Kamis, 28 Januari 2021

Aku Menemukan Sosok Ayah Yang Lain

Masih terngiang di benak, betapa saat di tinggalkan sosok ayah, adalah saat terberat dalam hidupku. Saat itu aku masih SMP, namun ada yang diam-diam menyayangiku, membasuh sakitnya dengan kasih sayang, dia adalah sosok seorang paman.

Pamanku punya cinta yang besar terhadap keponakannya. Dari mula sekolah di SMP, aku tak pernah bayar SPP. SPPku selalu sudah dibayarkan bahkan sampai bulan-bulan setelahnya. Lalu disetiap tahun ajaran baru datang, kami selalu diajak ke mall untuk membeli sepatu baru. Moment tahunan itu masih selalu membekas di memoriku. Waktu itu aku selalu sengaja mengambil sepatu termahal. Tapi paman selalu siap membayarkan. 

Aku juga masih ingat, dikala mondok di Lirboyo, tak jarang paman melalui kakakku memberiku tambahan uang. Waktu lebaran tiba, paman selalu membagikan angpau merah kesukaan. Terlebih dikala aku pamit belajar ke Mesir, entah berapa ratus dollar yang paman berikan, aku sampai lupa nilainya. 

Belum lama di Mesir, aku kehilangan permata hatiku yang lain, sosok ibu, wanita tegar yang punya rasa sabar yang besar, merawat dan membesarkan kami tanpa ayah. Hari itu hari yang amat berat bagiku. Tapi paman selalu hadir menguatkan kami, keponakan-keponakannya. 

Waktu itu aku pulang ke rumah. Ternyata hari dimana aku berangkat ke Mesir adalah hari terakhir aku melihat raut wajah ibuku. Sampai di rumah, ibu sudah di kebumikan. Hari yang berat sekali. Tapi paman selalu memotivasi, dan menguatkan, katanya apapun yang terjadi, kamu harus sampai selesai dalam studi. Karena itu adalah salah satu harapan ibumu.

Selepas kembali ke Mesir, tak lama kemudian pamanku meminta nomor rekening, aku tak menyangka paman mengirimiku uang yang amat banyak, 10 juta rupiah, demi mendukung studiku di Mesir. 

Paman masih selalu sering menanyakan kabarku, disela-sela kesibukannya. Aku yakin nama kami selalu ada di tiap doa-doa yang paman langitkan. Doa-doa indah untuk kesuksesan keponakan-keponakannya yang sudah seperti anaknya sendiri.

Paman bagiku layaknya embun yang menyegarkan. Oase bagi kami yang masih haus kasih sayang. Memang benar, paman adalah figur ayah, selepas ayah. 

Aku takkan pernah bisa membalas budi paman. Aku hanya mampu untuk terus berdoa agar semoga paman selalu diberi kesehatan dan umur panjang. Hajat-hajatnya terkabulkan, urusannya dilancarkan. Agar selalu dapat membimbing kami anak-anak yang semenjak belia sudah kehilangan sosok ayah. 

Salam cinta yang teramat dalam untuk paman dari negeri Kinanah.


_Cairo, 28 Januari 2021_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar