Jumat, 17 November 2017

*MARI BERBAHAGIA*

(58). قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا
يَجْمَعُونَ
Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan".

Berbahagialah sebab Allah telah mengkurniakan manusia termulia untuk kita, seorang penyeru nan tampan. Rasulullah Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam sebagai Rahmat bagi sekalian alam.

Maka rahmat apa lagi yang lebih besar ketimbang hadirnya Sang Kinasih yang mencahayakan seluruhnya yang gelap. Yang membuat indah dan elegan setiap yang tak karuan. Kurnia macam apa lagi yang lebih di idamkan ketimbang hadirnya sosok yang penuh dengan cahaya keindahan.

Maka hadirnya Sang Kinasih adalah Rahmat tiada dua. Maka wujudnya ke dunia adalah kurnia yang di nanti siapa saja. Maka berbahagialah dan bersyukurlah atas lahirnya insan terpilih yang dinanti selalu syafaatnya.

Dahulu kita tahu bahwa Sang Kinasih telah meneladankan cara berbahagia dan bersyukur. Dikala Ia melihat pada hari Asyuro' orang-orang Yahudi berpuasa sebagai ekspresi bahagia dan syukur sebab Nabinya diselamatkan Allah dari kejaran Fir'aun. Ia berfikir bahwa Umat Islam lebih berhak berbahagia dan bersyukur ketimbang mereka. Sehingga Umat di anjurkan berbahagia dengan berpuasa.

Kita juga sudah tahu bagaimana Sang Kinasih mengajarkan cara berbahagia. Dikala seorang sahabat bertanya, kenapa hari Senin Rasul berpuasa. Maka Sang Kinasih menjelaskan bahwa Senin adalah hari dimana ia di lahirkan. Sehingga ia berpuasa sebagai ekspresi bahagia dan syukur kepada-Nya.

Maka bagaimana Umat tiada meneladani cara yang sudah diteladankan itu. Maka bagaimana umat tiada ingin berbahagia dan bersyukur menyambut kelahiran Nabinya. Nabi yang mereka cintai lebih ketimbang cinta mereka kepada diri sendiri. Nabi yang mereka rindukan lebih ketimbang rindu seorang perantau terhadap keluarga dan kampung halaman.

Kami meneladanimu, Duhai Rasulku. Dengan ekspresi bahagia yang mungkin berbeda-beda. Dengan cara bersyukur yang beraneka warna. Dengan meneladani Sirah Indahmu. Dengan memperbanyak Shalawat dan Madaih kepadamu. Menggelar Maulidmu di sudut-sudut cinta, merenungkan kembali semua tentang dirimu. Dan dengan cara yang lain wujud syukurku dengan hadirmu.

Engkau adalah manusia sempurna yang menjelma Ajaran agama. Engkaulah Al-Qur'an yang berjalan di atas bumi. Menjelaskan pada kami halal dan haram, baik dan buruk, haq dan bathil.Menjelaskan semuanya sehingga kami bisa meraih Ridlo Ilahi.

قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ
Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan.

Siapa lagi selain Engkau, Duhai Rasulku. Cahaya yang datang itu. Engkaulah cahaya itu, ya Rasul, yang di datangkan Allah wujud Rahmat-Nya yang teramat agung. Maka melihat dirimu adalah impian para perindu.

_Faidah Lepas Dars Jumat bersama Fadlilat Maulana As-Syeikh Muhanna. Gami' Al Azhar, 17 November 2017_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar