Suatu saat selepas Talaqqi, seperti biasa aku segera bergegas berjalan menuju Mahattah. Disana telah menunggu dengan gagah bis merah favorit Masisir /80. Akupun menaikinya. Mencari tempat duduk kosong di suatu sudut. Tak lama kemudian aku dikejutkan dengan sebuah pemandangan. Bahwa Syeikhku yang tadi aku pertama kali belajar kepadanya turut menaiki bis tua renta itu bersama istri dan anaknya yang masih balita. Aku bergegas menghampirinya bersalaman dengannya.
Di sepanjang jalan kenyataan itu membuatku terus saja membathin. Bagaimana seorang Syeikh di sebuah institusi bergengsi dunia dengan keilmuannya yang teramat tinggi, terlebih dalam spesialisasi bidang yang digeluti, melewatkan hidup dengan begitu sederhana. Menjalani kehidupan dengan apa adanya. Ia tak merasa gengsi kemana-mana membaur dengan orang-orang pada umumnya dengan naik bis dengan tempat duduk terbatas yang seringkali mengharuskan seseorang agar rela berdiri di sepanjang perjalanan.
Ternyata masih banyak ditemui kehidupan bersahaja di luar sana. Ternyata masih banyak orang-orang dengan hidup apa adanya. Ternyata masih banyak orang-orang yang tak menuruti gengsi untuk menjadi seperti apa. Ternyata benar, ilmu teramat cukup membuat seseorang mendapatkan kemuliaan hakiki di dunia sebelum akhirat.
Barangkali sudah mulai sulit ditemui orang-orang sederhana dan apa adanya dizaman ini. Kau lihat terkadang seseorang selepas menamatkan pendidikannya dan menjadi orang yang ditokohkan, seringkali harus malu dan gengsi jika kemana-mana memakai angkutan umum. Tak jarang ada saja yang sampai memaksakan diri untuk kredit dan mencicil mobil agar mendapatkan anggapan di masyarakat. Agar mendapatkan label sebagai santri sukses. Oh disini masyarakat tahu bahwa ilmu yang membuat mulia bukan harta.
Syeikhku pernah menyampaikan, bahwa seringkali Allah ta'ala mendesain kehidupan seorang guru sebagai sebuah pelajaran nyata untuk santri. Jika barangkali santri di hadapkan dengan sebuah masalah dalam kehidupan dan hendak mengadukannya kepada guru. Ia akan urung kala tahu bahwa kehidupan yang ia jalani lebih mudah ketimbang apa yang dilalui oleh gurunya.
Ia pernah bercerita bahwa gurunya ada yang hingga usia 90 tahun masih istiqamah mengajar kemana-mana hanya dengan menaiki angkutan umum.
Suatu kesempatan beliau ia juga pernah bercerita, ia bertamu ke rumah gurunya. Disana ia di hadapkan dengan sebuah kenyataan bahwa Istri Sang Guru adalah seorang yang tak bisa di sebut sebagai Shalihah. Sampai ia mengatakan pada gurunya: "Kenapa njenengan memasukkan seekor sapi di rumah ini, kenapa njenengan tidak ceraikan saja dia?" Maka gurunya menjawab: "Ya Akhi, kalau saya ceraikan bagaimana nanti nasibnya, sementara dia sudah tua renta. Cukuplah Allah menjadikan hatiku lapang dan sabar. Sehingga hal ini adalah sebuah rezeki baginya."
Maka benar sekali pesan Gus Yasin waktu beliau berkunjung ke Mesir. Seorang santri harus mampu mempelajari kehidupan seorang guru dan meneladaninya. Jangan hanya mengambil ilmunya saja.
_Ya Rabb, bukakan hatiku untuk melihat hikmah-hikmah-Mu_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar