Sabtu, 26 Desember 2020

RENUNGAN AKHIR TAHUN


Waktu terus saja bergulir. Kita tidak akan bisa menghentikannya. Sementara sisa usia yang Allah ta'ala berikan untuk hidup di dunia ini semakin berkurang, semakin menipis. Entah tinggal berapa lama lagi jatah kita untuk menikmati hidup di dunia ini.

Dunia adalah tempat untuk menanam. Siapa yang menanam ia suatu saat akan memanen. Maka kita harus berusaha mengisi waktu di dunia ini untuk menanam benih-benih kebaikan. Menyirami dan merawatnya hingga suatu saat kita bisa memanen buahnya kelak di akhirat.

Tak terasa. Kita sudah berada di ujung tahun 2020. Tahun dimana kita banyak belajar arti dari kesabaran. Kesabaran dalam menghadapi ujian pandemi yang hingga kini belum juga usai entah sampai kapan. Ada yang banyak kehilangan pekerjaan, kehilangan orang-orang terdekat. Kehilangan guru, kyai dan ulama. Dan lain-lain.

Sebuah tahun yang mengajarkan kita keikhlasan. Mengajarkan kita tentang kepasrahan. Menyadarkan kita akan kelemahan diri. Mengajarkan kita untuk selalu berusaha bangkit meski dalam kondisi sulit. Tahun yang mendidik kita menjadi pribadi yang kuat dan dewasa. Pribadi yang tahan banting, tidak rapuh diterjang badai kehidupan.

Waktu cepat sekali berlalu. Sepertinya baru saja kemarin kita mengikuti berita-berita seputar pandemi covid-19. Kini kita sudah tiba di sisa-sisa hari. Sudah hampir setahun tak terasa hidup dengan kebiasaan baru.

Kita perlu merenung dan berkontemplasi di sisa-sisa hari ini. Apa yang sudah kita lakukan di setahun yang lalu. Berapa buku yang sudah berhasil kita baca. Ilmu apa saja yang sudah kita pelajari. Apa yang berbeda dari diri kita sekarang dan setahun kemarin. Apakah kita semakin dekat dengan Allah? Atau justru semakin kesini kita semakin kehilangan arah. Jauh dari Tuhan. Dan hanya membuang-buang waktu dengan kegiatan yang tak jelas dan tak produktif. Apakah ilmu yang kita pelajari benar-benar membuat kita semakin takut kepada Allah. Atau justru kita semakin jumawa dengan ilmu kita. Semakin membuat kita besar kepala. Lupa siapa yang memintarkannya.

الوقت إن لم تقطعه قطعك
نفسك إن لم تشغلها بالحق شغلتك بالباطل
Waktu jika kau tidak memenggalnya, ia yang akan memenggalmu.
Dirimu, jika kau tak sibukkan ia dengan perkara hak, ia akan membuatmu sibuk dengan perkara batil.

Dua pesan yang amat penting ini, perlu bersama kita renungkan. Waktu akan habis begitu saja, padahal tugas dan kewajiban terkadang tak terbatas. Maka kita harus menentukan arah berlari. Kemana titik akhir dari semua yang kita usahakan. Jangan-jangan kita ingin berlari ke sebuah tempat ternyata karena satu dan lain hal kita oleng tersesat hilang arah. Dengan mempertimbangkan waktu yang ada yang sangat terbatas. Apa yang bisa kita lakukan dan usahakan?

Dan pesan kedua, tentang pentingnya membuat sibuk diri kita dengan melakukan kegiatan-kegiatan positif yang beragam. Sehingga tidak ada waktu kosong yang membuat kita mengisinya dengan hal-hal tak berguna bahkan negatif. Orang-orang sufi teramat memperhatikan hal ini. Sehingga tiada waktu melainkan disana terdapat wirid yang harus dibaca. Demi menghindari waktu kosong yang membuat kita melakukan hal-hal negatif.

Hari-hari ini juga penting untuk memikirkan apa yang hendak ingin kita capai di tahun mendatang. Buku apa saja yang harus selesai kita baca. Ilmu baru apa lagi yang ingin kita pelajari. Kegiatan-kegiatan apa yang ingin kita lakukan. Target-target kedepan. Harapan-harapan. Ambisi-ambisi. Rencana-rencana. Mimpi-mimpi.

Bukan berarti panjang angan-angan akan tetapi tentang ikhtiar mengisi waktu dengan sebaik mungkin. Ketika kita lengah, ketika kita terjatuh, ketika kita menjadi malas, lalu kita buka lagi rencana-rencana itu, merenungkannya, kita kembali bangkit melawan diri yang malas, melawan hawa nafsu yang mengajak kepada kejelekan. Mengusahakannya agar terlaksana dan terwujud. Sehingga kita tidak menyesal dengan waktu yang bergulir. Karena kita sudah berhasil mengisinya dengan sebaik mungkin. Menanam benih-benih kebaikan untuk dinikmati di hari esok di surga-Nya bersama para Nabi, Siddiqin, Syuhada' dan orang-orang shalih. Ya Robb aamiin.

Semoga hal-hal yang membuat menyesal dan segala bentuk khilaf dan alpa yang kita lakukan di sepanjang tahun 2020, tak lagi kita ulangi di tahun baru mendatang. Semoga Allah ampunkan segala macam dosa yang kita tumpuk dan lakukan sepanjang tahun ini. Dan kita di beri taufiq untuk tidak mengulanginya lagi.

Kita sambut tahun baru dengan semangat berapi-api. Harapan baru. Mimpi-mimpi segar. Menjadi tahun yang penuh berkah. Penuh dengan kebaikan dan ridlo Tuhan. Semoga pandemi segera berakhir.

Cairo, 26 Desember 2020



Tidak ada komentar:

Posting Komentar