Kita tak pernah bisa memilih akan dilahirkan dari perut siapa. Dan aku beruntung dilahirkan di tengah keluarga ini.
Ayah dan Ibu dengan cinta yang tiada batas. Membesarkan kami dengan penuh kasih sayang dan perhatian.
Sosok ayah yang sabar dalam mendidik putra-putrinya. Sosok yang lebih suka mengalah berkaitan dengan urusan dunia. Tidak pernah menggunakan kekerasan dalam mendidik. Sosok pengayom yang bersahaja.
Ibu dulu pernah bercerita, terkadang ayah tak punya uang sama sekali, tapi ia tak pernah sama sekali kehilangan cinta. Uang yang ia miliki hanyalah apa yang ada di saku baju yang ayah taruh di belakang pintu. Terkadang ibu perlu membeli sesuatu, lalu merogohnya dan tak menemukan apa-apa. Terkadang ayah harus meminta bisyaroh madrasah untuk di bayarkan duluan sebab kebutuhan mendesak. Atau tak jarang pada akhirnya ayah harus berhutang. Ibu pernah sampai menjual perhiasan miliknya saat ayah tak punya uang sementara ada anaknya yang jatuh sakit.
Maka dengan cinta sesuatu yang sederhana akan terasa luar biasa, sesuatu yang sulit bisa dirasakan bahagia. Sebab hati yang penuh dengan syukur, ridlo dengan pemberian Tuhan.
Ibuku adalah sosok ibu yang tegar, kuat dan pantang putus asa. Ia adalah sosok pekerja keras. Istri yang amat patuh dengan suaminya. Istri yang ridlo dengan pemberian suami walau sedikit. Sosok ibu yang mau membantu meringankan beban ayah dengan berjualan jajan dan makanan, atau apa saja.
Sosok ibu yang selalu menjaga lisannya dari menyumpahi anaknya. Jika melihat anaknya bandel, yang ia lakukan hanyalah mendekatkan diri dengan Tuhan, memohon agar hati anaknya di bukakan, memohon agar anaknya terus dalam penjagaan.
Ibu yang selalu tanpa bosan mendoakan kebaikan bagi seluruh anaknya di setiap shalat. Ibu yang selalu husnuzhon dan positif thinking. Ibu yang selalu bersikap adil kepada anak-anaknya. Mencintai kami dengan kadar yang sama tanpa pilih kasih. Selalu menghendaki kedamaian dan kerukunan. Sosok yang lebih suka mengalah. Menyambung tali yang putus.
Ibuku bukan anak dari kyai. Ia hanya santri desa biasa. Ia tidak hafal al-Qur'an juga tidak bisa membaca kitab arab. Tapi ia adalah ibu yang hebat, pendidik yang luar biasa. Ia bisa mendidik kami hingga kami menjadi orang-orang penghafal al-Qur'an dan pengkaji kitab. Ia bisa mendidik kami sehingga kami bisa menjadi orang yang mencintai ilmu dan ulama'.
Ibuku sosok yang tegar, dulu ayah meninggal dunia dalam usia yang masih relatif muda. 51 tahun. Meninggalkan kami 7 putra putri yang masih kecil-kecil. Usiaku waktu itu masih sekitar 13 tahun. Dan kakakku sulung masih baru beberapa tahun menikah. Tapi ibu mampu terus optimis mendidik dan membesarkan kami seorang diri. Seorang wanita yang umumnya bertabiat lemah, tapi ibuku kuat. Ibu selalu percaya bahwa anak-anak membawa rizqinya masing-masing. Ibu selalu percaya bahwa Allah akan membukakan jalan bagi mereka yang mau berusaha.
Ibuku sosok yang suka berbagi kepada tetangga, membuat makanan ala kadarnya untuk dibagikan. Sosok yang suka menghormati tamu. Jika ada tamu dari luar kota, ibuku selalu mempersilahkan kepada mereka makan ala kadarnya, atau menginap di kamar atas. Ibuku sosok yang luwes dalam menerima tamu. Ia bisa mengganti logat menjadi logat Cirebon ketika berbicara dengan orang Cirebon. Agar mereka merasa lebih akrab.
Ibu mendidik kami menjadi pribadi yang tidak manja. Aku masih ingat, kakak adikku perempuan, sebelum berangkat sekolah mereka membantu ibu membungkusi nasi bungkus. Dan menyuruh untuk menjualnya di sekolah dengan jajan yang lain. Atau menyuruh melakukan beberapa jenis pekerjaan rumah yang lain kepada kami. Sekarang kakakku menangis kalau mengingat didikan ibu yang membentuknya menjadi pribadi yang mandiri sehingga bisa membuka catering.
Ibuku bukan sosok yang gengsian. Tidak mau terjun ke pasar atau apa. Aku dulu sering pagi-pagi sekali sebelum berangkat ke sekolah mengantarkannya ke pasar, membeli kebutuhan untuk masak atau untuk di jual.
Ah, amat sulit menceritakan sosok ibu. Ia adalah sosok yang luar biasa. Dan aku beruntung aku terlahir di dunia ini dari rahimnya.
Dan aku beruntung memiliki saudara, kakak dan adik yang sangat menyayangiku, sangat peduli dan perhatian, tak pernah lelah untuk terus mendukung dan mendoakan. Mereka kini menjadi saudara, orang tua, sahabat, sekaligus guru bagiku.
Kami telah berikrar untuk terus hidup guyup dan rukun sampai kapanpun. Menjaga hubungan persaudaraan dan persahabatan sampai kapanpun. Saling membantu ketika ada dari kami yang kesulitan atau membutuhkan bantuan. Saling berbagi kebahagiaan. Saling menanggung beban bersama. Senasib sepenanggungan. Jika ada masalah, jalannya adalah musyawarah. Berusaha terbuka di depan. Tanpa menyisakan unek-unek di belakang. Kami juga berikrar supaya kelak jika ada di antara kami yang meninggal dunia, kami akan selalu mengirimkan doa dan bacaan al-Qur'an. Kelak di hari kiamat, agar saling menggenggam tangan memberi bantuan.
Mungkin kini kami tidak bisa berkumpul setiap hari. Tapi doa-doa kebaikan antara kami, selalu kami langitkan, di setiap shalat atau di setiap kesempatan. Jika jasad kelihatannya berjauhan, namun sebenarnya ruh dan hati kami selalu bertautan.
Ya Allah, sebagaimana Engkau memberi nikmat, maka tambahkanlah, dan sebagaimana Engkau menambahkan, maka berkahilah, dan sebagaimana Engkau berkahi, maka kekalkanlah.
Cairo, 6 Desember 2020
*Di tulis dengan linangan air mata
Tidak ada komentar:
Posting Komentar