Barangkali kita tidak cocok dengan seseorang. Sebab satu dan lain hal. Akan tetapi semestinya kita tetap harus punya sifat inshof. Mengakui kebenaran orang itu dalam sebuah permasalahan yang memang dia benar dalam hal itu.
Sebab pada dasarnya sudah seringkali kita di ajarkan untuk menilai isi bukan bungkus. Unzur ma qool wala tanzur man qool. Lihat apa yang dikatakan bukan siapa yang mengatakan. Akan tetapi dalam prakteknya kita tak jarang menilai siapa bukan apa.
Jika yang berbicara adalah figur yang kita cintai, satu fikroh dengan kita, satu almamater atau satu organisasi. Kita akan percaya begitu saja meski dalam kenyataannya apa yang ia sampaikan tak bisa dibenarkan syara'. Atau mencari-cari dalil pembenaran. Atau menakwil redaksi pembicaraan.
Namun jika yang berbicara kebenaran adalah musuh yang tak kita sukai. Kita sulit sekali mengakui bahwa dalam hal ini dia memang benar menurut syara'. Meski dalam banyak hal ia salah.
Imam Malik sudah menegaskan: Kullun yu'khodzu min kalamihi wa yurodd illa shohibu hadzal qobr. Semua orang di terima dan di tolak pendapatnya, kecuali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Maka kita perlu membiasakan menilai apa bukan siapa. Jika itu salah meski yang mengatakan adalah figur separtai atau semanhaj maka dengan gentle kita katakan salah. Dan jika itu benar meski itu datang dari kubu yang berseberangan, kita dengan inshof mengakui bahwa hal itu benar.
Karena seringkali sebab kebencian kita tak mau mengakui kebenaran dan kebaikan lawan. Menganggap semua yang datang darinya adalah salah dan keliru. Dan sebab cinta buta kepada seseorang, membuat kita selalu membenarkan atau mencari pembenaran sebuah hal yang nyata-nyata keliru.
Allah telah memberi tolak ukur dalam menilai sesuatu. Yakni dengan syara'. Maka benar salah ukurannya adalah syara'. Ada kalanya sebuah hal kelihatannya berbeda, akan tetapi semuanya bisa di nilai benar menurut syara', maka tak perlu lagi di perdebatkan. Setiap orang boleh mengambil apa yang maslahat bagi dirinya. Namun disana ada hal-hal tertentu dimana kita tak boleh berbeda. Sisi yang ketika kita berbeda kita maka otomatis di nilai salah. Yaitu sisi yang disepakati Ulama'. Maka dalam titik ini kita harus satu suara.
Ada sisi-sisi baik yang perlu kita tiru dan pelajari dari semua orang. Satu ormas atau bukan. Bahkan satu agama atau bukan. Berusaha memahami jalan berfikir mereka menjadikan kita bisa lebih mampu menghormati perbedaan dan mengakui kebenaran. Sebab masing-masing di cipta dengan modal kelebihan dan kelemahan. Maka dalam menyempurnakannya kita perlu mengambil yang jernih dan meninggalkan yang keruh. Khudz ma shofa wa da' ma kadar.
20 November 2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar