat mungkin kita di uji dengan hal yang membuat kita merasa takut, atau merasa lapar, kekurangan harta benda, kehilangan orang yang di cintai, atau bisnis yang kita bangun hancur, dan lain sebagainya. Maka bersabarlah, sebab akan ada kejayaan bagi mereka yang mampu menerapkannya.

Suatu saat barangkali kita mendapatkan kesenangan. Uang dan harta benda banyak. Anak-anak tumbuh sehat dan cerdas. Bisnis berjalan lancar dan berkembang. Prestasi akademik dan karir berjalan mengagumkan.  Dunia terasa di genggaman. Maka ingatlah bahwa semua itu sejatinya adalah ujian.

Ujian yang menuntut kita bersyukur dan senantiasa tawadlu'. Sadar bahwa semua itu adalah semata-mata anugerah dari-Nya. Bukan sama sekali buah dari usaha kita.

Kita harus terus berusaha memanfaatkan sarana yang ada untuk memaksimalkan ibadah dan pengabdian kita kepada Allah. Menyenangkan-Nya dengan jalan menyenangkan makhluk-Nya. Ya, kita harus menancapkan keyakinan, bahwa di balik nikmat yang Allah berikan, ada hak yang di miliki orang lain untuk turut serta merasakannya.

Kita harus tahu bahwa banyak diantara para sahabat Rasul yang justru takut dikala mendapatkan nikmat berupa kesenangan. Sebab banyak orang-orang terdahulu sukses melewati ujian kesusahan akan tetapi gagal melalui ujian kesenangan.

Maka jika ujian kesenangan sedang menerpa kita, deraskanlah ibadah dan taqarrub kita. Sehingga Allah akan membuat kita merasa ringan kala ujian kesusahan datang menghadang.

Akan tetapi seringkali kesenangan membuat kita lalai dan terbuai sehingga ibadah yang kita lakukan terasa berat. Sehingga kita seringkali baru sadar dan menyesal, ketika Allah mengganti nikmat itu dengan kesusahan.

Kita baru menyesal ketika sarana yang banyak diberikan Allah hilang satu persatu. Lalu selepas itu kita merengek-rengek meminta belas kasihan Allah, berharap kenikmatan itu di kembalikan lagi untuk kesekian kalinya. Ketahuilah bahwa Nabi bersabda:  Ta'arrof ilallah firrokho' ya'rifka fissyiddah. Kenali Allah di kala senang, Allah akan mengenalimu di kala susah. Maka bagaimana Allah akan mengenali kita kala susah jika dikala senang kita lupa dengan-Nya.

Allahumma, jangan jadikan musibah kami dalam agama kami. Jangan jadikan pula dunia sebagai target utama kami dan puncak pengetahuan kami.

Kaliwungu, 22 Agustus 2017





Tidak ada komentar:

Posting Komentar