Jumat, 29 Januari 2021

AMAL ANDALAN

Seseorang yang di beri taufiq untuk melakukan amal terkadang dihadapkan pada penyakit merasa dalam beramal. Merasa lebih baik dan lebih sholih dari yang lain. Perasaan sombong tanpa sadar menyembul keluar dari dirinya.

Jika ia rajin jamaah ke masjid lalu melihat orang lain yang tak pernah jamaah, muncul perasaan meremehkan. Jika ia bisa bangun malam, lalu melihat orang lain terlelap dalam tidur. Hadir perasaan bangga diri. Jika ia rajin berpuasa, ia memandang orang lain dengan perasaan merendahkan.

Dalam hal ini, Ibn Athaillah as-Sakandary telah mengatakan:
رُبَّ معصية أورثت ذلاً وإنكساراً
خيرٌ من طاعة أورثت عزاً وإستكباراً
Banyak kemaksiatan yang melahirkan rasa rendah dan menyesal lebih baik dari ketaatan yang mewariskan tinggi hati dan sombong.

Masing-masing dari kita biasanya diberi taufiq dalam menjalankan amal tertentu. Ada orang yang sangat ringan membantu orang lain, meski shalatnya lebih banyak sendirian, berat melangkahkan kaki ke masjid. Sebaliknya ada orang yang ringan sekali pergi ke masjid, tapi amat berat membantu orang lain. 

Ada orang yang sangat rajin berangkat ke majlis taklim, tapi amat sulit dimintai infaq atau proposal. Sebaliknya ada yang ringan sekali ketika dimintai infaq atau proposal meski ia tidak pernah datang ke majlis taklim.

Ada yang ringan dalam bangun malam. Ada yang ringan dalam berpuasa. Ada yang ringan dalam membaca Al-Qur'an. Ada yang ringan dalam bersalawat. Ada yang ringan dalam membaca buku. Ada yang ringan dalam memenuhi hajat saudaranya. Ada yang ringan bersedekah. Dan lain sebagainya. 

Kita di buat ringan dalam melakukan sebuah ibadah tidak untuk memandang orang lain rendah ketika ia belum dapat melakukan seperti apa yang kita lakukan. Meski tentu saja kita dianjurkan untuk mengajak mereka dalam kebaikan, terus mendoakan agar mereka diberi taufiq. 

Kita memang dituntut agar memiliki amal andalan. Amalan yang kita harap semoga bisa mendatangkan ridlo Allah. Seperti apa yang dilakukan Sayyidina Bilal bin Rabah, yang selalu menjaga wudlu dan shalat dua rakaat setelah wudlu. Sehingga suara sandalnya terdengar oleh Nabi di surga. Maka semoga ibadah yang kita merasa ringan menjalankannya itu yang bisa menjadi amal andalan dan mendatangkan ridlo Allah.

Kita terkadang masih sering memandang rendah para pelaku maksiat. Padahal ketika mereka bermaksiat dan muncul rasa hina,  bersalah dan menyesal di dalam hati. Hal itu justru lebih baik daripada kita yang suatu ketaatan justru mewariskan rasa bangga diri dan memandang rendah orang lain.

Padahal kita tidak pernah tahu, bisa jadi semua amal yang kita perbuat tidak ada yang mendatangkan ridlo Allah, hangus sia-sia. Dan bisa jadi rasa hina dan bersalah dari mereka pelaku maksiat mendatangkan ridlo Allah sehingga diterima taubatnya.

Kita tidak pernah tahu amal apa yang berhasil membuat Allah ridlo. Bisa jadi sebuah hal yang remeh yang kita lakukan justru membuat Allah ridlo. Sementara haji, shalat, puasa dan lain-lainnya tak bisa membuat Allah ridlo. 

Imam Syafi'i mendapat ridlo Allah hanya karena shalawat yang ia tulis di kitab al Umm miliknya. Imam Ghozali mendapat ridlo Allah hanya karena membiarkan seekor lalat yang kehausan meminum air di wadah tintanya. 

Kita juga tidak boleh meremehkan dosa sekecil apapun. Karena kita tidak pernah tau. Bisa jadi dosa yang kita pandang kecil justru yang membuat Allah murka.

Cairo, 30 Januari 2021

Tidak ada komentar:

Posting Komentar