Al hur yakfi bil isyarah, wal Abd yuqro'u bil Asha. Seorang yang merdeka cukup diberitahu dengan memakai isyarat. Sementara hamba sahaya harus dipukul dulu dengan tongkat...
Seorang santri semestinya melatih kepekaannya sampai ia faham dengan hanya diberi isyarat. Sebab ada banyak hal yang tak mudah di sampaikan oleh orang lain dengan bahasa terus terang.
Lebih-lebih jika ia hendak masuk dalam dunia khidmah. Ia harus faham apa yang dikehendaki seorang Guru meskipun sang Guru tak mengucapkan satu patah kata sekalipun.
Ia bisa membaca bahasa tubuh sang Guru, membaca diamnya, tatapan mata, isyarat tangan, isyarat tubuh, sehingga ia mengerti apa yang dibutuhkan atau yang diinginkan oleh gurunya.
Memahami isyarat teramat penting. Dan itu merupakan tanda kepekaan seseorang. Orang-orang yang tidak peka tidak akan bisa memahami isyarat. Orang-orang yang tak memahami isyarat, ia takkan mampu menyajikan khidmah atau layanan terbaiknya.
Padahal seorang pemimpin suatu kaum adalah pelayan kaum itu. Maka orang yang tak mampu memahami isyarat, tak layak menduduki posisi pemimpin. Karena seorang pemimpin harus peka terhadap kebutuhan dan keinginan orang-orang yang dipimpinnya. Sementara mereka terkadang tidak akan pernah menyampaikan semua itu dengan cara terus terang.
Lalu bagaimana jika seseorang sudah diberitahu dengan panjang lebar, lalu ia tetap saja tidak paham? Memang menyedihkan jika kita dipertemukan dengan orang semacam ini. Menguras energi dan kesabaran. Ia ibarat hamba sahaya atau delman yang hanya faham ketika kita memakai pukulan. Jika orang semacam ini menjadi pemimpin, maka bisa dipastikan jika orang yang berada dibawah naungannya akan banyak mengeluh meski hanya di dalam hati.
Tak heran, demikian pentingnya kepekaan. Sering ada yang menyatakan bahwa kepekaan diatas ilmu. Ad-Dzauq Fauqol Ilm. Kepekaan ini bisa dilatih dengan memperhatikan sesuatu paling kecil sekalipun. Semisal ketika ada tamu, lalu kita hendak menyuguhkan secangkir teh, kita putar tangkai cangkir itu hingga berada di hadapan tamu, sehingga mudah baginya untuk mengambil cangkir itu kala meminumnya. Atau dengan memutar sandal tamu sehingga ketika ia pamit, ia bisa langsung dengan mudah mengenakannya. Semua itu hanya bisa dipraktekkan bagi mereka yang punya kepekaan yang baik. Memahami sesuatu meski tanpa sepatah kata.
Akhir catatan: Terkadang kita hanya ingin dimengerti tapi tak mau mengerti, ingin dipahami padahal sulit memahami, ingin didengar tanpa pintar mendengar, ingin diperhatikan padahal enggan memperhatikan, ingin ditanya kabar padahal tak sekalipun bertanya kabar. Sepertinya mereka ini golongan yang memiliki tingkat kepekaan yang menyedihkan, semoga bukan kita. Aamiin
Cairo, 24 Januari 2021
Tidak ada komentar:
Posting Komentar